Langit Jingga

Langit Jingga
Asal muasal Bintang


__ADS_3

...~Happy Reading~...


Setelah lama keduanya bercengkrama di dalam kamar. Kini, saat jam makan malam, Jingga dan Langit pun keluar dan ikut bergabung di meja makan. Cukup lama, Langit menatap kedua anak nya dengan senyum merekah di wajah nya. Ia tidak menyangka bahwa kini ternyata dirinya sudah benar benar menjadi seorang ayah. Hingga tanpa sadar, membuat air mata nya menetes namun ia segera menghapus nya agar tidak ada yang melihat.


"Asa, harus pakai sayur. Biar sehat kaya kakak! oke!" kata Bintang yang memberikan sebuah wortel di piring Asa.


Langit kembali tersenyum melihat ke akraban dua anak nya. Meskipun mereka tidak sedarah, namun keduanya saling menyayangi, terlebih Bintang begitu bisa mengayomi sang adik.


'Dulu, aku menemukan Bintang tergeletak di pinggir jalan. Saat itu, umur nya sekitar satu tahunan lebih gak pasti juga. Wajah nya terdapat banyak luka, begitupun tubuh lain nya. Keadaan nya sangat memprihatinkan, tapi dia tidak menangis. Dia masih terus berjalan sambil mencari mama nya. Gak ada orang yang nolong, karena itu sepi di dekat taman hutan sana. Awal nya, aku akan kabur dari rumah kak Nathan karena aku melihat keberadaan kak Zara, Tapi, ketika melihat keadaan Bintang. Akhirnya aku putusin untuk kembali ke rumah itu, agar Bintang segera mendapatkan perawatan dari kak Zara. Aku sayang sama Bintang. Dan setelah aku merawat Bintang beberapa hari, aku baru tahu bahwa ternyata aku hamil Asa. Maaf, bukan maksud aku tidak ingin memberitahu mas Langit, hanya saja saat itu keadaan ku—"

__ADS_1


'Mas, mengerti. Yang penting, sekarang kamu sudah disini, dengan membawa seorang pangeran dan putri cantik. Kita rawat mereka bersama sama.'


Langit menghela nafas nya pelan, ketika kembali mengingat penjelasan Jingga beberapa waktu yang lalu. Namun, Langit juga bersyukur, dengan keberadaan Bintang, serta Asa sehingga membuat Jingga semakin lebih kuat. Jingga mulai bisa mengontrol emosi nya, terlebih Langit mendengar dari Raihan, bahwa ketika penyakit Jingga kambuh, ia pernah melakukan bunuh diri. Namun kembali lagi, Zara menyadarkan Jingga bahwa masih ada Bintang dan Asa yang membutuhkan nya, sehingga membuat Jingga kembali tersadar dan bisa melewati hari hari berat nya.


"Ayah kok disitu terus sih? Memang nya, Ayah gak lapar?" tanya Bintang seraya memiringkan kepala nya ke samping melihat sang ayah yang hanya berdiri menatap ke arah nya dan Asa.


Langit langsung tersenyum dan menghapus air mata nya. Ia berjalan perlahan menghampiri kursi kedua anak nya.


"Nati malam, Asa mau bobo sama ayah sama bunda. Bunda gak boleh tutup pitu lagi!" kata Asa menatap sang bunda membuat Jingga langsung menganggukkan kepala.

__ADS_1


"Ayah gak di ajak?" tanya Langit dengan wajah yang di buat seolah bersedih.


"Sama ayah juga. Sama ayah, sama bunda, sama kakak sama Asa, gitu!" balas Asa yang begitu menggemaskan membuat siapapun merasa ingin mencubit bibir dan pipi nya. Terlebih, ketika anak itu berbicara dengan mulut yang penuh dengan makanan, sehingga semakin terlihat gemas.


"Kakak siapa? kak Raihan juga di ajak? asikk!" seru Raihan ikut menimpali ucapan Asa.


"No no no!" kata Asa langsung mengangkat sendok dan mengarahkan kepada Raihan, "Kak Lai sudah besal. Gak boleh bobo sama Bunda sama kakak Bintang. Kakak Lai halus bobo sendili! Nati Asa aduin sama Papa loh!" ancam anak kecil itu hingga membuat Raihan berdecak dan mendengus.


"Benar, kak Raihan sudah besar. Jadi gak boleh bobo sama perempuan ya," sakit Langit membenarkan ucapan anak nya.

__ADS_1


"Tapi Asa gapapa. Kan Asa masih kucil," balas Asa dengan senyum lebar nya, "Kakak Lai jadi kucil lagi aja," imbuh nya polos.


__ADS_2