Langit Jingga

Langit Jingga
Kata kata bijak Raihan


__ADS_3

...~Happy Reading~...


Langit yang sedang berbincang dengan Gerry, mendengar suara Jingga yang tengah terisak. Tanpa berlama lama, Langit segera membuka pintu ruangan Jingga dengan cukup kasar.


"Aku membiarkan mu masuk, untuk menghibur nya. Bukan untuk membuat nya nangis!" kata Langit menatap tajam pada anak remaja laki laki yang tak lain dan tak bukan adalah Raihan.


"Sayang... " Langit menghampiri Jingga, namun ketika hanya tinggal beberapa langkah sampai di depan Jingga, dengan cepat Jingga menghentikan langkah nya.


"Pergi, Mas!" ucap Jingga menatap suami nya dengan berderai air mata, "Kamu juga pergi Rai. Kalian semua pergi, aku mau sendiri," imbuh nya menundukkan kepala.

__ADS_1


"Jingga... "


"Aku bilang pergiii!" teriak nya sekuat tenaga lalu tiba tiba tubuh nya kembali lemas dan tak sadarkan diri.


"Jingga!" pekik ketika laki laki itu, dengan cepat Langit menekan tombol darurat dan tak berapa lama dokter datang dan memeriksa keadaan Jingga.


Sementara itu di luar ruangan Raihan langsung di sidang okeh Gery dan Langit. Mengapa bisa membuat Jingga menangis dan kembali drop. Namun Raihan dengan santai menjelaskan bahwa Jingga masih terpukul dengan keadaan nya. Tak hanya itu, Raihan juga mengatakan tentang ketakutan Jingga tentang Langit yang akan meninggalkan nya. Tentu saja hal itu membuat Langit dan Gery langsung terdiam.


"Dasar bocah SMP, sok sok an mau ngajarin orang dewasa." cetus Gery melepaskan jeweran nya.

__ADS_1


"Enak saja. Saya sudah kelas dua SMA!" ralat nya dengan kesal.


"Kau memang kelas dua SMA. Tapi umur mu masih kemarin sore, dan kamu berada di SMA karena prestasi mu di atas rata rata. Kalau otak mu cetek pasti sekarang kamu masih di SMP!" kata Gery mendengus. Walaupun yang di katakan Gery benar adanya. Namun Raihan tetap tidak Terima, selama ini dirinya sudah berusaha terlihat dewasa dan memanipulasi umur nya. Entah mengapa dia laki laki di depan nya ini bisa mengetahui rahasia nya.


"Ahh, sudahlah. Kalian orang dewasa benar benar tidak memiliki hati dan perasaan. Pantas saja Jingga tertekan, pasti karena selalu kalian tindas dan bully!" cetus Raihan menggerutu lalu ia segera pergi meninggalkan rumah sakit.


Tujuan nya hanya untuk menjenguk Jingga dan memberikan semangat. Dan kini dirinya sudah lega karena sedikit sedikit Jingga sudah mulai respon dan membaik. Besok, dirinya akan datang lagi untuk melihat perkembangan Jingga.


Sementara itu, Gery yang mendengar gerutuan Raihan lagi lagi mendengus. Bukan dirinya orang dewasa yang menindas Jingga. Namun Jingga lah yang selalu menindas mereka, terlebih ketika Jingga hamil beberapa waktu lalu. Gerry dan Maxim tidak pernah di buat istirahat sedikit, pasti ada saja hal yang di minta Jingga.

__ADS_1


"Lang, sepertinya Jingga takut kalau kamu akan mengejar dokter yang mirip Biru itu. Dan sepertinya Jingga memiliki trauma yang cukup besar akan hal ini, " ucap Gery menepuk bahu Langit.


"Aku tau," jawab Langit sedikit bergumam seraya memejamkan mata dan menghela napas nya berat.


__ADS_2