
...~Happy Reading~...
...*...
...*...
...*...
"Mas, main bola nya, di tunda dulu yah," gumam Jingga begitu lirih sambil terus memeluk tubuh sang suami.
Beberapa saat yang lalu, Langit sudah mengganti sprei nya dengan yang baru, sementara Jingga membersihkan diri. Marah? kecewa? kesal? semua bercampur menjadi satu dalam benak Langit. Namun dirinya hanya bisa diam dan mengumpat sang author lucknat, karena untuk kesekian kali menguji keimanan nya.
"Hemm!" jawab nya singkat sambil memejamkan mata.
Kini, posisi keduanya saling berpelukan di tempat tidur. Dan dengan mudahnya, Jingga langsung memejamkan mata ketika sudah di peluk oleh Langit. Seolah tidak memiliki rasa bersalah sedikitpun, bahkan meminta maaf pun tidak.
Langit sudah berusaha untuk memejamkan mata dan tidur. Namun ternyata begitu sulit, hanya matanya saja yang terpejam, namun jauh dalam lubuk hatinya ia begitu marah dan kesal. Terlebih kini, kepalanya terasa cukup pusing karena hasrat nya tidak tersalurkan.
"Ckckck!" Langit hanya mampu berdecak melihat istrinya tertidur begitu pulas, ia pun segera beranjak dari tempat tidur dan menuju kamar mandi.
( Jangan tanyakan mau apa, karena sejatinya Mommy juga gak tau 🙈🙈)
...🍁🍁🍁...
Pagi harinya, Jingga memilih untuk ikut Langit ke kantor. Karena dirinya sudah tidak boleh datang ke sekolah oleh suaminya, jadilah kini dirinya datang ke kantor dan menemani Langit bekerja.
"Jingga, apa kamu gak capek?" tanya Maxim mengerutkan dahinya ketika sejak tadi ia melihat Jingga yang tak berhenti makan.
"Kan Jingga cuma diem aja dari tadi. Capeknya kenapa?" kata Jingga balik bertanya dengan raut wajah bingung.
"Kamu memang diam, tapi mulut kamu terus bekerja. Astaga!"
Jingga tidak menjawab lagi, ia kembali memasang earphone nya dan menyalakan musik sambil membaca novel kesukaan nya.
__ADS_1
Ketika sedang asik dengan bacaan nya, tiba tiba saja pintu ruangan Langit di buka oleh seseorang, namun bukan Maxim atau Gery.
"Baby!" teriaknya ketika memasuki ruangan.
Meskipun telinga Jingga sedang di sumpel oleh earphone, namun musiknya tidak terlalu kencang, sehingga ia mampu mendengar suara orang.
"Dimana ada babi?" pekik Jingga tiba tiba langsung berlari menghampiri Langit yang sedang fokus bekerja, "Jingga takut!"
Tentu saja, Jingga bukanlah gadis bodoh. Ketika ada seorang wanita yang memasuki ruang kerja laki laki dan memanggil dengan seperti itu, sudah di pastikan bahwa itu bukanlah wanita sungguhan, melainkan siluman.
'Ckck tak sia sia aku membaca novel selama ini!' umpat Jingga dalam hati dan menatap sinis pada tamu suaminya.
"Siapa kamu?" hardik wanita itu menatap Jingga dengan tatapan tajam.
"Ngapain kamu kesini lagi?" tanya Langit menatap wanita itu tanpa menjawab pertanyaannya.
Wajahnya yang tadinya kesal melihat keberadaan Jingga, kini kembali bersinar sumringah dan hendak menghampiri Langit.
"Stopp! jaga jarak!" seru Jingga merentangkan tangan nya di depan Langit.
"Harusnya saya yang nanya. Tante ini siapa? seenaknya aja manggil orang dengan sebutan babi. Asal tante tau, mas Langit itu manusia, bukan babi!" cetus Jingga begitu kesal dan marah menatap wanita tersebut.
"What! sepertinya telinga kamu tidak berfungsi dengan baik!" sindir wanita itu dengan sinis.
"Dan sepertinya, otak serta mata tante juga tak berfungsi dengan baik." balas Jingga tak kalah sinis.
"Kamu!" Wanita itu hendak melayangkan tamparan pada Jingga, namun dengan cepat Langit menangkapnya dan menghempaskan nya begitu saja.
"Sudah ku katakan! kamu tidak perlu kemari lagi!" sentak Langit yang sudah kehabisan kata kata.
"Tapi kan aku—"
"Tunggu!" Jingga menatap suami nya dengan tatapan sedikit bingung, "Lagi? ma—maksudnya, sebelumnya dia sering kemari?" tanya Jingga dengan bibir sedikit bergetar.
__ADS_1
"Dia hanya bertamu!" jawab Langit dengan raut wajah datar nya, "Lebih baik kamu pergi!" imbuh nya dengan memberikan tatapan tajam pada wanita tersebut.
"Baiklah, kali ini aku akan pergi. Tapi besok aku akan datang lagi!" ucap wanita itu lalu memilih mengalah dan pergi.
"Siapa dia mas?" tanya Jingga langsung menatap suaminya, "Mas selingkuh dari Jingga?"
Kini, mata Jingga sudah mulai berkaca kaca. Ia begitu takut bila ternyata Langit sama seperti Bagas, yang meninggalkan nya hanya demi sebuah selangkangaan.
"Jangan pikirkan, kamu baca novel lagi saja!" jawab Langit setelah menghela nafas nya lega.
"Dia siapa Mas?" tanya Jingga sekali lagi, namun kini suaranya lebih tinggi dari sebelumnya, "Kamu jahat Mas hiks hiks hiks!"
Jingga langsung duduk berjongkok di depan Langit. Ia menyembunyikan wajahnya pada kedua lutut dan tangan nya. Berbagai pikiran negatif muncul dalam benak Jingga. Terlebih ketika semalam Langit belum jadi bermain bola bersama nya. Apakah jangan jangan, selama ini Langit sering bermain bola dengan wanita lain, makanya laki laki itu betah tidak mengajaknya bertanding selama ini.
Jingga kembali teringat akan sebuah cerita di novel yang dia baca. Dimana seorang laki laki yang tega berselingkuh hanya karena kurang puas di ranjang bersama istrinya. Mengingat hal itu, seketika membuat tangis Jingga semakin pecah, hingga membuat Langit di landa kebingungan.
"Jingga... hey, dengerin aku dulu. Jangan berfikir macam macam, aku bukan laki laki seperti itu!" ucap Langit yang ikut berjongkok dan memenangkan Jingga.
"Bulsyiet!" pekik Jingga langsung mendorong tubuh Langit hingga membuatnya terjengkang ke belakang, "Mas pasti selingkuh dari Jingga. Mas Langit sama saja seperti Bagas hiks hiks! mas jahat!"
"Jingga, denger dulu! Jingga!" teriak Langit segera beranjak bangkit dan mengejar Jingga yang hendak pergi keluar.
"Aku jelasin semuanya, kamu tenang dulu. Oke!" kata Langit setelah berhasil memeluk Jingga dari belakang. Meskipun nafasnya sedikit memburu karena panik, namun ia lega karena Jingga belum sempat kabur darinya.
Langit mengajak Jingga dan membawanya pergi ke sebuah kamar yang biasa di pakai Langit untuk istirahat. Ia mendudukkan Jingga di sisi tempat tidur sementara dirinya memilih duduk berlutut di lantai.
Langit menggenggam tangan Jingga dengan sangat lembut, "Nama nya Sisil, dia hanya teman sekolah ku dulu, dan dia kemari untuk menawarkan bisnis kerja sama."
"Kerjasama membuat anak babi!" saut Jingga begitu ketus, bahkan kini ia memalingkan wajahnya karena enggan menatap Langit.
"Dia memang seperti itu sejak dulu. Tapi dia tahu bahwa aku sudah menikah dengan mu!"
"Kalau dia sudah tahu, dia tidak akan mungkin memanggilmu babi begitu." seru Jingga masih tak Terima, "Dasar siluman babi!" umpat nya kesal.
__ADS_1
Langit hanya mampu menghela nafas nya kasar ketika mendengar Jingga yang terus mengumpat Sisil. Memang benar, kedatangan Sisil memang untuk mengajaknya bekerja sama, namun cara yang di gunakan oleh Sisil sangat tidak di sukai oleh Langit. Sehingga membuat Langit selalu menolak Sisil. Langit berfikir, semakin lama bila ia mengusir Sisil, wanita itu akan jera dan menyerah, namun ternyata ia salah. Justru Sisil malah semakin berani bahkan mengancam nya.