Langit Jingga

Langit Jingga
Gara gara Bagas


__ADS_3

“Meskipun umur kita terpaut begitu jauh, tapi aku akan berusaha untuk membuat kamu nyaman dan membahagiakan kamu. Seperti janji ku pada Ayah, kita mulai semuanya dari awal. Karena kita sudah menikah, jadi kita sama sama berlayar, berjuang menuju kebahagiaan, “Will you spend your time with me? Dan menjadi ibu dari anak anakku?”


Jingga mencerna ucapan langit dengan sangat hati- hati. Jangan tanyakan kondisi jantung nya saat ini, karena dia sendiri juga sudah tidak tau bagaimana kabar nya. Tubuhnya masih menegang bahkan untuk menelan Saliva nya sendiri pun terasa begitu sulit.


“O—Om, eh maksud ku. Mas, kamu nembak Jingga? Tunggu, kok nembak? Ngelamar? Tapi kita sudah menikah? Terus ini apa?” tanya Jingga langsung mengerutkan dahi nya.


Di saat saat seperti ini, memang otaknya sangat sulit untuk di ajak bekerja sama. Sehingga, meski dirinya sudah mencerna dan memikirkan sejak tadi, nyatanya otak nya masih saja lola.


Tangan Langit kini semakin terulur untuk mengusap rambut Jingga, sangat lembut bahkan jemarinya semakin menjalar ke belakang kepala nya.


“Terserah kamu mau menyebut apa. Yang jelas, aku mau kita membuka lembaran baru, kita berlayar bersama mengarungi bahtera rumah tangga dan bahagia bersama.”

__ADS_1


“Om, astaga.” Lagi lagi Jingga menepuk mulut nya sendiri karena selalu kelepasan memanggil Langit dengan sebutan Om, “Mas Langit gak akan ninggalin Jingga juga kan?” tanya Jingga dengan raut wajah sendu nya.


“Aku selalu berusaha untuk setia terhadap pasangan ku. Dan aku sebisa mungkin akan selalu menjaga nya selama aku bisa,” jawab Langit begitu yakin, Jingga menatap mata Langit seolah mencari kebohongan di sana.


Nihil, mata Langit memang berkata jujur dan tulus.


“Jingga pernah punya pacar, kami sudah bersama selama tiga tahunan kurang lebih. Tapi, ternyata dia malah selingkuh dengan sahabat Jingga. Dia lebih mementingkan napsu nya daripada kesetiaan Jingga. “


“Kamu bilang begini bukan karena hanya ingin mendapatkan yang kamu mau aja kan?” tanya Jingga lagi memastikan.


“Apa yang ku mau?” kata Langit balik bertanya, kini ia sudah menggulingkan tubuh Jingga ke sebelah nya, sehingga kini posisi nya kembali seperti saat tadi tidur berpelukan.

__ADS_1


“Kalau Bagas aja udah punya napsu, pasti kamu lebih parah mungkin, karena umur mas Langit jauh lebih tua dari dia. Jingga takut kalau ternyata nanti kamu Cuma mau dapetin mahkota Jingga saja terus setelah itu kamu pergi dan—“


“Ssstttt!” Langit langsung meletakkan jari nya di bibir Jingga agar gadis itu berhenti berbicara, “Apakah wajah ku terlihat sangat mesumm?” tanya nya sedikit mengerutkan dahi.


“Bagas juga gak kelihatan mesumm, tapi ternyata dia bisa melakukan itu sama Nadin. Bahkan tidak cukup satu atau dua kali,” jawab nya lalu menarik nafas panjang dan menggigit bibir bawah nya.


“Aku Langit, bukan Bagas Bagas itu!” kata Langit sedikit berdecak.


“Tapi kalian sama sama laki laki,” jawab Jingga lagi ikut berdecak, “Jingga Cuma takut kalau kamu Cuma manfaatin—“


“Kalau aku hanya ingin manfaatin tubuh kamu, aku bisa menyewa jalaang di luar sana daripada harus terikat pernikahan seperti ini!” ucap Langit, kini wajah nya sudah berubah menjadi datar. Rasanya ia sudah lelah berdebat dengan Jingga.

__ADS_1


Percakapan yang awalnya sudah ia susun agar terlihat romantis, namun malah berakhir perdebatan karena laki laki yang bernama Bagas. Ingin rasanya Langit mengumpat dan menghajar laki laki tersebut karena sudah menjelekkan kaum laki laki karena perbuatan nya.


__ADS_2