
...~Happy Reading~...
Pagi harinya, Jingga baru keluar dari kamar nya. Ia mencari keberadaan putra dan putri nya yang sejak kemarin tidak ia lihat.
"Sayang... kalian dimana?" panggil Jingga namun kedua anak nya tidak ia temukan.
"Non Jingga sudah bangun? mau langsung sarapan Non?" tanya sang bibi ketika melihat Jingga menuju meja makan.
"Anak anak saya dimana Bi? Raihan juga?" tanya Jingga sembari mendudukkan diri di kursi.
"Oh tadi, den Raihan bilang mau jalan pagi Non, " jawab Bibi yang langsung di balas O ria oleh Jingga.
Saat Jingga tengah menikmati sarapan nya, tiba tiba ia mendengar suara langkah kaki yang berlarian dari arah depan. Ia tahu bahwa itu suara anak anak nya. Ia pun memutar kursi nya dan menyambut kedatangan mereka.
Namun, saat dirinya hendak berdiri. Tiba tiba ia merasa seolah nafas nya terhenti. Tidak hanya itu, bahkan kini tubuh nya bergetar ketika melihat kedua anak nya datang bersamaan dengan seseorang.
__ADS_1
"Ka—kalian... " gumam Jingga dengan mata berkaca kaca namun hatinya begitu sesak.
"Bunda, lihat deh. Bintang sudah membawa Ayah, tadi—"
Jingga sudah tidak bisa mendengar perkataan putri nya dengan jelas. Kini matanya semakin berkunang kunang, hingga pada akhirnya ia kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke lantai.
Brug!
"Bundaaaa!" pekik Bintang dan Angkasa bersamaan.
"Bunda bangun, Bunda. Bunda bangun! " kedua anak itu begitu panik hingga terus mengguncang tubuh Jingga.
"Sayang... " Langit pun tak kalah panik, ia segera mengangkat tubuh Jingga dan membawa nya ke kamar.
Seharusnya Langit masih berada di luar kota. Namun, pagi pagi sekali tadi dirinya memilih segera pulang lantaran semalaman penuh dirinya terus terbayang akan pertemuan nya dengan Jingga.
__ADS_1
Ketika dirinya sampai di Jakarta, ia segera mendatangi rumah Raihan. Dan bertemulah ia dengan Raihan yang memang sedang mengajak dia sepupunya jalan pagi.
Sebenarnya dulu Langit pernah mendatangi rumah itu, hanya saja dulu dia terlambat karena rumah itu sudah kosong dan pembantu mengatakan bahwa Raihan dan keluarga nya sudah ke luar negri.
Hal yang tidak pernah Langit duga sebelumnya, bahwa ternyata kedua anak kecil yang kemarin ia kira adalah anak dari Jingga dan Raihan, ternyata mengenal nya dan langsung berlari memeluk nya serta memanggil dirinya dengan sebutan ayah.
Pada akhirnya, Raihan menjelaskan semuanya kepada Langit tentang kesalahpahaman selama ini. Raihan juga mengatakan bahwa Nathan dan Zara adalah orang tuanya yang berarti kakak dari Jingga.
Langit bernafas lega, karena pada akhirnya ia mengetahui semuanya. Jingga masih milik nya dan masih mencintai nya. Hanya saja, ada hal yang membuat hati Langit sedikit mengganjal. Raihan yang mengetahui nya pun memilih diam dan meminta agar Langit berbicara sendiri dengan Jingga. Karena Raihan merasa dirinya tidak berhak.
"Hiks hiks Bunda bangun bunda." gumam Bintang terus meracau mengguncang tubuh Jingga.
"Ssttt sudah yah. Ayah sudah menelfon dokter, jangan khawatir," ujar Langit begitu lembut mengusap kepala Bintang, berusaha untuk menenangkan nya.
"Padahal wajah Ayah ganteng, kaya Asa. Tapi kenapa Bunda pingsan hiks hiks. Ayah bukan hantu kan?" celetuk Bintang di sela isak tangis nya dan seketika membuat tangan Langit langsung terhenti di udara dengan raut wajah bingung nya.
__ADS_1
'Apakah wajah ku seseram itu?' gumam Langit dalam hati namun tetap ber ekspresi datar.