
...~Happy Reading~...
"Rai, emang kamu yakin kalau kamu ponakan aku?" tanya Jingga di tengah ke gabutan nya. Saat ini, keduanya sudah berada di dalam pesawat dan duduk berdua. Sementara kedua anaknya berada di kursi lain bersama para pengasuh nya.
"Astaghfirullah, jahat banget mulut kamu, Jingga."
Bug!
Raihan langsung memukul bahu Jingga dengan begitu kesal.
"Ih kok jahat sih. Aku kan cuma nanya, gimana kalau seandainya kamu memang bukan anak kakak ku. Kamu anak pungut, mungkin." imbuh Jingga tanpa memiliki perasaan.
"Jangan sampai aku lempar kamu dari sini ya, Jingga. Gak perduli aku gak punya tante kaya kamu! itu lebih baik,! " cetus Raihan hingga kembali membuat Jingga terkekeh.
"Iya iya maaf. Uluh uluh uluh, keponakan ku yang cantik, eh udah ganteng belum kamu sekarang? Masih mau jadi yanti gak?" tanya Jingga menggoda Raihan sekali lagi, hingga membuat laki laki itu memberengut kesal dan Jingga tertawa.
__ADS_1
"Jadi, kamu udah siap nih ketemu om Langit?" tanya Raihan membuka suara lagi.
"Entahlah," jawab Jingga santai seraya mengangkat kedua bahu nya.
"Kok entahlah. Aku penasaran, apa yang akan terjadi pas kalian bertemu nanti. Apakah akan langsung perang?" gumam Raihan membayangkan nanti saat pertemuan Jingga dan Langit setelah tiga tahun LDR.
"Perang yang kamu maksud, perang yang bagaimana?" tanya Jingga langsung mengerutkan dahi menatap sang keponakan.
"Ya perang main bola lah, ya kali mau perang Dunia gara gara kamu sekarang berubah!" kata Raihan mendengus, "Eh iya ngomong ngomong kamu berubah. Gimana sama Bintang, nanti?"
"Tenang lah, nanti aku akan bantu menghajar nya kalau sampai dia tidak mau menerima kalian. Dua tahun aku belajar karate smaa Papa. Jadi cukup lah, sepertinya," ucap Raihan sedikit kurang yakin..
Jingga tidak menjawab lagi, ia hanya berdecak, lalu kembali menatap pemandangan di luar jendela pesawat.
Setelah perjalanan yang cukup jauh. Kini, akhirnya mereka mendarat dengan selamat di tanah air. Jingga dan Raihan segera menuju ke rumah Nathan, karena Jingga masih belum bisa bertemu Langit hari itu juga.
__ADS_1
Jingga memilih untuk tinggal di rumah Nathan, sekaligus untuk menyiapkan diri untuk berbicara dengan Langit nanti nya. Tentu saja, tanpa ada anak anak lebih dulu.
"Ayahh!" pekik Bintang ketika hendak memasuki mobil.
Deg!
Seketika jantung Jingga berdegup dengan begitu kencang. Mendengar putri nya menyebut nama ayah dengan suara yang begitu lantang. Jingga pun segera mengedarkan pandangan nya ke segala arah, dan benar saja. Ia bisa melihat seseorang berdiri tak jauh darinya bersama dengan seorang wanita cantik yang mengenakan pakaian kerja.
Mata keduanya saling bersitatap. Membuat getaran yang selama ini hilang, kian muncul kembali. Jingga menarik nafas nya dalam dalam, berusaha menghalau semua pikiran negatif yang ada di benak nya.
Sementara itu, Langit yang melihat Jingga kembali di bandara langsung terdiam. Ia merasa bahwa ini seperti mimpi, terlebih ia melihat dua anak kecil yang bersama dengan istri nya. Bukan hanya dua anak kecil, melainkan juga ada sosok laki laki di samping Jingga.
Raihan...
Langit mengepalkan tangan nya dengan cukup kuat, rahang nya mengeras serta sorot matanya begitu tajam menatap istri nya yang kini bersama laki laki lain...
__ADS_1
'Secepat itu kamu bahagia bersama pria lain,' gumam Langit dalam hati nya, namun ia masih berusaha berekspresi datar.