
...~Happy Reading~...
Sejak tadi, Langit terus berjalan mondar mandir sambil berdoa untuk keselamatan istri dan calon anak nya. Kedua sahabat nya dan juga papa Danu juga sudah datang di rumah sakit untuk menemani Langit. Namun sejak tadi Langit masih terus merasa cemas dan sangat ketakutan.
Ia seolah dejavu belasan tahun yang lalu. Dimana dirinya menunggu Biru yang sedang kritis. Dan kini, ia juga merasakan kepanikan luar biasa menunggu keadaan Jingga.
"Tenang lah Lang, aku yakin Jingga kuat kok," ujar Maxim menepuk bahu Langit.
"Bener Lang, aku yakin bahwa Jingga bisa melewati semua ini, " imbuh Gerry juga memberikan semangat untuk Langit.
"Kenapa Jingga, bisa sampai seperti ini?" tanya papa Danu dengan raut wajah penuh kekecewaan.
__ADS_1
Bagaimana tidak, ia baru tahu bahwa menantunya sedang hamil kemarin, maka dari itu papa Danu segera menyelesaikan pekerjaan nya di luar kota agar bisa segera bertemu Jingga. Dan tadi, ketika dirinya hendak menaiki mobil dari bandara, papa Danu sudah mendapatkan kabar dari Gery bahwa Jingga masuk ke rumah sakit lagi. Bahkan kondisi nya sangat tidak baik baik saja, padahal Jingga baru keluar beberapa hari yang lalu.
"Jingga sudah tahu tentang Biru, Pa, " jawab Langit seraya menghela napas dengan berat. Ia mengusap wajah nya dengan kasar, lalu mendudukkan diri nya di lantai dengan tangan yang ia tumpu kan pada lutut. "Jingga melihat kamar belakang yang berisi barang barang tentang Biru, " imbuh nya menyesal.
"Langit tidak ingin menyalahkan siapapun, karena ini memang kesalahan Langit. Cepat atau lambat Jingga memang akan tahu tentang Biru. Tapi—" Langit kembali menghela napas nya dalam.
"Tapi kalau saja papa tidak pernah berniat menjodohkan ku dengan Sisil, tentu semua tidak akan terjadi separah ini. Berulang kali Langit katakan, dia bukan wanita baik. Dan gara gara dia, langit dan Jingga bertengkar." jelas Langit mengepalkan kedua tangan nya dengan kuat.
"Tidak mudah bagi Langit untuk melupakan Biru. Tapi Langit juga sudah sangat mencintai Jingga. Langit gak mau terjadi apapun sama dia, Langit sangat mencintai nya Pa, " gumam Langit begitu lirih dan terisak.
Tidak ada yang menjawab ucapan Langit. Ketiga laki laki dewasa itu semuanya terdiam. Memang benar, tidak mudah berada di posisi Langit. Tapi, seharusnya Langit juga bisa menghapus kenangan nya dengan Biru. Bisa saja Langit menyimpan kenangan itu cukup dalam hati. Tidak seharusnya Langit masih menyimpan barang barang nya bersama Biru dulu, sementara dirinya sudah memiliki Jingga.
__ADS_1
Terkecuali Langit belum menikah atau memiliki pasangan lain, maka tak apa bila Langit masih menyimpan benda dan foto foto itu. Tapi kini—
Entahlah, bahkan Maxim dan Gery pun sampai tidak bisa berkata apapun.
Cklek!
Akhirnya suara pintu UGD terbuka. Membuat keempat laki laki itu segera beralih menghampiri dokter Zara yang membuat Maxim, Gery dan pak Danu terkejut dan menganga.
"Biru!" gumam ketiga nya menatap dokter Zara tak percaya.
"Bagaimana keadaan istri ku?x" tanya Langit dengan raut wajah datar nya, tanpa menghiraukan wajah bingung kedua sahabat nya dan juga papa nya.
__ADS_1
"Maaf," ujar dokter Zara menundukkan kepala seraya menghela napas nya dengan berat.