Langit Jingga

Langit Jingga
Penjelasan Azzara


__ADS_3

...~Happy Reading~...


"Maafin aku Hingga, maaf," Azzara tidak henti meminta maaf kepada Jingga, walaupun sudah di usir sekian kali, namun Azzara masih tetap bertahan di ruangan Jingga.


"Aku benci kalian semua. Aku benci hiks hiks hiks," teriak Jingga tak henti henti nya menangis lantaran rasa sesak yang ia derita.


"Jingga, kamu boleh membenci ku. Tapi tolong jangan larang aku untuk tetap bersama kamu."


"Akhirnya, setelah sekian lama. Aku begitu penasaran dengan sosok Biru. Dan kini, kamu hadir memiliki wajah yang sama seperti nya Harusnya kamu datang ketika Biru pergi!" seru Jingga menatap tajam pada Azzara.

__ADS_1


"Kalau saja kamu datang saat itu, tentu saja bunda tidak akan depresi seperti itu. Bunda tidak akan menganggap aku sebagai Biru, dan bunda tidak akan terus membandingkan ku dengan nya. Juga bunda tidak akan memaksa ku untuk meminum obat sialan itu!" pekik nya begitu nyaring hingga membuat air mata Azzara semakin deras mengalir membasahi wajah nya.


"Jingga, aku... hiks hiks aku akui bahwa aku terlalu pengecut. Aku begitu takut karena melihat kondisi bunda saat itu. Hiks, terlebih lgi kakek mengatakan bahwa aku di jual oleh mereka demi Azura. Aku juga benci dengan ayah sama Bunda. Aku kecewa sama mereka, itu alasan ku tidak mau menampakkan diri selama ini. Setidaknya kamu masih memiliki kesempatan untuk hidup bersama ayah dan bunda, Jingga. z sementara aku, aku hanya tinggal bersama kakek!" jelas Azzara panjang lebar di sertai idak tangis.


"Jingga kita sama sama memiliki masa lalu yang pahit. Aku mohon, maafin aku. Kita bisa memulai semuanya dari awal, okey, " kata Azzara perlahan mendekati Jingga dengan sangat hati hati.


Jauh dari dalam lubuk hati nya, Azzara sangat ingin memeluk Jingga sejak dulu. Ia sengaja pindah ke Indonesia lagi, setelah mendengar kabar bahwa orang tua nya meninggal. Sejak itu, ia putuskan untuk tinggal dan mencari pekerjaan di Indonesia. Agar bisa sekaligus memantau adik satu satu nya, Jingga.


"Jingga—"

__ADS_1


"Biarkan aku sendiri, sebentar saja. Aku ingin tenang."


Azzara hanya mengangguk pasrah. Mungkin memang Jingga masih butuh banyak waktu untuk menenangkan diri. Jingga baru saja kehilangan kandungan nya, rasa sakit akan fakta tentang suami dan alm kakak nya. Dan juga kedatangan Azzara yang mirip dengan Biru, membuat luka Jingga semakin bernanah dan perih.


"Aku mau sendiri, hiks hiks aku selalu sendiri. Aku mau sendiri, aku selalu sendiri," gumam Jingga terus meracau sambil meringkuk memeluk kedua lutut nya.


Air matanya semakin deras mengalir kala mengingat bagaimana sulit nya kehidupan yang ia jalani selama ini. Bahkan ia tidak menyangka bahwa ternyata dirinya masih memiliki kakak dan juga seorang kakek.


Sementara itu, di luar ruangan. Langit baru saja kembali dari rumah melihat dokter Azzara keluar dari ruangan Jingga. Tidak ada getaran apapun dalam diri Langit, itu menandakan bahwa ia sudah melupakan perasaan nya, atau karena hatinya tahu bahwa wanita itu bukan Biru. Tapi tak bisa Langit pungkiri bahwa kini dirinya lega karena bisa kembali melihat sosok yang mirip dengan Biru. Seolah bisa mengobati rasa rindunya selama belasan tahun lama nya.

__ADS_1


"Langit, jangan tinggalkan Jingga. Dia—"


Aaaaaahhhhhhh!


__ADS_2