
Hari demi hari, minggu pun berlalu begitu juga dengan bulan. Hubungan antara Jingga dan Langit semakin hari semakin terlihat harmonis. Jingga pun juga sudah mulai kuliah di kampus yang berada tak jauh dengan kantor Langit.
Sepulang kuliah, Jingga akan pulang ke kantor, barulah nanti pulang ke rumah bersama dengan Langit saat jam kantor berakhir. Maxim dan Gery pun juga ikut bahagia melihat kedekatan Langit dan Jingga, yang pada akhirnya Langit bisa mencintai wanita lain selain Biru.
Namun, adanya Jingga di kantor terutama di ruangan Langit. Membuat Maxim benar benar seperti uji nyali. Karena kesabaran nya benar benar sedang di pertaruhkan saat ini.
"Terimakasih om Max, baik deh!" kata Jingga sambil memakan ice cream di tangan nya dengan raut wajah yang begitu bahagia.
Sementara Maxim, ia hanya tersenyum getir dan sedikit bernapas lega karena pada akhirnya kali ini tidak salah lagi. Entah sudah berapa kali dirinya bolak balik ke restauran untuk membelikan ice cream sesuai kemauan Jingga. Pasti akan selalu ada saja yang kurang, hingga pada akhirnya Maxim hampir menyerah dan melakukan Video Call, agar Jingga bisa request serta melihat cara pelayan resto membuat pesanan nya.
"Langit, pokoknya hari ini aku akan pulang cepet!" bisik Maxim dengan napas memburu, ia sedang menahan geram nya menghadapi Jingga. Jadi Maxim akan memilih untuk pulang lebih cepat.
__ADS_1
"Baiklah, tapi besok pagi kau harus datang lebih awal. Kau urus sisa nya, biar malam ini aku coba selesaikan," kata Langit menghela napas nya dengan kasar, ia memijit mijit tengkuk nya sambil menatap istrinya yang tengah menikmati es krim di sofa.
Langit tahu, dengan apa yang di rasakan oleh Maxim. Jadi Langit mencoba memahami nya dan membiarkan agar dia pulang lebih awal. Bukan lebih awal sebenarnya, karena ini memang sudah hampir memasuki jam pulang kantor. Hanya saja, malam ini rencana nya Langit akan lembur karena dua hari lagi dirinya harus pergi ke London untuk menandatangi kerjasama dengan klien nya di sana.
"Sayang, kamu gak capek?" tanya Langit mendekati Jingga ketika melihat wanita itu sudah menghabiskan es krim nya.
"Enggak, mas mau lembur ya?" tanya Jingga seolah tahu dari pertanyaan Langit karena ini bukan kali pertama Langit mengajak nya untuk menemani di kantor lembur.
"Iya, kamu istirahat di kamar saja dulu ya. Mas janji akan cepet," ujar Langit.
"Dia sudah pulang," jawab Langit lalu ia hendak beranjak dan kembali ke kursi nya. Ia mendekati Jingga hanya ingin mencium nya saja untuk penyemangat lembur nya.
__ADS_1
"Huh, enak banget sih jadi dia. Mas kan bos nya, kenapa dia malah udah pulang sementara mas harus lembur!" seru Jingga berdecak kesal.
"Pekerjaan dia lebih banyak dariku, Sayang," ucap Langit berusaha memberikan istrinya pengertian. Toh, Maxim pulang lebih awal karena Jingga, batin Langit menggelengkan kepala nya pelan.
"Tapi kan tetap saja, dia asisten nya mas Langit. Ya kali dia udah pulang duluan sementara mas Langit harus lembur, ckckck! gak adil banget sumpah!" cetus nya lagi, Jingga pun segera beranjak lalu menghampiri Langit yang hendak melanjutkan pekerjaan nya
"Udah ah, jangan marah marah. Kamu istirahat di kamar saja ya, mas janji gak akan lama," ujar Langit lalu mengecup menari tangan Jingga yang kini berdiri di samping nya.
"Mau sama mas, gak mau sendiri!" rengek nya mulai merajuk dan memanyunkan bibir.
"Kalau sama Mas, pekerjaan nya gak akan cepet selesai, Sayang!" kata Langit sedikit menghela napas berat, mencoba berkata selembut mungkin agar istrinya tidak marah.
__ADS_1
"Ya udah, mas kerja. Jingga juga kerja disini!" bisik Jingga lalu tanpa aba aba, ia langsung duduk di pangkuan Langit dan memberikan kecupan di bibir nya.
Tentu saja Langit begitu terkejut melihat sikap Jingga yang semakin agresif. Namun itu hanya sebentar, karena detik berikutnya, setelah ia tersadar, ia segera bangkit dan membawa Jingga ke dalam kamar.