
...~Happy Reading~...
Jingga hanya terdiam mencerna kembali ucapan Sisil yang datang beberapa saat yang lalu. Sejak kepergian Sisil, hingga kini waktu berjalan hampir satu jam lama nya. Langit belum juga kembali dari kantor. Dan foto yang memperlihatkan kedekatan Langit dengan dokter Zara, membuat pikiran Jingga semakin kacau.
"Enggak Jingga, kamu gak boleh percaya sama dia. Kamu harus percaya sama mas Langit. Iya, kamu harus percaya sama suami kamu!" gumam Jingga berusaha menenangkan diri nya sendiri.
Hingga sore hari, Langit baru saja datang dengan membawa sebuah bingkisan. Raut wajah Jingga kini semakin terlihat pucat, bahkan ia seperti tidak memiliki semangat ketika Langit datang.
"Sayang! aku bawa kue yang kamu mau!" ucap Langit dengan wajah berbinar, seraya membuka sebuah toples kecil yang berisi kie nastar.
"Jingga mau pulang," gumam Jingga begitu lirih. Tidak ada senyum sama sekali di wajah nya. Bahkan Jingga begitu enggan menatap suami nya.
"Hah, pu—pulang?" Langit yang begitu terkejut mendengar suara istri nya, seketika langsung menangkup wajah Jingga, "Kamu kenapa?"
"Jingga gak betah disini. Jingga mau pulang hiks hiks hiks." jawab Jingga dan kini ia terisak.
__ADS_1
"Baiklah, Mas coba bicara dengan dokter dulu ya," ujar Langit membuat Jingga segera menganggukkan kepala nya.
Bila di rumah, Jingga berfikir akan begitu mudah mengalihkan perhatian dari pikiran nya gang semakin berlalang buana. Jingga sedang berusaha untuk tidak mengingat isi foto tadi, namun hati kecil nya menolak untuk tidak mempercayai nya. Hatinya begitu sakit, dan dada nya begitu sesak kala mengingat bahwa Langit membohongi nya.
Setelah konsultasi dengan dokter, akhirnya Jingga di perbolehkan untuk pulang. Hanya saja, Jingga masih tidak boleh terlalu banyak aktifitas, karena kandungan nya masih begitu lemah.
Begitu sampai di rumah, Langit segera membaringkan tubuh Jingga di tempat tidur dan membiarkan nya istirahat.
"Kamu gak mau cobain kue nya?" tanya Langit begitu lembut. Kini ia duduk di samping Jingga.
"Maa Sayang, tadi pekerjaan Mas cukup banyak. Dan juga, mas harus mencari kue ini dulu," kata Langit menghela napas cukup berat, kala mengingat bagaimana perjuangan nya untuk mendapatkan kue nastar dengan isian durian.
"Mas dapat dari mana?" tanya Jingga seketika membuat Langit terdiam.
"Emt... itu tadi mas dapat dari toko kue yang ada di dekat kantor."
__ADS_1
"Memang di sana jual kue ini?" tanya Jingga lagi, menatap wajah Langit yang terlihat seolah sedang berfikir untuk menjawab pertanyaan Jingga.
"Mas, Jingga mau tidur dulu. Mas mandi sana, bau." ujar Jingga ketika Langit tidak kunjung menjawab pertanyaan nya.
"Sejak pulang dari rumah sakit, kenapa kamu sedikit berbeda. Katakan ada apa?" tanya Langit yang memang peka dalam menangkap perubahan pada istri nya.
"Jingga gapapa, cuma kesel aja sama mas Langit," jawab Jingga jujur.
"Kesel kenapa?" tanya Langit lagi, kini ia mengerutkan dahi nya menatap wajah Jingga.
"Mas pamit hanya satu jam. Tapi nyatanya mas pergi hampir lima jam. Mas sudah korupsi waktu sebanyak itu, kemana?" tanya Jingga dan langsung menatap wajah Langit dengan intens.
"Sayang, mas minta maaf. Mas cukup sulit untuk mendapatkan kue yang kamu mau. Maka dari itu mas—"
"Sudahlah, mas mandi saja sana. Biarin Jingga diem dulu." kata Jingga memotong ucapan Langit.
__ADS_1
Langit pun menganggukkan kepala, ia beranjak dari tempat duduk dan menuju kamar mandi setelah mencium kening Jingga.