
“Om nemu dimana sih temen kaya gitu. Ih sumpah ngeselin banget!” keluh Jingga menghela nafas nya kasar ketika melihat Maxim yang sudah keluar dengan membawa Gerry.
Sementara Langit hanya diam dan menggelengkan kepala nya, pertanyaan itu salah. Harusnya mengapa dirinya bisa nemu gadis bar bar abstruk seperti Jingga, harusnya seperti itu, batin Langit.
“Kamu mau ngapain kesini?” tanya Langit mengalah dan memilih mengalihkan pembicaraan.
“Oh iya sampai lupa,” Jingga terkekeh sendiri dan raut wajah nya langsung berubah menjadi seceria mungkin, walau sebenarnya hatinya masih sedikit gondok kepada teman Langit.
“Jingga bawain makanan spesial buat ayank,” kata Jingga menahan tawa nya karena begitu geli memanggil Langit dengan sebutan itu.
“Aku gak suka dengan sebutan itu!” protes Langit tak suka, namun Jingga malah menggelengkan kepalanya seolah tanda tak boleh protes.
__ADS_1
“Gapapa kali, kan Jingga udah jadi sugar baby nya OM. Jadi kita pacaran yah,” kata Jingga mengerjabkan matanya berulang kali menatap Langit.
“Aku bisa memberikan mu uang jajan, tapi bukan menjadi seorang baby sugar.” Ujar Langit dengan tegas, “Apa orang tua mu tidak memberikan mu uang sampai kamu memilih jalan seperti ini?”
“Orang tua kamu bekerja keras untuk menyekolahkan kamu. Tapi kamu malah bandel seperti ini, apa kamu tidak kasihan dengan mereka?” kata Langit sok bijak, padahal dulu sewaktu sekolah, kelakuan nya jauh lebih parah dari Jingga, tentu saja sebelum bertemu dengan Biru, “Jangan terlalu memikirkan gaya penampilan. Hidup apa adanya asal dari pendapatan halal, bukan seperti ini.” imbuh nya hingga membuat Jingga mendengus.
Sebenarnya, dirinya tak perlu menjadi sugar baby bila hanya ingin bergaya dan makan atau sekolah. Semua itu sudah jauh lebih cukup dari pemberian papa nya, hanya saja Jingga merasa begitu kesepian dan ingin melupakan rasa sakit hatinya karena Bagas. Maka dari itu ia harus mencari pacar baru, dan Jingga tidak memiliki kandidat yang cocok untuk pengganti Bagas.
“Jadi om gak mau ngerusak Jingga?” tanya Ingga polos.
“Kamu pikir aku lelaki apaan!” cetus Langit berdecak kesal.
__ADS_1
“Hehehe, bagus kalau begitu. Kalau memnag om gak mau jadiin Jingga sugar baby, kalau gitu jadiin Jingga istri om,” kata Jingga lurus tanpa halangan apapun.
“Otak kamu semakin ngaco!”
“Jingga serius, Jingga gak mau pacaran lama lama. Karena pacaran Cuma nyakitin hati aja, jadi Jingga mau menikah sama OM. Ayo om, kita nikah aja, toh om juga jomblo kan. Kita sama sama jomblo, cuma bedanya Jingga jomblo fresh dan om jomblo karatan. Tapi beneran deh, Jingga gapapa, Jingga ikhlas, suer!” ucap Jingga panjang lebar dan memberikan dua simbol jarinya membentuk huruf V kepada Langit.
“Lebih baik kamu cari laki laki lain. Yang seumuran dengan kamu, aku tidak tertarik dengan mu, apalagi menikah. Aku masih ingin hidup panjang!”
“Maksud om kalau om nikah sama Jingga, om bakal cepet mati!” seru Jingga langsung menatap kesal pada Langit.
“Maybe, yang jelas tekanan darah ku akan selalu naik bila ada kamu.”
__ADS_1
“Gapapa naik, nanti Jingga bantu turunin. Percaya deh,” kata Jingga polos dengan senyum mengembang di wajah nya.