
“Perut kamu masih sakit?” tanya Langit ketika sudah sampai di rumah.
“Sedikit, tapi gapapa kok. Biasa, Jingga kalau mau dapet,” jawab Jingga tersenyum tipis lalu ia sedikit memanyunkan bibir ketika mengingat kembali perbuatan suaminya tadi di sekolah.
“Pembalut kamu masih aman?”
“Gak tahu! Jingga lupa,” kata Jingga langsung beranjak dan menuju kamar mandi, pinggang nya kembali terasa nyeri. Seluruh tubuh nya pegal dan gejala gejala awal wanita setiap kali akan kedatangan tamu bulanan, kini menghinggap di diri Jingga.
Melihat Jingga yang sudah masuk ke dalam kamar mandi, membuat Langit hanya bisa menghela nafas na berat. Ia pun segera melangkahkan kakinya menuju walk in closed dna melihat laci penyimpanan roti spesial Jingga. Merasa masih aman, Langit segera keluar dan menuju dapur untuk membuatkan minuman hangat.
Inilah rutinitas Langit setiap kali mengingat Jingga akan kedatangan tamu bulanan. Ia tidak mau kejadian kejadian sebelumnya kembali terjadi. Seperti kehabisan pembalut, atau apapun itu yang memicu berubah nya mood Jingga.
Setelah selesai membersihkan diri, Langit dan Jingga pun menikmati makan malam nya. Sambil sesekali bercanda, meskipun Langit jarang tersenyum, namun Jingga tak henti henti nya untuk mengajak suaminya bercanda dan bercerita.
__ADS_1
“Mas, kira kira ada cita cita gak buat ngajak Jingga honeymoon?” tanya Jingga di tengah acara makan malam nya, hingga membuat Langit yang sedang menikmati makanan nya tersedak.
Uhukkk hukk uhukkk!
Dengan sigap, Jingga segera menuangkan air minum dan memberikan nya kepada Langit. Sambil sesekali menepuk tengkuk suaminya, “Makan pelan pelan kenapasih? Jingga gak bakal minta kok!”
“Kamu tadi tanya apa?” tanya langit tanpa mengidahkan ucapan Jingga.
“Honeymoon? Bulan madu!” kata Jingga, lalu ia kembali mengambil tempat duduk nya, “Kita menikah sudah berapa lama sih, Mas?”
Uhukk hukk uhukk
“Astaga Mas, makan keselek, minum pun juga keselek! Ckckc!” Jingga menggelengkan kepalanya dan berdecak melihat suaminya yang terus terusan tersedak.
__ADS_1
“Pertanyaan kamu yang membuat ku tersedak!” seru Langit menghela nafas nya dengan cukup kasar, “Kamu sadar dengan apa yang kamu ucapkan barusan?”
“Justru karena Jingga sadar, makanya Jingga nanya. Mas laki laki, normal kan?” tanya Jingga langsung menatap suaminya dengan dahi berkerut, “Kalau mas Normal, pasti—“
“Cepat selesaikan makan kamu! Habis itu istirahat, sebelum otak kamu semakin konslet!” saut Langit dengan cepat.
Jingga pun langsung mendengus mendengar respon suaminya, namun bukan Jingga namanya kalau dia langsung menurut begitu saja. Ia pun beranjak dari tempat duduk, Langit berfikir bahwa Jingga merajuk dan hendak pergi begitu saja.
Namun, lagi lagi ia salah. Bukan pergi, tapi Jingga malah langsung duduk di pangkuan Langit begitu saja. Tentu saja Langit begitu terkejut dengan ulah Jingga, hingga membuatnya kehabisan kata kata.
“Sebenernya, Jingga pengen cobain ini udah sejak sebelum ujian. Jingga waktu itu gak sengaja baca novel khusus dua puluh satu ke atas. Yah, meskipun umur Jingga masih jauh di bawah itu, tapi umur mas Langit jauh di atas itu kan. Jadi—“
“Maksud mu aku tua!” saut Langit dengan cepat memotong ucapan Jingga.
__ADS_1
Jingga langsung melebarkan senyum nya, tapi ia masih enggan untuk pergi. Melihat Langit yang mendengus kesal dan memalingkan wajah, membuat Jingga semakin berani menyentuh wajah suaminya. Hingga membuat langit semakin tak bisa berkutik, ketika keimanan nya di uji oleh istri nya sendiri.
‘Jingga udah siap kalau mas, mau ngajakin main bola!’ bisik Jingga begitu sensual di telinga Langit, hingga membangunkan aura aura yang berada di dalam diri Langit.