Langit Jingga

Langit Jingga
Menghapus


__ADS_3

...~Happy Reading~...


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih tiga puluh menit. Kini Langit sudah sampai di sebuah apartemen milik seseorang. Ia bergegas untuk segera masuk dan menemui sang pemilik nya.


"Woahh, lihat siapa ini yang datang!" ujar seseorang yang langsung bertepuk tangan kecil, menyambut kedatangan Langit di sana.


"Aku butuh bantuan mu, " ucap Langit to the point, lalu ia segera mengatakan tujuan nya datang ke sana.


"Wajah mu sangat sembab. Oh ayolah, jangan bilang kau habis menangis?" tanya nya mengerutkan dahi, "Come on Lang, itu sudah sangat lama. Dan juga—"


"Jangan bahas apapun lagi!" ujar Langit dingin, "Aku mau kamu membereskan dia, " kata nya seraya melemparkan sebuah amplop coklat je atas meja.


"Hahaha, dan pada akhirnya kau mau aku yang turun tangan?ckckc! kenapa tidak dari dulu!x ucap laki laki itu berdecak.


" Selesaikan secepat nya. Dan aku ingin kamu bereskan juga semua Taman Biru."

__ADS_1


Seketika itu juga tawa laki laki tersebut langsung berhenti. Ia menatap Langit dengan tatapan tak percaya. Benarkah Langit menyuruh nya membereskan taman? Oh god, setelah beberapa tahun dirinya tidak bertemu dengan Langit, dan kini Langit menemuinya dengan membawa berjuta kejutan. Entah apalagi yang ia tidak ketahui selama ini. Karena ia juga tahu, bagaimana penting nya taman taman itu untuk Langit.


"Kamu serius? taman Biru?" tanya nya sekali lagi untuk memastikan bahwa pendengaran nya tidaklah rusak.


"Aku pergi!" Langit begitu enggan untuk menjawab, ia segera pamit dan pergi meninggalkan apartemen dengan perasaan sedikit lega.


'Maafkan aku Bi, harusnya aku melakukan ini sejak dulu. Maaf bila aku terlalu mengikat mu,' gumam Langit dalam hati sambil fokus dengan setir mobil nya.


Setelah dari apartemen, Langit pun pulang ke rumah nya. Ia menyuruh beberapa pembantu nya untuk membersihkan kamar Biru. Langit juga meminta agar para pembantu nya untuk membakar habis semua brang itu agar dirinya maupun Jingga tidak lagi melihat nya.


Sementara itu, Jingga yang masih berada di rumah sakit. Kini mengalihkan pandangan nya ketika mendengar suara pintu yang di buka oleh seseorang.


"Halo Jingga, " sapa nya. Seorang dokter wanita yang begitu mirip dengan orang yang ia benci.


"Aku benci sama dokter. Bisakah dokter pergi?" pinta Jingga tanpa mau menatap ke arah lawan bicara nya.

__ADS_1


"Kenapa kamu membenci ku? apakah kamu tidak ingin bertemu dengan ku?"


"Tidak!" jawab Jingga dengan cepat, hingga membuat dokter itu tersenyum getir.


"Jingga, maaf... "


"Jangan meminta maaf. Biarkan aku memiliki alasan untuk membenci seseorang, hiks hiks hiks." Jingga kembali terisak ketika mendengar suara dokter Zara.


"kamu bisa membenciku. Tapi jangan benci diri kamu sendiri. Berhenti menyalahkan hidup mu Jingga. Aku mohon, aku hanya ingin melihat kamu bahagia," ujar nya dengan tulus.


"Tapi aku memang terlahir untuk tidak bahagia!" seru Jingga yang kembali berlelehan air mata.


"Maaf, harusnya aku kembali sejak lama. Membawa mu pergi dari sana. Tapi—"


"Aku gak butuh permintaan maaf kamu! pergi dari sini. Pergiiii!" teriak Jingga langsung melemparkan bantal dan beberapa benda yang ia raih kepada dokter Zara.

__ADS_1


Sementara itu, dokter Zara hanya mampu menahan tangis nya ketika melihat kehancuran Jingga. Menyesal, dirinya sangat menyesal karena sudah membuat gadis itu sangat rapuh.


__ADS_2