Langit Jingga

Langit Jingga
Anfal


__ADS_3

...~Happy Reading~...


"Sayang .. kamu kenapa?" tanya Langit panik.


"Pe—perut Jingga, aaahhh!" Jingga langsung memekik dan mencengkram tangan Langit dengan sangat erat. Bahkan kini dahi nya sudah ber kucuran keringat sebesar biji jagung.


"Kita ke rumah sakit!" Langit pun segera mengangkat tubuh Jingga dan membawa nya berlari menuruni tangga.


Jingga terus merintih menahan sakit luar biasa pada bagian inti nya. Bahkan kini Langit semakin di landa kepanikan kala tangan nya merasakan sesuatu yang basah di bawah sana. Pikiran Langit semakin kacau, ia sudah tidak bisa berfikir jernih apalagi positif. Tidak bisa.


Langit terus berteriak memanggil supir untuk mengantarkan nya ke rumah sakit. Dan sepanjang perjalanan, Langit tak henti henti nya berdoa dan menguatkan Jingga, bahkan ia sampai ikut menangis.


Sementara Jingga, ia hanya diam tanpa ekspresi. Hanya sesekali ia menahan napas serta menggigit bibir bawah nya dan mencengkram tangan Langit erat.


"Sayang ... ku mohon bertahan lah," gumam Langit di sela kepanikan nya.

__ADS_1


"Pak, lebih cepat!" sentak Langit begitu melengking hingga membuat sang supir pun menganggukkan semakin ikut panik.


"Uuhhh!" Jingga kembali membuang napas nya kasar ketika merasakan sakit itu semakin bertambah.


"Ayah ... Bunda ... " gumam Jingga begitu lirih di sela rintihan nya, namun masih bisa di dengar oleh Langit.


"Sayang, ku mohon bertahan."


Untuk pertama kali nya, Jingga melihat Langit panik dan menangis sampai seperti ini. Sebelumnya, Jingga belum pernah melihat suaminya menangis bahkan terisak sampai seperti kali ini.


"Sangat! Mas sangat mencintai Jingga. Mencintai kalian, mas mohon bertahanlah," kata Langit di sela isak tangis nya dan terus memeluk tubuh istri nya.


Kini, posisi nya Jingga masih berada di pangkuan Langit. Laki laki itu begitu enggan membiarkan Jingga untuk duduk sendiri, ia ingin selalu menggendong Jingga dan memangku nya di dalam mobil.


"Bi—ru ... " gumam Jingga lalu semakin merasa lemas dan menutup matanya hingga tak sadarkan diri.

__ADS_1


"Sayang .. Jingga. Hey, Sayang? bangun Jingga!" Langit terus memanggil Jingga dan mengusap usap wajah Jingga dengan cukup kasar untuk membangunkan nya. Namun nihil, Jingga sudah pingsan dan tak sadarkan diri.


Langit semakin marah dan membentak supir nya agar lebih cepat menambah kecepatan. Hingga beberapa saat kemudian, mobil yang di tumpangi Langit dan Jingga sudah sampai di sebuah rumah sakit yang begitu besar. Lebih tepat nya, rumah sakit terdekat di rumah nya yang tak lain, dimana tempat dokter Zara praktek.


Langit segera turun dari mobil setelah supir nya membukakan pintu. Langit berlari menggendong Jingga menuju UGD dengan pakaian yang sudah berlumur dengan cairan berwarna merah. Beberapa perawat sudah menghampiri Langit dan menawarkan Brankar. Namun, Langit menolak dan tetap kekeuh ingin menggendong Jingga.


Bahkan laki laki itu tidak malu bila terlihat menangis dan menyedihkan di depan banyak orang.


"Astaga, Jingga kenapa?" pekik dokter Zara yang kebetulan sedang berjaga di ruang UGD.


"To—tolong istri ku," kata Langit terbata di sela isak tangis nya. Ia pun segera membaringkan tubuh Jingga di atas tempat tidur.


"Silahkan keluar dulu." usir dokter Zara menyuruh Langit keluar.


"Tapi selamatkan mereka. Jangan biarkan keduanya terluka, ku mohon!" Langit sampai mengantup kan kedua tangan nya di depan wajah nya dengan di sertai derai mata memohon kepada dokter Zara agar menyelamatkan anak dan istri nya.

__ADS_1


"Bantu berdoa," balas dokter Zara lalu ia segera menyuruh suster agar mengantarkan Langit keluar, sementara dirinya segera mengeluarkan alat medis nya untuk memeriksa kondisi Jingga.


__ADS_2