Langit Jingga

Langit Jingga
Hamil


__ADS_3

...~Happy Reading~...


Eugghh


Sebuah lenguhan yang keluar dari bibir Jingga, membuat Langit yang baru saja hendak tertidur langsung terbangun. Jam masih menunjuk angka lima pagi, Langit semalaman tidak bisa tidur karena sibuk memikirkan kehamilan Jingga. Bukan tidak bahagia, dia tentu saja sangat bahagia, hanya saja dirinya masih terkejut dan sedikit shok. Terlebih ketika mengingat kembali perdebatan nya dengan dokter wanita semalam.


"Sayang," panggil Langit langsung beranjak bangun dan mengusap kepala istri nya dengan penuh kelembutan.


"Kepala Jingga masih pusing," gumam nya lirih sambil sesekali masih memejamkan mata.


"Mau mas panggilin dokter?" tawar Langit, namun Jingga menggelengkan kepala nya, "Mau minum?"


"Jingga mau pecel." Lagi dan lagi, ternyata meskipun sudah kecelakaan dan pingsan, Jingga masih menginginkan makanan tersebut.


"Nanti mas cariin ya," kata Langit namun Jingga lagi lagi menggelengkan kepala nya, "Tubuh kamu masih lemah, jangan macem macem apalagi nekat kaya semalam. Mas gak suka!" ancam Langit membuat Jingga kembali bersedih.

__ADS_1


"Sayang ... ada yang mau mas bicara in sama kamu,"


"Apa?" tanya Jingga masih sedikit kesal dengan suami nya.


Jingga sudah sangat ingin keluar dari rumah sakit. Karena dirinya tidak betah berada di ruangan tersebut, terlebih ketika ia merasakan bahwa tangan nya kini terpasang selang infus, membuat tubuh nya semakin kaku menegang.


"Jingga ingat, kata kata Jingga yang ingin jadi mama?" tanya Langit begitu pelan dan lembut.


"Ingat!" Jingga menganggukkan kepala nya menatap mata Langit, "Mas juga mau kan? yuk kita bikin lagi!" imbuh nya dengan semangat.


Jika suaminya menginginkan hal itu, bukankah itu berarti dirinya akan segera pulang, batin Jingga bersorak.


"Bikin dede lagi lah. Biar cepet jadi, ayoo Mas! pulang sekarang!" ajak Jingga merengek seperti anak kecil yang menginginkan gulali kepada orang tua nya.


"Sayang, dengerin mas dulu." Langit menggenggam tangan Jingga, mengusap nya pelan dan menarik napas panjang, "Disini, sudah ada dede nya. Jadi kita—"

__ADS_1


"Tunggu!" Jingga langsung memegang tangan Langit yang berada di perut nya, "Jingga hamil?" gumam nya pelan dengan tatapan mata tak percaya.


"Hem," jawab Langit tersenyum, "Jadi udahan dulu ya main bola nya. Kasihan dede nya masih kecil disini. Dan mas minta tolong sekali sama Jingga, jangan nekat lagi kaya semalam. Jingga harus bisa menjaga setiap langkah Jingga," ucap Langit panjang lebar namun masih dengan suara yang begitu lembut.


Untuk sesaat, Jingga masih terdiam dan termenung. Mencerna kembali apa yang di katakan oleh suami nya. Apakah dirinya bahagia? tidak tahu, itulah yang di alami Jingga.


Dirinya masih tidak menyangka bahwa ternyata begitu cepat dia hamil. Jingga pikir, bahwa kehamilan akan datang setelah beberapa tahun mereka menikah, namun ternyata baru beberapa bulan, dirinya sudah hamil.


"Apa kamu tidak bahagia?" tanya Langit ketika melihat istri nya hanya diam dengan tatapan kosong.


"Bu—- bukan tidak bahagia. Hanya saja, kenapa begitu cepat?" kata Jingga malah balik bertanya, yang mana membuat Langit semakin mengerutkan dahi menatap Jingga.


"Kok, mas Langit lihatin Jingga begitu?" tanya Jingga ikut mengerutkan dahi ketika melihat wajah sendu suami nya.


"Jingga bahagia kok, sangat bahagia." ujar Jingga lalu ia tersenyum, "Tapi Jingga akan lebih bahagia. Kalau kita segera pulang dari sini. Jujur Jingga tidak bisa mengekpresikan kebahagiaan Jingga disini. Jingga takut, ayo pulang dulu dan bahas lagi di rumah. Jingga mohon," pinta Jingga begitu lirih sambil memeluk tubuh suami nya.

__ADS_1


Cklek


Mendengar pintu di buka, membuat Langit dan Jingga seketika mengalihkan pandangan ke arah pintu. Dan betapa terkejutnya Jingga ketika melihat seseorang yang datang memasuki ruangan nya.


__ADS_2