
Langit hanya bisa menatap ketiga makam yang saling berdekatan itu dengan rasa penuh kekecewaan, kesedihan dan kehampaan. Delapan belas tahun yang lalu, dirinya masih seorang anak SMA, menangis, marah dan berteriak melepas kepergian kekasih nya, Biru. Dan kini, ia merasa seolah seperti dejavu ketika harus memakam kan kedua mertua nya tepat di samping makam Biru.
Masih bisakah Langit menyebut nya kekasih? Tidak, Biru sudah bukan kekasih nya, namun ia menjadi kakak ipar nya. Lucu bukan, rasanya Langit ingin tertawa, mentertawakan takdir nya yang sangat mengejutkan.
“Aku masih gak nyangka dan gak percaya kalau dunia mu ternyata tak seluas langit angkasa,” ucap Maxim menepuk bahu Langit sambil matanya masih tetap fokus menatap tiga gundukan makam di depan nya.
Jangan tanyakan dimana keberadaan Jingga, karena seharian ini ia sudah pingsan berkali kali karena tidak bisa menerima kenyataan orang tuanya meninggalkan nya bersamaan. Ia masih sangat terpukul, sehingga kini gadis itu tertidur di dalam mobil. Bukan tidur, lebih tepat nya pingsan, dengan di temani oleh Raihan, (namun pintu mobil terbuka.)
__ADS_1
“Padahal, hari ini aku dan Maxim, mau ke kantor mu Lang, mau ngasih kabar kalau Jingga adalah adik Biru. Tapi ternyata, kamu sudah tahu lebih dulu, bahkan kamu sudah mencuri start menikahi nya.” Imbuh Gery seketika membuat Langit langsung menatap ke arah nya dengan tajam.
“Lang, di satu sisi, aku seneng karena akhirnya kamu melepas masa lajang mu. Sekarang, di depan makam Biru, aku mau ngasih ucapan selamat ke kamu. Meskipun bukan waktu yang tepat, tapi aku berharap kamu benar benar bisa membuka hati dan mencoba mencintai Jingga. Lupain Biru, dan buka lembaran baru dengan Jingga,” ucap Gery panjang lebar.
“Inget Lang, Biru sudah bahagia. Kini sekarang dia di sana bersama orang tua nya. Sementara Jingga hanya punya kamu, saat kini. Entah saat beberapa tahu ke depan,” imbuh Maxim setuju dengan ucapan Gery, ”Intinya, kami hanya ingin kamu bahagia Lang. Dan aku berharap, semoga Jingga gak menyesal setelah menikah dengan mu.”
Langit hanya bisa menghela nafas nya dengan berat. Ini terlalu sulit untuk nya, apa ia bisa mencintai Jingga seperti ia mencintai Biru? Rasanya baru kemarin Biru meninggalkannya. Mengapa kini sudah ada Jingga yang seperti Biru, meski wajah keduanya berbeda, namun sorot mata Jingga sangat mirip dengan Biru. Apakah ia bisa benar benar melupakan Biru? Batin nya bertengkar seolah tak ingin melupakan Biru, namun ia juga sadar bahwa Jingga kini sudah menjadi tanggung jawab nya.
__ADS_1
‘Bagaimana caraku untuk menghapus mu dari hatiku? Bantu aku.’ Gumam Langit sambil mengepalkan tangan nya dengan kuat. Ia menatap ke atas, dimana Langit sore ini terlihat begitu mendung, seolah tahu bagaimana suasana hatinya ketika kembali harus berduka.
‘Apa kamu sudah benar benar bahagia di sana? Orang tua kamu sudah bersama mu saat ini. Izinkan aku untuk menjaga adik kamu, maafin aku Biru. Maaf.’ Air mata Langit kembai menetes ketika mengingat kenangan kenangan nya bersama Biru dahulu kala. ‘Dulu, disini aku melepaskan mu pergi, dan hari ini aku mengantarkan orang tua kita menemui mu. Bahagia lah ... ‘
“Langit?” panggil seorang laki laki yang seumuran dengan Langit dan teman teman nya, sehingga membuat ketiga lelaki dewasa itu langsung membalikkan tubuh dan menatap seseorang tersebut.
“Woahh, aku gak nyangka, kalau pada akhirnya kamu kembali ke Indonesia,” ucap nya lagi, lalu ia menghampiri Langit dan teman teman nya.
__ADS_1