
"Cium tangan dulu!" ucap Langit ketika Jingga hendak turun dari mobil.
Tanpa banyak berkata, Jingga pun langsung mencium tangan Langit dengan cepat. Dan ketika Langit hendak mengecup kening Jingga, tiba tiba gadis itu sudah mundur cepat dan segera pamit berlari masuk kelas karena sudah terlambat.
"Mas hati hati ya, bye!"
Langit hanya mampu menghela nafas nya dengan kasar. Ia tidak menyangka bahwa memulai hidup baru itu sangat sulit. Terlebih pasangan kita masih anak sekolahan, Langit mengusap wajah nya dengan kasar lalu segera pergi menuju kantor.
"Jingga tunggu!" seru Raihan ketika melihat Jingga yang berlarian di Koridor.
"Apa?"
"Kamu udah gapapa kan?" tanya Raihan masih sedikit khawatir.
"Aku gapapa kok, oh ya ada gosip gak selama aku gk masuk?" kata Jingga malah balik bertanya, kini dirinya sudah tidak berlari melainkan berjalan santai dengan Raihan.
"Kamu yakin mau dengerin gosip?"
__ADS_1
Langkah Jingga tiba tiba terhenti ketika mendengar pertanyaan dari Raihan. Memang nya kenapa kalau ia ingin mendengar gosip? batin nya.
"Ada apa?" tanya Jingga lagi mengerutkan dahi nya. Kini dirinya sudah sampai di kelas, namun masih di depan karena ingin mendengar gosip dari Raihan.
"Nanti istirahat deh, tuh bu Yasmin udah dateng. Aku duluan!" kata Raihan segera berlari menuju kelas nya karena bel masuk sekolah sudah bunyi sejak tadi.
Jingga dan bu Yasmin saling menyapa untuk sesaat. Tak lupa, bu Yasmin mengucapkan bela sungkawa kepada Jingga lalu mempersilahkan murid nya segera masuk ke kelas agar pelajaran segera di mulai.
Sementara itu, Langit yang baru saja sampai di kantor langsung di buat uring uringan oleh tingkah Maxim yang sangat menyebalkan menurutnya.
"Sudah Max. Lebih baik sekarang kamu urus apa yang ku katakan tadi. Aku gak mau kalau nanti Jingga pulang dan masih melihat lemarinya penuh sama warna itu saja!" kata Langit sambil memijit pelipis nya.
Tapi di sisi lain, Maxim juga ada rasa sedikit kelegaan karena Langit begitu kekuh untuk menambah warna. Dan takut Jingga marah terlalu lama. Bukankah itu berarti Langit sudah mulai membuka hati untuk Jingga.
"Tunggu Max!" panggil Langit ketika Maxim hendak keluar dari ruangan nya.
"Apa lagi sih Lang!" seru nya dengan kesal.
__ADS_1
"Hemmm sekalian carikan pakaian tidur couple, mungkin." ujar Langit sedikit ragu, namun mampu membuat telinga Maxim seperti aneh.
"Couple?" gumam Maxim mengulang kata kata Langit takut salah mendengar, "kamu mau pakai baju couple? Sama Jingga?"
"Dia istriku, kenapa memang nya?" tanya Langit dengan nada tak suka.
"Iya iya aku tahu, dia memang istri mu bukan istri ku. Tapi, kamu yakin mau pakai—"
"Jangan berisik Max, cepat lakukan. Ah iya jangan sampai salah warna lagi!" cetus nya dengan wajah datar.
Maxim masih terdiam di depan pintu, masih mencerna dan membayangkan bagaimana bila Langit memakai pakaian couple dengan Jingga.
Sejak sekolah hingga kini, Maxim begitu haf dengan raut wajah Langit. Dingin, arogan, sombong, datar.
Sekarang, tiba tiba dia meminta baju couple, warna Jingga. Apakah nanti tidak akan jomplang, pikir Maxim terkekeh..
'Sepertinya singa sudah mulai terperangkap di kandang baru.' gumam Maxim menahan tawa nya membayangkan Langit memakai pakaian cute dan lucu.
__ADS_1
"Max!" panggil Langit lagi karena melihat Maxim yang malah tersenyum sendiri di depan pintu nya.
'Tunggu saja Lang, akan ku berikan apa yang kau mau!' gumam Maxim lagi dalam hati, ia tidak menjawab panggilan Langit ia hanya menatap Langit sekilas dengan senyum menyeringai. Lalu ia segera keluar begitu saja.