Langit Jingga

Langit Jingga
CHAPTER 18


__ADS_3

Acara pernikahan kolega Langit dan Papi Haris berlangsung meriah. Walaupun banyak omongan-omongan yang tidak enak di dengar dan nyakitin hati.


"Lang, kamu langsung pulang?" Tanya Papi Haris.


"Papi jadi ketemu sama Om Johan?" Tanya Langit kembali.


"Mami sih katanya mau ikut. Jingga ikut gak? Buat nemenin Mami, maksud Papi." Ujar Papi.


"Langit belum tanya Jingga, Pi. Coba nanti Langit tanya deh. Jingga masih di toilet." Terang Langit.


Tak lama Jingga datang bersama Mami mertua. Mereka entah sedang membahas apa hingga tertawa geli sekali.


"Seneng banget ketawanya. Ngobrolin apa sih?" Tanya Papi Haris kepada Mami Rini.


"Itu lho, Pi, hahaha... itu... hahaha... apa namanya, hahaha...." Mami Rini tertawa terpingkal-pingkal.


"Apa sih? Papi gak ngerti, Mi." Ujar sang Papi yang bingung karena melihat Mami Rini tertawa terus.


"Itu Pi, tadi kan Jingga sama Mami lagi ke toilet. Terus ada Shella juga ternyata di dalam toilet___" Belum sempat Jingga meneruskan, Mami sudah menyambar.


"Terus Shella maki-maki Jingga. Shella bilang, Jingga itu ngerebut Langit dari dia. Gara-gara Jingga, Langit nikahnya sama Jingga bukan sama Shella. Pokoknya omongannya nyelekit banget deh, Pi. Sampe Shella menampar Jingga____" Belum sempat Mami Rini meneruskan omongannya, Langit langsung menyambar.


"Apa??!! Ditampar??!!" Ucap Langit dengan wajah merah padam karena emosi.


"Mas..." Ujar Jingga dengan suara lembutnya dan mengelus lengan Langit.


"Iya, Lang. Mami juga tampar balik Shella. Karena sudah keterlaluan. Saat ia kesal karena Mami tampar, ia menghampiri Jingga ingin melampiaskan amarahnya."


"Namun, saat it Jingga berhasil untuk menghindar, Shella justru jatuh terjungkal di kamar mandi. Karena lantai kamar mandinya cukup licin. Kalau kamu melihat adegannya pasti bakalan tertawa terpingkal-pingkal." Jelas Mami kepada Langit dan Papi Haris dengan tawa riangnya.


Mami yang saat itu masih tertawa geli langsung diajak Papi ke parkiran mobil untuk segera menemui kolega Papi Haris, Om Johan.


"Dek..." Panggil Langit kepada Jingga.


"Iya, Mas..." Jawab Jingga lembut.


"Sebelah mana yang tadi ditampar?" Tanya Langit yang mengusap lembut pipi Jingga.


"Di pipi sebelah kiri. Tadi sempat merah. Tapi sekarang udah enggak kok." Ujar Jingga dengan seulas senyumnya.


Langit yang melihat merah di pipi sang istri sungguh sangat geram dengan Shella. Ia meraih Jingga dan memeluknya erat.


"Mas Langit... saranghae... hehehe..." Ucap Jingga yang memecah suasana mencekam di hati Langit.


"Kamu tuh ya... tau aja suaminya lagi kesel. Adaa... aja bahasanya. Hahaha..." Ujar Langit dengan senyum sumringahnya.


"Jadi gimana?" Tanya Jingga dengan senyum pasta giginya.


"Apanya yang gimana?" Tanya Langit kembali, bingung.


"Itu, aku kan bilang saranghae, Mas Langit gimana?" Tanyanya.


"I'm always love you, sweety." Ucap Langit yang membuat Jingga tersenyum riang.


"Jingga, gak ada alasan buatku untuk tidak mencintaimu, sayang." Sambung Langit.


"Kalau aku belum ada tanda-tanda hamil dan belum di segerakan mendapat momongan, apa masih sama rasamu ke aku, Mas?" Tanya Jingga sambil menunduk dengan wajah sendunya.


"Dek, dengar Mas." Ucapnya sambil mengangkat dagu Jingga.


"Seperti apapun kamu, Mas tetap ada buatmu. Ada atau belum adanya seorang momongan untuk kita tidak menjadi sebuah pengukur cintaku sama kamu, dek." Jelas Langit.


"Aku takut, Mas Langit berpindah ke lain hati. Hiks, hiks, hiks..." Ujar Jingga dengan tangisnya.


"Sayanggg... gak bisa. Wujud dasarnya hatiku itu sudah tercipta buat kamu. Gak bisa di hapus gitu aja. Gak ada niat sedikitpun di aku Jinggaa... untuk pindah ke lain hati." Terang Langit.


"Lagian juga, hati siapa yang mau dipindahin?" Ujarnya yang membuat tangis Jingga berubah menjadi tawa.


"Hahaha... Mas Langiit... nyebelin banget deh. Orang lagi sedih gini juga. Bikin ketawa lagi !" Ucap Jingga dengan mencibikkan bibirnya namun sesekali di selingi bersama senyumnya.


"Hahaha... lagian ngapain pake sedih sih. Lihat senyum aku aja, bisa menghilangkan kesedihan. Hahaha..." Tawa Langit.


"Hahaha... iya, iya. Iya aja dah. Sshp..." Tawa Jingga berhenti karena merasakan perih di pipinya.


Langit yang melihat Jingga merasa sakit seperti itu, langsung mencium pipi sang istri bertubi-tubi.


"Mas Langiit... iih... ntar kalau ada kamerawan sama kamerawati gimana? Hahaha..." Ujar Jingga yang mengundang tawa Langit.


******


"Mi, Om Johan itu masih saudara sama keluarga Brawijaya, ya?" Tanya Jingga kepada Mami yang sedang duduk di bangku taman.


"Bukan, Ngga. Om Johan itu sekedar partner bisnis aja. Orangnya si baik, sopan, tutur bahasanya lembut. Tapi..." Ucapan Mami menggantung antara bingung ingin menceritakannya bagaimana.


"Tapi apa, Mi?" Tanya Jingga yang ikutan bingung karena tak mengerti dengan ucapan Mami Rini.


"Tapi, dia homo." Ujar Mami Rini dengan menunjukkan gigi berjajar putihnya.


"Oh... homo." Jawab Jingga santai.

__ADS_1


"Kok kamu biasa aja deh? Gak takut emang?" Tanya Mami Rini.


"Enggak. Emang Om Johan hantu. Pake ditakutin. Hehehe..." Ujarnya.


"Yee... ntar kalau di naksir suamimu gimana? Gak takut emang?" Tanya Mami Rini dengan mencibikkan bibirnya.


"Takut, pasti lah Mi. Tapi apa Mas Langit punya sejarah suka sama laki-laki? Enggak kan, Mi?"


"Ya enggak sih... tapi kan jaga-jaga aja, Ngga. Kamu tenang banget sih." Ucap Mami Rini.


"Karena temenku juga ada, Mi. Yang homo seksual seperti itu. Hidup damai-damai aja sih sejauh ini. Dia juga punya kecengannya sendiri. Baik banget lagi." Terang Jingga.


"Tetap waspada lho, Ngga. Takutnya dia menggoda suamimu. Mami jadi serem. Padahal sebelumnya Mami sudah bilang sama Papi kalau sudahi saja kerjasama dengannya. Tapi Papi bilang gak apa. Yasudah, Mami diam. Gak tau apa-apa juga tentang urusan kantor." Jelas Mami.


"Iya, Mi. Jingga juga selalu tanya ke Mas Langit kok. Apa yang sedang di kerjakannya, dengan siapa partnernya. Bukan kepo sih, Mi. Sekedar tau saja suamiku lagi sibuk nyuekin akunya karena apa. Hahaha..." Jelas Jingga.


"Hahaha... iya, iya, bener. Kadang Mami juga sebel. Dicuekin gitu sama Papi. Makanya dulu Langit sempet tidak terurus karena Mami sama Papi sibuk ngantor. Jadilah dia anak yang pemberontak." Ucap sang Mami.


"Mami bersyukur sekali, Langit bisa bertemu dengan perempuan yang baik, sopan, cerdas, cantik pula, jago masak juga. Makasih ya sayangku Jingga. Nak, kalau tak ada kamu, Mami gak tau apa yang terjadi sama Langit." Ujar Mami dengan senyum sendunya.


"Jingga juga sangaattt berterima kasih sama Mami dan Papi. Yang sudah mau menerima keadaan Jingga apa adanya dan menerima semua gunjingan orang-orang tentang Jingga." Ujarnya yang sudah mulai berkaca-kaca.


"Jinggaaa... Nak. Kamu, rela jadi istrinya Langit aja Mami sudah bersyukur. Sangat bersyukur. Jangan pernah bosan dengan Langit ya, sayang. Meski terlihat cuek dan terkesan dingin, Langit sebenarnya lembut kok hatinya." Ujar Mami


"Iya, Mi. Mas Langit selalu buat Jingga bahagia. Insya Allah, Jingga gak bosen sama Mas Langit. Kalau makin cinta kayaknya iya, deh. Hahaha..." Ucap Jingga yang mengundang tawa si Mami.


"Mi..." Panggil Jingga lembut.


"Iya, nak." Jawab Mami.


"Maafin Jingga belum ada tanda-tanda untuk kasih Mami dan Papi keturunan ya. Jingga, akan terus berusaha membuat Mami dan Papi bahagia." Jelas Jingga yang sudah mulai berkaca-kaca matanya.


"Jingga... dengar Mami."


"Mami dan Papi tidak pernah menuntutmu untuk harus segera mempunyai keturunan. Jangan dengarkan lambe-lambe yang berucap diluar sana. Biarkan mereka berkata apapun." Terang Mami Rini.


"Yang penting buat Mami, kamu dan Langit bahagia, itu sudah cukup. Lagipula kalian ini masih baru menikah. Santai saja. Banyakin pacaran berdua. Jalan-jalan sana yang jauh sama suamimu. Kalian sudah honeymoon kan?" Jelas Mami.


"Hehehe... belum Mi." Jawab Jingga dengan cengiran kudanya.


"Ya Allah !! Seriusan belum honeymoon??!!" Tanya Mami Rini yang cukup terkejut.


"Ssst... Mi, nanti ganggu Papi sama Langit lagi meeting." Ucap Jingga.


"Habis Mami kesel banget. Langit ngapain aja coba? Dari awal nikah sampai sekarang belum honeymoon. Urusan kantor terus yang dipentingin. Benar-benar deh tuh anak. Biar Mami nanti yang omeli dia." Ujar Mami penuh dengan emosi meluap-luap.


"Oh, iya. Mami lupa. Itu kan urusan rumah tangga kalian ya... hehehe... maaf." Ujarnya sambil nyengir kuda.


"Hahaha... gak apa Mi. Tapi memang Jingga juga masih padet jadwalnya. Jadi belum nemu waktu yang pas aja." Terang Jingga.


"Iyaa... gak apa. Pokoknya, Jingga gak perlu memikirkan hal-hal yang tidak penting. Omongan-omongan orang tentang keluarga Brawijaya atau tentangmu. Tak usah di dengar. Bahagiakan dirimu, Nak. Jika kamu bahagia, maka kamu bisa membahagiakan suamimu juga." Jelas Mami Rini.


"Makasih ya, Mi. Jingga sayang banget sama Mami. Pengen banget ngobrol lamaaa gitu sama Mami. Kapan ya? Hehehe..." Ujar Jingga sembari memeluk sang Mami mertua.


"Main dong ke rumah Mami yang bertengger di Negeri Paman Sam itu. Kan Mami sudah kembali lagi kesana." Terang Mami Rini.


"Iya, Mi. Kapan-kapan Jingga mampir kesana ya.." Ucapnya dengan seulas senyum.


Setelah melewati waktu meeting yang cukup lama dan panjang, akhirnya Papi Haris dan Langit keluar dari ruang meeting. Wajahnya sih sumringah sekali.


"Hai, sayang..." Panggil Langit kepada Jingga.


"Hai, Mas. Sudah selesai meetingnya?" Tanya Jingga yang mencium punggung tangan Langit. Salim.


"Udah, dek. Ikut Mas sebentar, yuk. Mas mau kenalin sama Om Johan. Mi, ayok. Udah di tunggu Papi diluar." Ajak Langit kepada Jingga dan Mami.


"Om Johan, kenalin. Ini Jingga, istri saya." Ucap Langit yang mengenalkan Jingga kepada Johan.


"Oh, wow... Langit, you are so smart. You choose beautiful lady ? Hahaha..."


"Hi, I'm Johan. Nice to meet you." Ujar Om Johan.


"Hallo, Om. Saya Jingga. Istrinya Langit." Ucap Jingga kepada Om Johan dengan menangkupkan kedua tangannya. Bukan makhramnya.


"Pinter kamu, Lang. Nyari istrinya. Hahaha..." Ujar Om Johan.


"Hahaha.... si om, bisa banget. Makasih lho..." Jawab Langit dengan senyum sumringahnya.


"Okay, Langit, Mr. Haris, I think enough for our meeting tonight. Let's meet up next thursday. See you. Bye Jingga." Ujar Om Johan.


"Okay, Johan, see you on thursday. Bye. Be careful." Ucap Papi dan Langit.


"Ayo, Mi. Kita pulang." Ujar Papi.


"Jingga, Langit, Papi sama Mami pulang dulu ya. Kalian hati-hati di jalan." Ucap Mami sambil memeluk Jingga.


"Mami juga ya, sama Papi hati-hati di jalan." Ucap Jingga dengan seulas senyum manisnya.


"Langit, jaga Jingga baik-baik !" Ujar sang Papi.

__ADS_1


"Siap komandan !!" Jawab Langit dengan gaya hormatnya yang mengundang tawa Papi, Mami dan Jingga.


Mami dan Papi pulang ke rumahnya untuk beberapa hari setelah istirahat cukup. Mereka kembali terbang ke Negeri Paman Sam.


*****


"Mas, emang kalau renang harus banget cuma pake celana pendek ya?" Tanya Jingga kepada Langit yang saat itu hanya menggunakan celana pendek dan bertelanjang dada.


"Enggak juga sih... bisa pake baju juga." Jawab Langit.


"Terus kenapa gak pake baju aja?" Tanya Jingga kembali.


"Gak seru."


"Kok gak seru?"


"Gak keliatan seksi. Hahaha..."


"Hahaha... dasar. Kirain kenapa."


"Bukan... kalau pakai kaos itu berat, dek. Ruang geraknya terbatas. Bisa sih, pakai baju renang. Tapi kok ya gerah banget. Jadi, Mas pakai celana aja deh." Jelas Langit.


"Tapi kalau berenang diluar rumah gak boleh gini ya. Harus pakai baju." Ucap Jingga dengan mencibikkan bibirnya.


"Hahaha... iya, sayang... buat kamu aja begininya." Ujarnya. Maksud Langit renang telanjang dada buat Jingga aja.


"Dek, kamu kapan liburnya?" Tanya Langit yang duduk di pinggir kolam bersama Jingga.


"Pertengahan bulan ini juga udah libur. Kenapa, Mas?" Tanya Jingga kembali.


"Adek, mau honeymoon kemana?" Tanya Langit sambil menatap lekat mata Jingga.


"Kok tiba-tiba nanya honeymoon, Mas?" Tanya Jingga menyelidik.


"Gak apa. Keinget aja kalau aku belum ajak kamu honeymoon." Ucap Langit dengan wajah sendunya.


"Keinget apa diingetin sama Mami? Hahaha..." Ujar Jingga dengan tawanya.


"Dua-duanya. Hehehe..." Ucap Langit dengan cengiran kudanya.


"Mami bilang apa sama Mas Langit?" Tanya Jingga kepada Langit.


"Cuma bilang, ajak kamu liburan. Gitu. Terus aku baru inget kalau kita belum honeymoon yang sesungguhnya. Hehe... maaf ya sayang..." Ujarnya yang sambil menunjukkan cengirang kudanya.


"Honeymoon sesungguhnya? Emang ada yang boongan? Hahaha..." Ucap Jingga dengan tawanya.


"Kan dari kemarin kita jalan-jalan ada ekornya terus, dek..." Ujarnya dengan senyum.


"Ekor? Buaya? Hahaha..." Ucap Jingga yang mengundang tawa Langit


"Hahaha... kok jadi ngelantur sih ngomongnya." Ujar Langit yang lalu mendekatkan tubuhnya kepada Jingga.


Langit mengecup bibir Jingga sembari memegang tengkuknya. Jingga? Mengikuti alur Langit saja.


"Mas Langit, mau apa?" Tanya Jingga yang tau betul suaminya sedang ingin sesuatu yang intim.


"Mau berduaan aja sama kamu." Ujarnya sambil memeluk Jingga.


"Adek, mau honeymoon kemana? Mas kan tadi nanya, adek belum jawab." Tanya Langit.


"Mau yang di dalam Negeri atau luar Negeri?" Lanjut Langit.


"Kita ngobrolnya di dalam aja ya, Mas. Gimana?" Ajak Jingga yang merasa dingin karena di kolam renang.


"Jadi gimana?" Tanya Langit yang sudah rapi setelah bersih-bersih dan mandi sehabis renang.


"Mas Langit maunya kita kemana?" Tanya Jingga yang duduk di sofa panjang dan besar di kamarnya.


"Lho, kok malah nanya lagi sama Mas. Kamu maunya kemana, sayang..." Ujar Langit yang ikut menyusul duduk disamping Jingga.


"Bingung Mas. Hehehe..." Jawab Jingga dengan senyum lebarnya.


"Selama ada Mas Langit, aku bahagia." Ujar Jingga sambil memeluk mesra Langit yang dibalas dengan kecupan mesra di pipi Jingga.


"Sayangnya Mas kok manja banget ini ya... hm? gemesss..." Ucap Langit yang sambil mencubit gemas hidung Jingga.


"Hehe... kangen sama kamu. Dari kemaren di ajak jalan-jalan tapi nyambi kerja. Hahaha..." Ujar Jingga dengan menengadahkan kepalanya melihat Langit sambil tertawa.


"Maaf ya, dek... beberapa hari ini dicuekin." Ucap Langit seraya mengecup pelipis Jingga.


"Iya, Mas. Gak apa. Aku juga kalau lagi sibuk, suka lupa sama Mas Langit. Maaf ya... sekarang, saat ini, aku maunya sama kamu. Gini aja. Sudah buatku bahagia." Ujar Jingga yang memeluk Langit dan menyandarkan kepalanya didada suaminya.


"I love you" Ucapnya sambil mengecup puncak kepala Jingga.


"Love you too my husband." Jawabnya sambil mencium punggung tangan Langit.


"Kita ke Maroko mau gak?"


******

__ADS_1


__ADS_2