Langit Jingga

Langit Jingga
Takut ke rumah sakit


__ADS_3

...~Happy Reading~...


“Kenapa kamu berhenti mendadak begini? Kamu tau kan kalau ini bahaya!” sentak Langit ketika sudah membuka pintu mobil Jingga.


Ya, gara gara Jingga yang berhenti mendadak, membuat Langit pun secara tak sengaja menabrak mobil belakang Jingga. Walau tidak parah, namun tetap saja mobil belakang Jingga dan mobil depan Langit penyok. Bukan juga masalah uang untuk Langit, bila harus memperbaiki nya. Hanya saja ia sangat khawatir dengan keselamatan istrinya. Karena tadi tabrakan lumayan sedikit kencang.


“Mas, jangan marah marah! Mas udah tabrak Jingga loh,” keluh nya sambil meringis dan menggigit bibir.


“Astaga, gimana mas gak marah, kalau kamu begini hah!” Langit mengusap wajah nya dengan kasar. Sebenarnya, ia juga tidak tega memarahi Jingga apalagi sampai membentak nya. Namun itu secara reflek dan spontan dar gerak tubuh nya karena khawatir.

__ADS_1


“Mas .. kok perut Jingga sakit, hiks hiks.” Jingga mengangkat kedua kaki nya, dan menekuk di atas kursi. Posisi duduk nya miring dengan tangan yang memeluk perut, “Mas Langit nabrak Jingga kenceng banget, sakit Mas ... “


Melihat Jingga yang terus meringis dan menahan perut nya, membuat nya semakin panik dan khawatir, Namun, sekuat apapun Langit berusaha agar tidak goyah dan terpancing untuk memaafkan Jingga. Karena ini bukan kali pertama Jingga salah dan dirinya selalu memaafkan nya.


“Ayo ke rumah sakit,” kata Langit menghela napas kasar.


“Gak mau! Jingga mau pulang aja, Jingga takut di suntik hiks hiks.”


Dengan sabar, Langit membukakan sabuk pengaman yang di kenakan Jingga. Lalu ia mengangkat tubuh Jingga dan membawa ke mobil nya.

__ADS_1


“Mas .. sakit banget!” pekik Jingga begitu lirih dan gigitan di bibir itu semakin kuat hingga tanpa sadar membuat bibir Jingga berdarah.


“Astagfirullah, Sayang!” kini bergantian Langit lah yang memekik, dirinya semakin panik dan terkejut kala melihat bibir Jingga sampai berdarah karena di gigit oleh Jingga sendiri. Itu menandakan bahwa Jingga memang tengah menahan sakit yang luar biasa. Ia pun segera meletakkan Jingga di kursi samping kemudi nya. Tak lupa, ia juga memasang sabuk pengaman, barulah setelah itu ia melaju dengan kecepatan penuh menuju rumah sakit.


Sepanjang perjalanan, Jingga terus menangis merengek kepada Langit. Bukan hanya karena sakit, namun Jingga menangis karena dirinya tidak mau di bawa ke rumah sakit. Dirinya paling takut dengan yang nama nya rumah sakit, sehingga membuat nya semakin merasa panik sendiri.


“Jingga gak mau Mas, hiks hiks hiks. Jingga gak mau!!” seru Jingga terus meronta di dalam mobil, namun Langit hanya diam dan fokus pada jalanan di depan nya.


“Mas, kepala Jingga pusing,” keluh Jingga namun kini suaranya semakin lirih, dan beberapa saat kemudian Jingga pingsan dan tak sadarkan diri.

__ADS_1


Langit semakin panik, namun ia berusaha mengendalikan diri untuk tetap fokus menyetir, atau dirinya akan kembali mencelakai Jingga. Setelah beberapa saat, mobil yang di tumpangi Langit dan Jingga sudah sampai di sebuah rumah sakit terbesar di kota nya. Ia segera turun dan mengangkat tubuh Jingga.


Langit terus berteriak memanggil petugas medis sambil menggendong tubuh istri nya. Hingga, tiba tiba ada seorang dokter yang mendekati nya hingga membuat Langit langsung menghentikan langkah nya menatap dokter tersebut.


__ADS_2