Langit Jingga

Langit Jingga
Menggoda


__ADS_3

"Jingga, jangan mengujiku!" seru Langit tertahan.


Tidak ingin membuat dirinya berada dalam posisi tidak nyaman. Akhirnya Langit memilih beranjak dari tempat duduk nya. Namun, Jingga masih tetap kekeuh untuk bertahan dan kini, gadis itu malah semakin mengeratkan pelukan nya.


Bukan hanya pelukan, bahkan kini Jingga sudah melingkarkan kakinya pada pinggang Langit. Sehingga bisa di pastikan bagaimana dekat nya, posisi keduanya saat ini.


"Jingga, berhenti menggoda ku! atau kamu akan menyesal!" gumam Langit lirih namun seolah seperti menahan kesal.


"Mas, masa sih sampai sekarang, mas belum ada perasaan sama Jingga?" tanya Jingga sedikit memanyunkan bibir nya. Tangan nya begitu sibuk bermain dengan kancing piyama yang di kenakan oleh Langit.


Meskipun Langit selalu menuruti kemauan Jingga, selalu memenuhi kebutuhan nya, dan juga selalu perhatian padanya. Namun, hingga kini Langit belum juga menyatakan perasaan nya.


Langit hanya mengatakan ingin mencoba, dan menyuruh Jingga agar membuatnya jatuh cinta. Namun, Jingga yang tidak tahu bagaimana caranya, selama ini hanya bersikap biasa saja, sampai melupakan misi nya.


"Selesaikan sekolah kamu, dulu!" ujar Langit setelah menghela nafas berat.


"Sekolah Jingga kan, udah selesai!" jawab nya sedikit ketus, "Mas Langit sendiri yang udah ngelarang Jingga untuk sekolah. Terus sekarang suruh nunggu selesai. Selesai yang kaya gimana lagi maksud mas? hem?"

__ADS_1


"Turunlah," perintah Langit namun tak di idahkan sama sekali oleh Jingga.


"Mas, kata novel yang Jingga baca nih ya, cowok itu mudah di pancing. Jingga sedikit heran dengan istilah itu, memang nya cowok itu ikan yah? kok di pancing?" tanya Jingga mengalihkan pembicaraan, namun tangan nya sejak tadi masih saja bermain main di area dada bidang sang suami.


"Turun, Jingga... " perintah Langit lagi, namun Jingga langsung menggelengkan kepala nya.


"Jingga mau jadi istri mas Langit."


"Kamu sudah menjadi istri ku!"


"Tapi belum seutuh nya!" jawab Jingga lagi dengan cepat, meralat ucapan Langit yang tidak sejalan dengan nya.


Tanpa sadar, kini mata keduanya saling menatap. Dan tangan Langit kini mulai merambah mengusap rambut kepala Jingga dengan begitu lembut.


"Bismillah aja," jawab Jingga dengan santai namun terlihat begitu yakin.


"Jingga... aku gak mau memaksa kamu?" ucap Langit seolah masih berat untuk menuruti kemauan istrinya.

__ADS_1


"Gendong, ke kamar!" rengek Jingga begitu manja ia pun mendaratkan kepala nya tepat di dada bidang sang suami, serta pinggul nya asik bermain di tempat nya mendarat.


(Coba inget posisi Jingga dimana 🙈)


"Mas... " bisik Jingga begitu lirih, tangan nya semakin berani, untuk mengusap rahang kokoh suaminya.


Rahang yang sudah di tumbuhi bulu bulu halus, yang habis di cukur namun tidak habis. Bisa di bayangkan bukan, betapa mulus nya.


(Kebalikan mulus ya)


"Jingga, jangan sampai kamu menyesal!" gumam Langit dengan suara serak nya, semakin ia berusaha memungkiri namun nyatanya kini godaan Jingga semakin sulit untuk ia hindari.


"Ke kamar yuk!" ajak Jingga lagi dengan suara begitu sensusal, serta pinggul yang sejak tadi belum ingin berhenti bergerak.


"Jingga penasaran, bener gak sih mas Langit puasa selama puluhan tahun begini? kuat banget," imbuh Jingga seolah berfikir keras.


"Kamu pikir aku laki laki apaan!" seru Langit yang langsung membuka mata nya dan berdecak menatap Jingga.

__ADS_1


"Hehehe, Jingga kan cuma penasaran. Karena— aaahhhh!"


__ADS_2