
...~Happy Reading~...
Maxim dan Gery hanya bisa terdiam dan saling menatap satu sama lain. Keduanya tidak menyangka bila ternyata Jingga benar benar pergi dari kehidupan Langit. Sedih, kasihan namun juga bimbang. Baik Maxim maupun Gery, mereka memahami apa yang di rasakan Jingga. Sangat tidak mudah baginya berada di posisi saat ini.
Dimana harus bersaing dengan orang yang sudah tiada. Tidak hanya itu, bahkan saingan nya adalah saudaranya sendiri. Berat bukan.
Namun, yang menjadi pertanyaan untuk Maxim dan Gery, kemana Jingga pergi. Dan harus berapa lama? Mereka percaya bahwa Langit pasti bisa menunggu, hanya saja memikirkan bagaimana kehidupan Jingga di luar sana, membuat kedua laki laki dewasa itu merasa cemas dan khawatir.
"Sudah lah Lang, ikhlaskan dan sabar. Bila kemarin kamu menunggu sampai waktu menjemput mu agar kamu bisa bertemu Biru. Sekarang kamu harus yakin dan bisa menunggu sampai Jingga kembali. Ingat Lang, yang kamu perjuangkan saat ini bukan orang mati, jadi kamu harus lebih bersabar sedikit," ungkap Maxim panjang lebar.
"Aku setuju dengan Maxim. Biarkan dia sendiri dulu, menenangkan diri untuk menerima semuanya. Sabar Lang," imbuh Gery yang sebenarnya tidak tahu harus bagaimana dan berkata apa untuk menenangkan sahabat nya.
__ADS_1
Langit hanya diam dan mendengarkan perkataan dua sahabat nya. Namun, matanya begitu menatap lurus dengan pandangan kosong.
'Kamu dimana, Sayang? apakah kamu sudah makan? obat kamu belum habis,' gumam Langit dalam hati nya terus menjerit karena merindukan sang istri.
'Sayang, dimana pun kamu berada. Jaga kesehatan, dan ingat lah bahwa aku akan selalu ada disini, menunggu kamu untuk pulang. Jangan terlalu lama di luar sana, cepatlah kembali. '
Langit menghela nafas dengan cukup kasar. Lalu ia segera bangkit dan menuju kamar mandi untuk mendinginkan pikiran nya. Sementara Maxim dan Gery, keduanya pun tak bisa berlama lama karena harus pulang. Sebelum pulang, Gery dan Maxim pun meminta tolong kepada para pekerja di rumah itu, bila terjadi apapun segera menghubungi mereka.
"Menurut mu, Jingga kemana?" tanya Maxim kepada Gery, sebelum keduanya memasuki mobil masing masing.
"Entahlah," jawab Gery seraya mengangkat kedua bahu nya, "Menurut mu, berapa lama anak itu akan pergi?" kata Gery balik bertanya.
__ADS_1
"Entahlah," jawab Maxim ikut mengangkat kedua bahu nya.
"Sial! kau meledek ku!" umpat Gery langsung memukul bahu Maxim.
"Aku hanya menjawab seperti yang kau jawab saat aku bertanya!" kata Maxim membela diri.
"Terserah lah, aku akan pulang!" cetus Gery segera memasuki mobil nya. Sementara Maxim hanya terkekeh lalu juga ikut memasuki mobil nya sendiri.
Setelah perdebatan kecil antara Maxim dan Gery, keduanya pun segera pulang ke rumah masing- masing.
'Jingga, Jingga. Kamu selalu memiliki cara ajaib untuk memberikan syok terapi pada kami semua,' gumam Gery di dalam mobil seraya menghela nafas nya kasar.
__ADS_1
Sementara Maxim, di dalam mobil nya kembali berfikir. Seolah flashback dengan kejadian akhir akhir ini. Jingga selalu mengikuti Langit ke kantor dan kemana pun Maxim berfikir mungkinkah Jingga sudah merencanakan kepergian nya, pikir nya