
“Darimana saja kamu?” tanya Langit menyambut kedatangan Jingga, “Kenapa?” tanya nya lagi ketika melihat raut wajah Jingga yang terkesan datar dan kosong, namun matanya begitu merah dan sembab.
“O—om, jawab Jingga. Siapa pasien yang ada di dalam? A—ada berapa korban kecelakaan tadi?” tanya Jingga dengan tubuh bergetar menahan tangis.
“Kenapa?”
“Jawab Om!” seru Jingga tiba tiba menatap ke arah Langit.
"Kamu tenang dulu, ada apa?" tanya Langit berusaha menenangkan, namun air mata Jingga semakin banjir membasahi wajah nya.
"O—om, tadi ada yang telfon Jingga. Hiks hiks, d—dia bilang ayah sama bunda—"
Cklek!
__ADS_1
Belum sempat Jingga menyelesaikan ucapan nya, tiba tiba pintu ruang UGD pun terbuka, seorang dokter keluar dan langsung membuat dada Jingga semakin terasa sesak.
“Dokter, bagaimana keadaan orang tua saya?” tanya Jingga langsung menghampiri dokter.
Deg!
Seketika itu juga, tubuh Langit langsung mematung di tempat nya. Ia hendak menghampiri dokter dan Jingga, namun ia urungkan kala mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Jingga. Tubuh nya kaku dan kaki nya terasa sangat berat untuk melangkah ke depan. Namun ia juga penasaran mengapa orang tua Jingga berada di dalam. Tidak mungkin bukan? gumam Langit dalam hati.
“Dokter, ayah sama Bunda saya gapapa kan? Iya kan dok? Mereka gapapa kan? Aku yakin mereka kuat, mereka—“
“Gak! Gak mungkin!” gumam nya pelan, dengan seketika Jingga langsung memundur kan langkah nya beberapa.
“Luka yang di alami bu Elsa cukup parah. Karena tubuh nya ter—“
__ADS_1
Brukk!
Jingga sudah tidak bisa mendengar penjelasan dokter lagi karena kepala nya berdenyut nyeri yang akhirnya ia terjatuh pingsan. Sementara itu, Langit yang maish mencerna keadaan namun sudah melihat Jingga ambruk, ia langsung berlari dan menghampiri nya.
“Jingga, bangun. Jingga!” seru Langit segera mengangkat tubuh Jingga dan membawa nya ke ruang perawatan.
Jingga segera di periksa oleh dokter, sementara di luar Langit terus berdoa dan berharap bahwa Jingga baik baik saja. Ia kembali mengingat, dimana Jingga begitu tulus dan memberikan nya semangat agar ia bisa ikhlas dengan korban kecelakaan laka lantas. Namun seperti na kata kata itu harusnya ia ucapkan pada dirinya sendiri, bukan Langit.
Langit juga tidak menyangka bahwa ternyata dunia begitu sempit. Bagaimana bisa ia tidak tahu asal usul Jingga. Tadi ketika ia hendka pulang setelah berdebat dengan Jingga, ia terjebak kemacetan. Sama hal nya seperti Jingga, Langit memilih tuurn dan melihat beberapa koban, dan ketika ia melihat orang tua Biru, ia sangat terkejut. Setelah sekian lama, ia tidak bertemu kini akhirnya ia kembali di pertemukan, namun dengan cara yang sangat salah menurut nya.
Faris masih setengah sadar ketika ambulan datang, dan ia juga yang menyuruh Langit agaar menghubungi putri nya. Awalnya, Langit sedikit bingung, karena ia tidak tahu bahwa orang tua Biru memiliki putri lagi setelah kehilangan Biru. Langit mencoba menghubungi nomor Alesha, yang tertera di ponsel bu Elsa, karena kebetulan ponsel itu selamat dan masih utuh, hanya saja batrei nya habis.
Beruntung Langit sempat menyalin nomor Alesha ke ponsel nya, sehingga ia bisa menghubungi nomor itu. Namun, sangat tak terduga, bahwa Alesha yang di maksud orang tua Biru adalah Jingga. Gadis yang memberikan nya semangat di sepanjang perjalanan menuju rumah sakit.
__ADS_1
Langit masih terasa sulit untuk menerima kenyataan yang baru saja ia dapatkan. Mengapa dunia begitu sempit, bagaimana bisa selama ini ia dekat dengan Jingga, namun ia tidak mengenali siapa gadis itu. Seandainya Biru masih ada, mungkin Jingga akan menjadi aidk ipar nya, namun sekarang? Gadis itu malah mengejar nya, dan bodoh nya dia ikut tergoda dan merasa nyaman di dekat gadis itu.
‘Biru, apa yang harus aku lakukan?’ gumam Langit mengusap wajah nya dengan sangat frustasi, 'Apakah kamu sengaja mengantarkan dia padaku, agar aku bisa melupakan mu hem?' imbuhnya hingga tanpa sadar meneteskan air mata.