
...~Happy Reading~...
“Oke, jadi besok Jingga pulang sama siapa?” tanya Jingga berdiri menatap keluarga nya satu per satu.
“Raihan,” jawab Azara dan Nathan dengan cepat dan bersamaan.
Uhuukk hukk uhukk!
Seketika itu juga Raihan langsung tersedak minuman nya ketika namanya di sebut oleh orang tuanya.
“Kenapa aku?” tanya nya seolah protes menatap dua orang tua nya secara bersamaan.
“Kuliah mu libur. Jadi kamu antar tante kamu pulang biar ketemu sama Om kamu,” kata Nathan begitu santai seketika langsung mendapatkan timpukan bantal sofa yang mendarat tepat di wajah nya.
“Kalau Willi yang manggil aku tante, Oke. Masih bisa di terima, kalau dia.” Jingga menunjuk pada Raihan, “Ogah!”
“Jingga, dia anakku juga loh. Dia keponakan kamu,” saut Azara langsung mendengus.
__ADS_1
Raihan memanglah anak dari Azara dan Nathan. Selama ini, Raihan sengaja mendekati Jingga karena pesan dari Azara agar menjaga tante nya. Namun, jangan sampai Jingga mengetahui identitas nya, itulah pesan orang tua Raihan. Sementara Wili, adalah adik dari Raihan yang umur nya baru menginjak satu tahunan.
“Tetap saja, Kak. Umur ku dan Raihan Cuma beda berapa tahun. Ya kali dia manggil aku tante, kayanya Jingga tua banget!” seru Jingga tidak terima.
“Sudah lah Tan, terima saja. Jarang jarang loh punya keponakan seganteng aku,” kata Raihan tersenyum bangga.
“Gak mauuu!” seru Jingga dan kini ia melemparkan bantal sofa nya kepada Raihan, “Kakak kenapa bisa punya anak segede gini sih! Kenapa bisa seumuran sama Jingga coba!”
“Kamu aja yang lahirnya telat, Jingga.” Saut Azara mendengus, “Kami menikah pas umur delapan belas tahunan. Ya wajar kalau langsung hamil dan sekarang Raihan umur segitu, gimana sih.”
“Ckckck, hibi banget nikah muda. Langsung gas itu pasti makanya cepet brojol bayi segede gini,” ketus Jingga menghela napas nya kasar, tanpa mengaca pada dirinya sendiri. Bahwa ia juga menikah muda di umur belasan, hanya saja suaminya yang sudah berumur.
Iya, tante mungil lantaran meskipun Jingga tante nya Raihan, namun tubuh nya sangat mungil dan jauh dari Raihan.
“Kak Rai jangan gituin bunda nya Bintang!” seru seorang gadis kecil yang baru saja selesai di kuncir oleh pengasuh nya dan langsung menghampiri Raihan dan juga Jingga.
“Hus hus hus, sana. Sana pergi, jangan deketin bunda!” imbuh nya dan terus mendorong tubuh Raihan.
__ADS_1
“Enggak emak, gak anak. Sama saja. Rusuh!” kata Raihan kesal, dan langsung di sambut gelak tawa oleh beberapa orang yang di sana.
“Asa gak lusuh!” saut seorang anak laki-laki kecil yang merasa tidak terima karena perkataan Raihan.
“Iya, Asa gak gitu kok. Cuma kakak kamu sama bunda kamu yang rusuh! Kamu jangan ya,” kata Raihan langsung mengangkat tubuh mungil sepupunya.
“Akak akak akakkakak!” Setiap kali Raihan menggendong Angkasa atau yang biasa di panggil Asa, pasti adik kandung nya selalu tidak terima dan marah.
“Dasar tukang iri an kamu, ckckck!” Raihan pun akhirnya menggendong adik nya, Willy dan Asa bersamaan dengan di kiri dan kanan.
“Udah cocok banget loh Rai,” kata Jingga terkekeh melihat anak nya yang selalu lengket dengan keponakan nya.
“Pah, Jingga nyuruh Raihan cepet punya anak nih!” saut Raihan menatap sang ayah yang malah asik bermesraan dengan istri nya tanpa perduli pada tiga tuyul dan dua orang yang baru menginjak dewasa itu. “Ini kalau begini, lama lama Raihan beneran nyicil anak deh, beneran deh!Tiap hari mata ku ternodai,” gerutu nya mendengus kesal.
“Raihan!” seru Azara dan Nathan bersamaan dan memberikan tatapan tajam pada putra sulung nya. Sementara Jingga yang melihat perdebatan dan ulah sang kakak langsung tertawa terbahak bahak.
"Buahahahahha!"
__ADS_1
Begitulah kehidupan Jingga beberapa tahun terakhir tanpa kehadiran Langit. Namun, meskipun ia sudah bahagia, jauh di dalam lubuk nya bila ia sedang sendiri tetap saja ia masih terus memikirkan Langit dan sangat merindukan nya.