Langit Jingga

Langit Jingga
CHAPTER 14


__ADS_3

Langit dan Jingga yang kala itu sedang saling bersandar di sofa, berbincang kecil tentang acara resepsinya besok hari.


"Mas, mungkin gak kalau tadi yang telepon kamu itu Ayudia?" Tanya Jingga yang sejak di bandara ingin sekali mengatakannya namun tak sanggup karena Langit sedang geram.


"Gak tau." Jawabnya dengan malas dan ketus.


"Kok ketus gitu jawabnya... akunya sedih deh..." Ujar Jingga yang melepas pelukannya kepada Langit.


"Maaf, ya dek. Mas gak maksud ketus sama kamu, sayang... Mas gak suka dengar nama Ayudia lagi. Mas sangat, sangat tidak suka." Ujar Langit kepada Jingga dengan sungguh-sungguh.


"Maaf... aku gak tau kalau Mas gak suka. Jingga hanya___" Belum selesai kalimatnya, Langit sudah menyambar.


"Jingga... dengar Mas. Kamu, tidak pernah merebutku dari siapapun. Hatiku yang lebih memilihmu. Bukan salahmu sayang... aku yang mencintaimu. Kamu tak berbuat apa-apa saja aku sudah mencintaimu. Apapun yang dikatakan Ayudia tentangku, jangan pernah di percaya. Apapun yang kamu dengar dan lihat, jika bukan Mas Langit yang cerita, jangan pernah percaya. Paham?!" Tegas Langit kepada Jingga.


"Aku sangat mencintaimu Jingga." Ucap Langit yang mencium kening Jingga.


"Makasih sayang... buat cintanya ke aku. Rindunya udah belum?" Tanya Jingga dengan senyum sumringahnya.


"Kamu disini aja aku rindu, dek..." Ucap Langit yang membuat Jingga gemas dengannya hingga mencubit manja pipi Langit.


"Mas..." Panggil Jingga dengan mesra.


"Mm?"


"Aku bahagia denganmu, sayang..." Ucap Jingga yang mendongakkan wajahnya menatap Langit.


"Alhamdulillah... bahagiamu adalah aku, dek. Senang Mas Langit dengarnya." Ujar Langit dengan senyum sumringahnya.


"Kalau bahagianya Mas?"


"Bahagiaku kalau kamu sudah selesai haid. Hahaha..." Ucap Langit yang membuat Jingga mencubit pinggang Langit.


"Mas Langiiitt... hiihh...!! Mesum banget sih." Ujar Jingga dengan bersungut.


"Hahahaha... biarin. Sama istri sendiri ini." Ucapnya yang sembari mencium pipi Jingga bertubi-tubi.


"Kamu gemesin banget sih, deekk..." Ujar Langit yang mencubit pipi Jingga.


"Teruuss... terus... cubitin aja teruss... orangnya gak ada. Pulang kampung." Ucap Jingga yang mencibikkan bibirnya.


"Dek, kalau sama suami, gak boleh menunjukkan bibir monyong-monyong gitu." Ujar Langit dengan ledekannya.


"Oh, iya. Astagfirullah... maaf ya Mas..." Ucapnya yang sambil mengelus pipi Langit.


"Habis kamunya tuh, nyebelin banget." Sambung Jingga.


"Hahaha... habis kamu gemesin banget. Lucu." Jawab Langit sambil memeluk erat tubuh Jingga.


"Hahaha... dasar. Mas... aku masih haid, ya..." Ucapnya yang mengingatkan Langit untuk menahan hasrat cinta yang membuncah.


"Mas Langit, kenapa ya, hati aku dari kemarin gak enak banget. Gelisah terus. Gak tenang." Ujar Jingga yang menyandarkan kepalanya ke dada sang Langit.


"Adek nerveous kali karena resepsi besok." Jawab Langit santai.


"Mungkin ya Mas..." Ujarnya yang memeluk Langit.


"Udah, gak usah dipikirin, sayang." Ucapnya.


"Adek, mau turun lihat tempatnya buat resepsi besok gak?" Tanya Langit yang ingin melihat persiapan tempat resepsinya.


"Boleh Mas. Ayo." Ajak Jingga kepada Langit.


"Okay." Sahut Langit yang menggandeng tangan. sang istri untuk melihat tempat resepsi.


******


Bandara Ngurah Rai


"Bimo !!!" Panggil Ayudia.


"Apaan sih !!" Jawab Bimo ketus.


"Bim, kalau lo mau bales perbuatan Langit, gue tau caranya." Ujar Ayudia dengan wajah sinis dan suara berbisiknya.


"Kok lo malah dukung gue buat ngehancurin Langit? Bukannya lo cinta mati sama dia?" Tanya Bimo yang masih sibuk dengan ranselnya.


"Iya, gue emang cinta sama Langit. Tapi, kalau masih ada perempuan pengkhianat dan perebut pacar orang itu Langit gak akan berpaling ke gue. Jadi cuma ada 1 jalan." Jelas Ayudia.


"Apaan?" Tanya Bimo.


"Hamilin Jingga." Ucap Ayudia yang membuat Bimo membelalakkan matanya.


"A****g !! Lo pikir gue cowok apaan !! B******k !! Gila lo ya !!" Ujar Bimo yang begitu marah dengan Ayudia.


"Tapi kan lo juga suka sama Jingga, Bimo !!" Ucap Ayudia.


"Eh, rasa suka gue sama Jingga itu dulu ya. Udah zaman batu. Gue, bukan elo yang gak bisa move on dari mantan !!!" Ujar Bimo dengan emosi menggebunya.


"Yang mau gue kasih pelajaran itu Langit !! Gue, gak ada urusan sama Jingga dan Jingga juga gak ada urusan sama gue !! Camkan itu baik-baik, Ayudia !!" Sambung Bimo.


"Okay, kalau lo gak mau kerjasama sama gue. Gue akan buat pelajaran ke mereka dengan tangan gue sendiri !!!" Ucap Ayudia dengan geram.


Bimo tidak menanggapi. Ia langsung masuk ke taxi yang ia pesan dan meluncur menuju hotel tempat resepsi Jingga dan Langit.


******

__ADS_1


"Wuuiidihh... manten... baru turun. Hahaha..." Ujar Kribo yang sedang mengunyah kentang gorengnya.


"Asek, asek, manten... Hahaha..." Ledek Akbar sang Kakak Kelas ketika di SMA Merah Putih.


Langit hanya menanggapinya dengan high five dan senyumnya saja. Begitupun dengan Jingga yang tak lepas dari gandengan Langit.


Tak lama Juna dan Nabila datang ikut berkumpul di gazebo tersebut bertemu kawan-kawan lama. Ini namanya resepsi sambil reunian. Temu kangen ya... mengenang masa-masa putih abu-abu.


"Bilaa... gimana kondisi lo? Udah enakan badannya? Tadi kan lo pucet banget." Ujar Jingga yang mengelus lembut pundaknya.


"Alhamdulillah udah enakan, Ngga." Jawab Nabila dengan senyumnya.


"Wuidih... Bang Jun... apa kabar bro?" Tanya Akbar yang datang dengan beberapa camilan.


"Alhamdulillah kabar baik, bro Akbar." Ujar Juna yang menepuk pundak dan high five nya dengan Juna.


Mereka pun duduk sambil berbincang saat malam semakin larut. Bernostalgia dengan masa putih abu-abu mereka.


"Gue gak nyangka lho kalau Bila bakalan sama Juna. Kaget sumpah gue !" Ucap Vira.


"Iya deh. Gue pikir Bila bakalan sama Kak Akbar lho. Eh, ternyata malah sama playboy ke dua. Si Juna. Wkwkwk..." Ujar Tika dengan candanya.


"Hah?!! Playboy kedua?? Emang ada playboy ke satunya?" Tanya Chika.


"Adaa cuuy... noh... suaminya Jingga. Hahaha..." Ucap Tika yang mengundang tawa teman-temannya.


Juna dan Langit hanya tersenyum saja saat para wanita membicarakan masa lalunya.


"Tapi keren ya. Yang playboy-playboy udah pada nikah duluan masa. Juna sama Bila udah nikah. Sekarang Langit sama Jingga. Ntar siapa lagi nih yang nyusul? Hahahaa..." Ujar Tika dengan candanya.


Tak lama berselang, Bimo datang dengan fashion casualnya. Menyapa semua teman-temannya. Yang dulunya bolos-bolos terus waktu sekolah, sekarang sudah menjadi seorang arsitek terkenal.


"Woy, Bim !!" Panggil Juna yang melihat Bimo baru memasuki gazebo tersebut.


"Apa kabar lo? Kemana aja?" Tanya Juna dengan salam high five nya.


"Baik. Gimana kabar lo?" Tanya Bimo kepada Juna.


"Alhamdulillah baik. Sibuk apa lo sekarang?" Tanya Juna.


"Sibuk ngukur jalan." Jawab Bimo dengan candanya. Bimo itu arsitek yang biasa buat gedung-gedung pencakar langit.


"Apa kabar, Lang?" Tanya Bimo yang memberikan salam high five kepada Langit.


"Alhamdulillah baik. Lo sehat?" Tanya Langit.


"Seperti yang lo lihat." Ucapnya sambil tersenyum dan memasukkan tangannya ke kantong celana.


"Congrats ya. Langgeng terus sama Jingga." Ujarnya yang tidak ingin memperlihatkan wajah rindunya kepada sahabat kecilnya itu.


"A****g !! Udah keren nih gue !! Sue !!" Ujarnya yang sambil tertawa mengejar Langit ke pinggir pantai.


Jingga senang sekali melihat sang suami tertawa lepas dan kembali bermain bersama dengan sahabat kecilnya tersebut.


Setelah dirasa lelah karena bermain gulat dengan sahabat kecilnya mereka berbaring di hamparan pasir pantai yang halus.


"Lang, hhh..." Panggil Bimo dengan nafas tersengal-sengalnya yang lelah karena berlari mengejar Langit.


"Aa...pa... hhh" Jawab Langit yang dengan nafas tersengal-sengalnya.


"Sorry." Satu kata yang membuat keduanya terbangun dari baringannya dan saling berpelukan serta menepuk keras pundak keduanya.


"Lang," Panggil Bimo lagi.


"Apaan!" Jawab Langit malas.


"Lo harus hati-hati sama Ayudia." Ucap Bimo.


"Maksud lo?" Tanya Langit yang mengerutkan kedua alisnya tanda tak mengerti kata-kata Bimo.


"Gue gak tau apa yang mau direncanain sama Ayudia ke Jingga sama lo. Tapi gue sempet ketemu dia tadi di Bandara. Dia ngira kalau gue masih berniat mau bales dendam sama lo. Yaa... gue iya-in aja." Terang Bimo.


"Terus lo tau, dia minta apa sama gue?" Tanya Bimo dengan geram.


"Ayudia minta gue buat ngehamilin Jingga supaya lo becerai dan pisah selama-lamanya dari Jingga lalu dia masuk menggantikan Jingga dan menjadi pendamping lo." Sambung Bimo.


"Gue tolak permintaan dia. Ayudia ngamuk parah saat itu. Dia bilang, dia akan tetap menghancurkan Jingga selagi Jingga masih sama lo. Doi dendam banget sama Jingga, Lang. Jaga Jingga baik-baik." Ucapan Bimo mengingatkannya dengan istrinya yang ia tinggal karena ada sahabat kecilnya. Ia langsung berlari menghampiri Jingga di gazebo. But in the end....


"Cuy, ada yang lihat Jingga?" Tanya Langit kepada teman-temannya di gazebo.


"Jingga tadi ke kamar, Lang. Mau ambil ponselnya katanya. Ketinggal___" Belum sempat Mala menyelesaikan kalimatnya Langit langsung berlari sekencang yang ia bisa menuju ruangannya.


"Bim, ikut gue." Ujar Langit kepada Bimo.


Entah kenapa, Langit terpikir dengan obrolannya dengan Jingga. Bahwa seharian ini hatinya merasa gelisah. Langit merutuki dirinya yang terlalu menganggap enteng kegelisahan sang istri.


*****


Di Kamar Hotel Langit & Jingga


"Oh, iya. Ini dia ponselnya." Ucap Jingga yang mengambil ponsel dari nakas. Namun, ada tangan besar yang menarik tubuhnya.


Jingga begitu terkejut.


"Bara?!" Tanya Jingga dalam hatinya.

__ADS_1


"Huh? Kaget? My princess..." Ucap Bara yang memegang dagu Jingga dan di tepis oleh Jingga.


"BERANI NOLAK GUE, LO??!!! HAH??!!" Teriak Bara yang merasa di remehkan oleh Jingga. Yang padahal Jingga hanya menepis tangannya. Jingga mencium bau alkohol dari tubuh Bara. Jingga pikir Bara mabuk.


"Bara !! Lepasin !!" Ujar Jingga yang berusaha melepaskan genggaman tangannya dari tangan kekar Bara.


Jingga melawan Bara. Ia keluarkan seluruh kekuatannya. Bahkan teknik Judo yang ia pelajari, ia keluarkan. Tapi Bara lebih kuat dari Jingga. Hingga Bara mendorong Jingga ke tempat tidur dengan posisi Jingga di bawah dan Bara di atasnya. Bara memegang erat tangan Jingga dan mendekatkan wajahnya kepada Jingga.


"Maasss... Laaanggiittt... hiks hiks..." Teriaknya sambil memalingkan wajahnya dari Bara.


***Bbbrraaakk* !!!


"B*****T** !!!"


Ucap Langit yang langsung memburu Bara dengan hujaman tinjunya. Langit tak mengenal ampun. Ia tinju, tendang, bahkan kalau tidak di hentikan oleh Bimo, tak tau Bara akan menjadi apa.


"LANGIT !!! STOP !!!" Ujar Bimo yang mendorong Langit menjauh dari Bara. Saat itu Bara sudah terkulai lemas. Tinju dan tendangan Langit membuat Bara tak berdaya.


"Lang, Jingga." Ucap Bimo yang menepuk pundak Langit. Seketika itu, Langit langsung berhambur memeluk Jingga yang berada di pojok kamar sedang menangis tersedu.


"Sayang..." Panggil Langit yang sudah tak karuan hatinya melihat istrinya menangis terisak seperti itu.


"Maass... aku takutt... huua... hiks..." Ucap Jingga yang berhambur memeluk Langit dengan isak tangis dan tubuh yang bergetarnya.


"Maafin Mas, sayang..." Ujar Langit yang memeluk erat Jingga. Ia tak sanggup melihat istrinya gemetar ketakutan seperti itu.


"Mas... jangan pergi. Jangan tinggalin aku... hiks.. hiks..." Ucap Jingga yang sukses membuat Langit semakin memeluk erat tubuh mungil istrinya.


"Gak akan dek. Mas Langit di sini." Ujar Langit yang mencium bertubi-tubi puncak kepala Jingga.


*****


Bimo menghubungi petugas keamanan. Bara segera dibawa oleh petugas keamanan. Langit dan Jingga pindah kamar. Karena Jingga tak ingin di kamar tersebut.


Teman-temannya yang sudah berkumpul segera saja tau bahwa itu ulah Ayudia. Karena sebelumnya Ayudia sempat datang bersama Bara untuk menyapa teman-temannya ketika Langit sedang berbincang dengan Bimo dan melihat Jingga ke kamar sendiri tanpa Langit, Ayudia dan Bara langsung pamit untuk kembali ke kamar.


Namun, selang berapa waktu ada kejadian tersebut. Bara yang dibayar oleh Ayudia untuk membuat Jingga rusak dan ditinggalkan oleh Langit. Tapi nyatanya, justru Ayudia lah yang ditinggalkan semua karena perbuatannya.


******


"Dek, sayang..." Panggil lembut Langit kepada Jingga.


"Iya..." Jawab Jingga dengan lesu.


"Sini..." Ajak Langit yang meminta Jingga tidur berbaring di sebelahnya. Tentu disambut hangat oleh Jingga. Ia masih ketakutan. Masih terdengar sesekali sesenggukannya Jingga.


"Maafin Mas Langit ya sayang... Mas lalai jagain kamu. Maafin aku..." Ucapnya dengan tatapan sendu. Perih sekali hati Langit melihat tangis istrinya.


"Enggak, Mas... Jingga juga salah. Gak izin dulu sama Mas Langit. Tapi, jangan tinggalin Jingga sendiri lagi ya... hiks hiks..." Ujarnya yang menangis kembali.


"Adek gak salah. Kamu gak salah, sayang. Mas gak akan biarin kamu sendiri lagi. Harus sama Mas Langit. Kemanapun dan dimanapun. Aku mencintaimu Jingga. Lebih dari apapun." Ucap Langit yang mengecup lembut kening Jingga.


"Aku takut Mas... jangan jauh-jauh dari aku." Ujar Jingga yang membenamkan wajahnya di dada bidangya Langit.


"I'm here. I'm not going anywhere, sweetheart." Ucapnya yang mengecup lembut puncak kepala Jingga.


Terlelaplah mereka dalam heningnya malam. Kejadian malam itu membuat gempar teman-teman angkatan SMA Jingga dan Langit yang sudah datang sejak sore.


Pagii harinya...


"Sayang... bangun yuk..." Ucap Jingga dengan lembut dan mesranya mengelus pipi Langit.


"Mas Langit... bangun sayang..." Panggil Jingga kepada Langit yang mulai beringsut bangun dari tidur nyenyaknya.


"Iyaa... aku bangun." Jawab Langit yang dengan malas.


"Ayoo... Mas... mandi. Terus pakai bajunya yang sudah Jingga siapkan di ruang ganti ya." Ucap Jingga yang melangkah untuk berganti pakaian dan merias wajahnya.


*****


Acara resepsi Jingga dan Langit hari itu berlangsung meriah. Ramai dan riuh sekali.


Kala itu Jingga keluar dengan gaun pengantin yang simple tapi elegan berwarna putih dengan mahkota bunga mawar biru dan satu buket mungil bunga mawar biru yang dipegangnya. Sedangkan Langit memakai setelan jas hitamnya.


Karena acaranya sembari reunian jadilah mereka banyak bertemu dengan teman-teman lama. Sambil berbincang ria dan nyemil cantik duduk lesehan di pinggir pantai menikmati suara debur ombak dan semilir angin pantai hari itu.


Ketika acara lempar buket bunga, Chika, Mala, Tika, dan teman-teman perempuannya yang lain berkumpul. Serta para lelaki lajang pun diajaknya untuk memeriahkan acara lempar dan tangkap buklet.


"Okay. Gue hitung ya... 1, 2, 3," Ucap Jingga yang melempar buket bersamaan dengan Langit.


Dibelakangnya terdengar riuh ramai para penangkap buket. Saat itu, Chika yang mendapat buket dari Jingga. Saking senangnya, Chika berjingkrak senang hingga ia hampir tergelincir jika Bimo tak memeganginya.


"Chikaaa..." Pekik Jingga, Mala, dan Nabila yang kala itu melihat Chika hampir terjungkal kalau tubuhnya tidak di topang oleh Bimo.


"Ehem... batuk." Ujar Nabila yang sambil terkekeh geli melihat Chika dan Bimo yang salting. 😂


"Dek, lihat muka Bimo. Merah gitu masa. Kayak kepiting rebus. Wkwkwk..." Tawa Langit yang melihat Bimo salting.


"Hahaha... Mas... kamu iseng banget sih. Chika juga tuh. Gak ada malu-malunya." Ucap Jingga yang tertawa geli melihat ekspresi Chika.


"Maaf, Bim." Ucap Chika yang langsung bangun dari pelukan Bimo yang menopangnya. Ia pun langsung memalingkan wajah dengan semu merahnya.


Bimo hanya merespon dengan senyumnya dan membuang wajahnya menyembunyikan wajah malu merah padamnya karena tersipu.


*******

__ADS_1


__ADS_2