
Usai makan malam, Langit dan Jingga langsung kembali ke kamar. Karena besok, Jingga akan mulai bersekolah lagi setelah meliburkan diri beberapa hari. Sebenarnya, Langit sudah menawarkan bila Jingga ingin cuti atau berlibur sedikit lebih lama, karena sekolah itu milik keluarga nya jadi Langit bisa mengatur semuanya. Namun Jingga tidak mau, karena sekolahnya hanya tinggal beberapa bulan lagi selesai, dan ia sudah bertekad bahwa ia akan menghadapi semuanya.
Benar, ia harus bisa bangkit dan buktikan pada keluarganya bahwa ia juga bisa bahagia tanpa mereka. Kalau ayah bunda serta kakak nya saja bisa bahagia di surga, mengapa ia tidka bisa. Itulah yang Jingga selalu pikirkan untuk menguatkan hatinya.
“Woahh, pantes aja om sering ke sekolah.,” ucap Jingga yang terkejut dan kagum sekaligus setelah mengetahui bahwa sekolah tempatnya menuntut ilmu adalah milik keluarga suaminya, “Om apa—“
“Om?” Langit mengerutkan dahinya, padahal sudah sejak tadi ia menyuruh Jingga agar mengganti panggilan nya. namun tetap saja, karena Jingga sudah terbiasa memanggilnya seperti itu hingga membuat lidahnya sering terpleset.
“Iya iya, Mas Langit! Puass!” cetus nya memberengut kesal, “Baiklah begini, kan itu sekolah milik keluarga Mas, apa dulu mas juga sering bolos dan bersikap semaunya?” tanya Jingga begitu penasaran.
__ADS_1
Ctakk!
“Aduhh sakit!” pekik nya karena Langit tiba tiba menyentil kening nya dengan cukup keras.
“Lebih baik sekarang tidur, kalau besok mau sekolah!” ucap Langit datar, lalu ia segera membalikkan badan untuk membelakangi Jingga.
Langit tidak mau menjawab pertanyaan Jingga karena itu menyangkut masa sekolah nya. Dimana begitu banyak kenangan nya bersama Biru. Dan Langit tidak mau merubah mood Jingga yang sudah membaik kembali buruk. Jadi ia memilih untuk diam, dan tidur walaupun perasaannya begitu resah dan tak nyaman.
“Jingga, tidur!” seru Langit tanpa membalik badan nya, namun mampu membuat Jingga langsung tersentak dan spontan ia membaringkan tubuh nya di samping Langit.
__ADS_1
Malam itu, keduanya tidur dengan membelakangi lawan nya masing masing. Namun keduanya masih memakai selimut yang sama, meski berbeda bantal.
‘Gak bisa tidur,’ gumam Jingga dalam hati lalu ia menghela nafas nya berat.
Ia bukan merindukan kedua orang tuanya, hanya saja dirinya merasa sangat canggung harus tidur satu ranjang dengan laki laki lain, meskipun itu suaminya sendiri.
‘Ayah sama bunda pasti sudah tidur ya di sana? Enak yah bisa kumpul dan bahagia bertiga. Jingga Cuma sendiri disini,’ imbuh nya lagi, ‘Enggak, Jingga juga bahagia kok disini. Jingga memang harus bahagia, dan Jingga akan pastikan itu.’
Hanya itu yang selalu Jingga tekankan pada dirinya sendiri. Keluarganya sudah bahagia, maka dirinya juga harus bahagia. Ia sudah memiliki keluarga baru, ayah mertua yang tak kalah baik dari ayah Faris. Juga ada suaminya yang begitu lembut dan penyabar, dan tampan tentu nya, walau sedikit tua, batin Jingga.
__ADS_1
“Jingga, tidur!” seru Langit lagi saat menyadari bahwa gadis di belakang nya terus bergerak. Ya, Langit bisa merasakan nya karena memang dirinya juga sedang tidak bisa tidur, ia begitu canggung karena harus tidur bersama Jingga. Namun ia juga tidka bisa meninggalkan Jingga seorang diri, karena itu akan membuat Jingga kembali merasa sendiri dan down kembali.