
Siapapun pengantin baru pasti suka kalau ke Bali. Sama halnya seperti Jingga dan Langit. Setelah acara resepsi dan temu kangen teman-teman SMA nya serta kejadian mengerikan yang menimpa Jingga, membuat Langit harus ekstra menjaga Jingga.
Mereka menghilangkan penat dan berjalan-jalan ke Pantai Kuta bersama dengan kawan-kawannya. Langit, Jingga, Juna, Nabila, Chika, Mala, Fahri, Bimo dan Kribo.
"Cuy, panas yak..." Ujar Mala yang kala itu sedang mengambil topi pantainya.
"Tadi untung udah pake sunblock." Ucap Chika.
"Lagu-laguan bae luh Chik pake sunblock. Biasa make semen juga. Hahaha..." Ujar Kribo yang mengundang tawa teman-temannya.
"Yeee... Kribo kalau ngomong gak make di ayak dulu." Ucap Chika yang mencibikkan bibirnya.
"Lang, jadi gak?" Tanya Bimo yang sudah prepare perlengkapan surfingnya di tas.
"Jadiin, cuy. Juna gimana? Ikut?" Tanya Langit kepada Juna yang sedang membantu Nabila untuk membuka tutup botol minum.
"Ayolah, sore kali lebih seru. Ini mah belum keliatan fokusnya." Ujar Juna yang membuat Nabila dan Jingga bingung.
"Mas Langit, mau ngapain deh?" Tanya Jingga yang bingung dengan percakapan Langit, Juna dan Bimo.
"Surfing." Jawab Langit dengan cengiran kudanya.
"Emang bisa?" Tanya Jingga dengan mengerutkan kedua alisnya.
"Yaaah... masa istri lo gak tau sih Lang. Ngga, yang bikin jiwa playboynya muncul tuh ya karena doi jago surfing. Wakakakak..." Ujar Kribo.
"Sue !! Jangan percaya, dek." Ucap Langit yang bersungut kepada Kribo sedangkan Kribo malah asyik tertawa.
"Oh, ya? Sebegitu mempesonanyakah kamu, Mas?" Tanya Jingga dengan senyum sumringahnya.
"Enggak, dek. Biasa aja." Ucap Langit yang mengelus lembut puncak kepala Jingga.
"Mas, Jun juga ikutan surfing?" Tanya Nabila yang habis menenggak air mineral di botolnya.
"Hehehe... izin ya... sebentar, Yang." Ujar Juna dengan cengiran kudanya.
"Iyaa... sayang..." Ucap Nabila yang mengelus lembut pipi Juna dan dibalas dengan mengecup telapak tangan Nabila.
"Lo bisa surfing juga, Bim?" Tanya Chika yang memberikan sunblocknya kepada Bimo. Karena sunblocknya Bimo tertinggal di hotel.
"Bimo mah gak usah ditanya, Chik. Doi pecinta extreme sport sama kayak Langit. Siap-siap jantungan deh pasangannya. Hahaha..." Ucap Fahri.
"Lo pada gak lomba aja?" Tanya Kribo.
"Iya. Taruhan. Yang kalah, traktir makan ayam betutu. Hahhaa..." Ujar Fahri.
"Gak." Ucap Bimo.
"Yah !! gak seru lo, Bim." Ucap Kribo.
"Cemen." Ujar Fahri yang sedang menyesap orange juice nya.
Bimo tidak menanggapi. Ia hanya terdiam dan mendengarkan celoteh teman-temannya. Ia justru memperhatikan Chika yang sejak tadi pipinya merona merah bagai kepiting rebus kala sinar matahari menyengat.
"Hooiiy..." Panggil Doni yang datang bersama dengan Vira, Daffa, Akbar dan Taqi.
"Wwooyy... kemana aje luh... dari tadi di ketokin kamar hotel gak nyaut-nyaut." Ucap Fahri.
"Biasa..." Jawab Doni asal.
"Si Tika mana?" Tanya Mala.
"Akuuuhh disiniihh..." Sahut Tika yang setengah berlari di atas lembutnya pasir pantai.
"Kemana aja luh?" Tanya Mala.
"Abis ngecengin cowok bule. Hahaha..." Ucapnya yang tertawa riang.
"Wihh... kita lihat pertunjukkan surfing nih kayaknya." Ujar Doni yang melihat Bimo, Langit dan Juna yang sudah siap dengan perlengkapan dan pakaian surfingnya.
"Tapi ombaknya belum keliatan cuy." Ujar Juna.
"Coba dulu aja." Ucap Langit yang diikuti anggukan oleh Bimo.
"Mas Langit, hati-hati." Ujar Jingga yang dipeluk mesra oleh Langit dan mendapat kecupan manis di keningnya.
Sama halnya dengan Juna kepada Nabila. Ia memeluk istrinya yang sedang hamil dan mengecup lembut perut serta kening Nabila.
Doni tak mau kalah. Ia yang menikahi Vira sejak setahun yang lalu, mencium sang istri di pipinya. Yang membuat Vira cukup terkejut.
Karena tak biasanya Doni mau melakukan adegan seperti ini di depan khalayak ramai. Vira hanya memandang Doni dan memeluk mesra suami tercintaahhnya...
*Duh ilee... udah kayak pake lem aibon. Nempel banget itu badan. 😄
"Bim, senyum dikit ape." Ucap Daffa kepada Bimo yang sedang stretching di pinggir pantai.
"Idih, jijik banget deh lu, Daf. Minta si Bimo senyum. Mau ngapain luh?" Tanya Fahri dengan tatapan mengintrogasinya.
"Gak ngapa-ngapain cumi. Sue, luh !!" Ucap Daffa dengan bersungut.
"Itu maksud Daffa, senyum dikit, Bim. Karena banyak noh yang ngeliatin lo. Cewek yang duduk di kanopi warna pink tuh." Ujar Akbar yang menunjuk kanopi pink dengan arah matanya.
"Bimo mana doyan cewek macem gitu. Hahaha..." Ucap Juna.
"Jangan sedih cuy. Selera ceweknya Bimo itu unik." Ujar Langit yang sejak tadi memperhatikan Bimo sedang melihat ke arah Chika.
Begitupun dengan Chika yang CCP (Curi-curi pandang) kepada Bimo dan ada saat mata mereka saling bertemu.
"Sotoy luh !" Ucap Bimo yang sambil meninju pelan lengan bisep Langit.
"Itu yang di kanopi pink, bujuukk... gue bawa pulang satu dah itu. Hahaha..." Ujar Akbar dengan tawanya.
"Bim, lo mau gak?" Tanya Taqi.
"Enggak !" Jawab Bimo tegas.
"Oh, yaudah. Chika buat gue kalau gitu." Ucap Taqi dengan candanya.
"Kampret !! Lo gak bahas itu tadi ya !!" Ujar Bimo dengan emosi meluap-luapnya.
"Lang, temen lo suruh nikah aja udah. Daripada bikin dosa. Hahaha..." Ucap Juna yang tau betul karakter Bimo.
__ADS_1
"Ntar... doi kan panasnya lama. Hahaha..." Ujar Langit dengan tawanya.
"Jadi udah pindah ke gue? Piala bergilirnya?" Tanya Bimo dengan wajah datarnya.
"Piala bergilir?" Tanya Daffa dengan menautkan kedua alisnya.
"Iya. Giliran playboy ketiga nikah." Ucap Bimo yang sukses mengundang gelak tawa teman-temannya.
"Emang ada yang mau sama lo? Hahaha..." Ujar Daffa yang tertawa ringan.
"Eh, Daf. Lo bukannya dulu waktu SMA sempet deket sama Chika?" Tanya Fahri.
"Iya, itukan dulu... Chika lucu sih anaknya. Hehehe..." Ucap Daffa yang tertawa sumringah tapi tidak untuk Bimo.
*Ejieeh... cemburu... 😁
"Tapi perasaan Chika agak beda sekarang deh. Gak seceria dulu. Apa karena nyokapnya udah gak ada ya?" Tanya Doni.
"Nyokapnya udah gak ada?? Maksudnya??" Tanya Bimo yang cukup terkejut mendengar cerita tersebut dari Doni dan teman-temannya.
Karena saat itu, Bimo memang sedang tak di Indonesia. Ia sedang kuliah di Delft University of Technology, Belanda. Selama kurang lebih 3 tahun. Ia sama sekali tidak tau tentang kabar berita teman-temannya yang memang saat itu ia sedang fokus dengan kuliahnya.
"Udah meninggal, Bim. Setahun yang lalu kalau gak salah. Eh, iya gak sih? Gue lupa deh. Pokoknya gak lama gue nikah sama Bila. Nyokapnya meninggal." Terang Juna.
"Meninggalnya karena sakit Jun?" Tanya Bimo.
"Iya. Kanker payudara." Sahut Langit.
"Lo tau beritanya, Lang?" Tanya Bimo kembali.
"Tau. Jingga yang cerita." Jawab Langit.
"Sebenarnya dari Chika sekolah dulu juga kan nyokapnya udah sakit-sakitan." Ujar Juna.
"Ya, mungkin karena kanker payudara itu." Sahut Kribo yang sedang asik mengabsen kentang ber-MSG ke dalam mulutnya.
"Kok gue gak tau ya?" Ucap Bimo sambil menunduk dan terlihat gurat wajahnya ia kecewa karena banyak info tentang teman-teman SMA nya yang berubah.
"Lo kan dulu sibuk berantem, sibuk nyicipin topi miring, sibuk bolos. Sibuk sama diri lo sendiri. Hahaha..." Ucap Juna.
"Sue !! Iya. Badung banget gue dulu. Hahaha..." Ujar Bimo dengan tawa riangnya.
"Kan maeenn... lo mah dulu senggol dikit bacok. Wakakak..." Ucap Kribo sambil mengunyah.
"Iya, iya, dah. Jelek banget gue dulu. Puas lo pada !!" Ujar Bimo yang bersungut.
"Tapi si Juna betah aja temenan sama Langit sama Bimo, ya. Hahaha... sabar banget luh Jun." Ucap Taqi yang baru bersuara karena sejak tadi sibuk dengan kameranya.
"Itu kalau Langit sama Bimo berantem lo minggir ya? Hahaha..." Tanya Akbar dengan candanya.
"Gue nonton. Jauh-jauh ke bioskop nonton film action. Ini aja depan mata ada. Wkwkwk..." Ujar Juna khas candaanya.
"Kalau mereka lagi berselisih paham. Ya, gue diemin aja. Ntar juga diem sendiri. Hahaha" Terang Juna dengan tawanya.
Saat yang lain sibuk berbincang-bincang, Langit, Juna dan Bimo bersiap berjalan menuju sang bibir pantai bersama dengan papan surfingnya.
"Jun, si Bila udah berapa bulan hamilnya?" Tanya Bimo yang sedang mengecek papan surfingnya.
"Pengen apaan?" Tany Bimo kembali.
"Pengen nikah lah. Ya kali lo pengen hamil emang? Ahahaha..." Ucap Juna tertawa riang.
"Kampret !! Ya kali gue hamil. Nikah mah siapapun juga mau, Jun..." Ujar Juna.
"Udah move on emang? Hahaha..." Ucap Langit dengan senyum kudanya.
"Udah Lang... dari apapun." Ujarnya dengan mencibikkan bibirnya.
"Hahaha... baguus. Udah ada calonnya emang?" Tanya Juna.
"Belum. Cariin lah..." Ucap Bimo.
"Ngapain di cariin. Lo juga udah punya." Sahut Langit.
"Punya apaan? Single gue. Hehehe..." Ujar Bimo
"Chika juga single, Bim. Hihihi..." Ucap Juna dengan khas cengiran kudanya.
"Kok jadi ngomongin Chika? Gue kan gak ada apa-apa sama dia." Jawab Bimo.
"Ada apa-apa juga gak apa, Bim... Hahaha" Pecah sudah tawa Langit dan Juna yang sukses membuat Bimo bersungut-sungut.
"Lagian, Bim. Kalau udah pasti ceweknya, langsung nikahin aja. Daripada lo kawinin dulu baru lo nikahin, haram. Mending lo nikahin baru lo kawinin. Udah pasti halal. Hahaha..." Jelas Langit.
"Doain aja. Semoga lekas dipertemukan." Jawab Bimo santai.
"Udah ketemu Bim. Tapi lo nya gak gerak. Kaku banget sih luh. Hahaha..." Ucap Langit dengan gurauannya.
Bimo tak berkomentar apapun. Ia hanya tersenyum dan mendengar celotehan teman-temannya.
"Bim, hati seseorang itu gak ada yang pernah tau. Yang tadinya jauh banget, malah di dekatkan. Yang dekat malah di jauhkan. Contohnya gue sama Bila." Ujar Juna.
"Dulu, gue sama sekali gak kepikiran bahwa gue akan cinta banget sama Bila. Bahkan terbersit untuk nikah aja gue enggak." Sambung Juna.
"Tapi, Allah sayang sama gue, Bim. Gue di tunjukkin sisi seorang Sindy. Yang kejadiannya depan mata gue. Hati gue dulu sekeras batu."
"Padahal Langit udah sering bilang, Bila itu baik dan perhatian banget sama gue. Tapi tetep aja gue kekeuh sama Sindy saat itu. Sampai gue lihat sisi parahnya Sindy."
"Perhatiannya Bila ke gue dari SMA dulu sampe sekarang gak pernah berubah. Justru sekarang jauh lebih perhatian. Kata Bila "kan udah halal, perhatian lebih sama suami boleh dong". Coba, suami mana yang gak luluh hatinya kalau istrinya perhatian begitu?"
"Sekeras-kerasnya batu, akan terkikis juga. Mungkin ungkapan itu pas buat gue. Yang hatinya kayak batu. Hehehe..." Ujar Juna.
"Siapa tau ada yang nyelip nama perempuan di sana, di hati lo. Hahaha..." Sambung Juna.
"Jangan lihat istri gue." Ucap Langit kepada Bimo yang saat itu ia sedang memandang ke arah Chika, Mala, Langit, Nabila dan teman-temannya yang sedang asyik berkumpul serta berbincang riang.
"Ya, Allah... ni orang. Gak doyan gue Lang." Jawab Bimo sambil mencibikkan bibirnya.
"Taqi sama Mala jadian sob?" Tanya Bimo kepada Langit dan Juna.
"Kayaknya belum. Macem Taqi mana mau pacaran. Doi mah taaruf. Hehehe..." Ujar Juna.
__ADS_1
"Tapi Mala kelihat lebih wise menurut gue." Ucap Bimo.
"Jadi, lo mau sama Mala apa Chika nih, Bim? Hahaha..." Canda Langit.
"Menurut lo gimana? Hahaha..." Ucap Bimo.
"Kalau sama Mala, karakter lo sama batunya. Gak dapet nanti. Biduk rumah tangga itu gak mudah. Asek, asek, hahaha..." Ujar Juna.
"Ya, jawabannya Chika, Bim. Emang dia berarti. Wkwkwk..." Ledek Langit dengan senangnya.
Bimo yang diledek hanya senyum-senyum saja. Chika itu menarik. Wajahnya yang imut, pipinya yang tembem serta senyumnya yang mampu membangkitkan semangat siapapun. Bimo butuh dia.
"Eh, ombaknya udah okay tuh. Terjun lah kita." Ujar Bimo yang secara tidak langsung mengalihkan pembicaraan sobatnya.
"Waah... 3 playboy lagi pada unjuk aksi tuh. Mana istrinya, mana?" Panggil Fahri kepada Nabila dan Jingga.
Karena omongan Fahri membuat tema-temannya beralih melihat Langit, Juna dan Bimo yang sedang beraksi dengan papan surfingnya.
"Waduh, waduh, ombaknya dateng coy... gede bener..." Ujar Akbar yang seru sekali melihat ketiga temannya yang sedang melawan ombak.
"Kok mereka malah berenang makin jauh, makin dalem deh?" Tanya Vira yang melihatnya saja sudah ketakutan.
"Mereka nyari ombak, Bie." Ucap Doni kepada Vira.
"Sejauh itu nyari ombaknya?" Tanya Mala yang bingung dengan tingkah ketiga temannya tersebut.
"Iya, Mal. Buat para hobi surfing, ombak yang besar saja gak cukup. Kurang menantang katanya sih... gak ngerti gue. Hehehe..." Terang Taqi yang sejak tadi terus membidik acara temu kangen teman inti itu.
"Kakak suka surfing ya?" Tanya Mala yang memasukkan tangannya ke dalam saku cardigannya sambil menatap Taqi.
Yang di tatap salting euy... Taqi menutupi wajahnya dengan kamera yang ia bidikkan ke teman-temannya.
"Enggak juga. Tapi pernah coba." Ucapnya dengan seulas senyum.
"Seru?" Tanya Mala dengan senyum lebarnya.
"Seru kok. Menantang. Tapi cuma sekedarnya aja... hehehe..." Ujar Taqi dengan membidikkan kameranya kepada Mala.
"Kak Taqi, iseng banget deh." Ucap Mala yang tertawa riang.
"Langit mau ngapain itu?" Tanya Daffa yang melihat Langit sedang mencoba menuju ombak.
"Waah... gila sih itu, Langit. Ya kali itu lebih tinggi dari diaaa___" Belum sempat Kribo meneruskan pembicaraannya. Ia melihat Jingga yang terduduk lemas.
"Ngga... bangun, Ngga. Gak apa. Tenang aja. Langit gak akan kenapa-kenapa." Ujar Nabila yang berusaha menenangkan Jingga.
"Tapi Langit gak muncul, Bil... hiks... hiks..." Ucapnya yang sudah dengan isak tangis karena melihat suaminya yang tak kunjung muncul ke peraduan.
"Itu Langit. Langit, Jingga !!" Ucap Mala yang menepuk pundak Jingga.
Jingga yang mengetahuinya segera bangun dari duduknya dan berlari menghampiri Langit yang meluncur ke pinggir pantai.
Jingga menunggu Langit di pinggir pantai. Langit yang mengetahui bahwa ia telah membuat istrinya cemas, segera menghampiri setelah menaruh papan surfingnya.
"Maaf, sayang... aku buat kamu cemas." Ucapnya kepada Jingga yang sudah menangis terisak karena rasa takut yang menyelimutinya. Langit memeluk Jingga dan mengecup lembut puncak kepala Jingga.
Jingga tak berkata apa-apa. Ia hanya diam dalam sendu tangisnya sembari memeluk suami tercintanya. Tak sanggup Jingga jika harus tanpa Langit.
Juna yang melihat Langit memeluk istrinya, segera ia menyudahi permainan surfingnya.
"I love you, Nabila." Ujarnya yang sambil memeluk Nabila lalu mengecup pelipisnya.
Nabila membalasnya dengan mengelus lembut pipi Juna dan mencium pipinya mesra.
"Bim, ombak !!" Ujar Langit dan Juna serentak.
Bimo yang sedang melihat kemesraan Langit Jingga dan Juna Bila, terkejut ketika datang ombak besar dari arah belakangnya.
Bimo tergulung ombak. Juna dan Langit segera menghampiri ke pinggir pantai. Memastikan bahwa Bimo akan muncul dari gulungan ombak tersebut.
Saat itu, Chika yang berdiri di sebelah Mala dan Jingga lemas rasanya hingga ia menopang tangannya pada lengan Mala.
"Chika !! Lo kenapa?" Tanya Mala ikut panik karena Chika yang tetiba lemas.
Hati Chika begitu mencelos, ketika melihat Bimo tergulung ombak seperti itu. Ia sudah tak bisa membendungnya lagi.
Bulir air matanya yang mulai mengalir perlahan, membuatnya tak bisa lagi menutupi kecemasannya kepada Bimo.
Jingga, Nabila dan Mala yang melihatnya sangat tau jika Chika memang ada sesuatu dengan Bimo. Namun, ia belum bercerita kepada Jingga, Nabila dan Mala.
"Bimooo !!!" Teriak Langit yang juga cemas dengan sahabat masa kecilnya tersebut.
"Bimo !!" Panggil Juna dan Langit dengan suara lantangnya. Dan... yang dipanggil muncul dengan berdiri di atas papan surfingnya sambil tersenyum sumringah.
"Guuee ngalahin ombak, sob. Hahaha..." Ujar Bimo yang begitu senang karena berhasil menaklukan ombak di Pantai Kuta tersebut.
Bimo, Juna dan Langit mereka saling menepuk pundak satu sama lain serta memberikan salam high five khasnya.
Namun, Bimo me-notif Chika yang saat itu sedang sibuk menghapus air matanya. Bimo baru menyadarinya. Sekarang.
Chika pergi dari kumpulan teman-temannya untuk menghindar sementara dari Bimo. Begitu pikir Chika. Namun, Bimo tak tinggal diam.
"Chikaa !!!" Panggil Bimo yang menaruh papan surfingnya begitu saja di pasir pantai dan berlari mengejar Chika.
"Cuy, kondangan nih kayaknya kita bentar lagi. Hahaha..." Ujar Jingga kepada Nabila dan Mala yang membuat ketiganya tertawa bersama.
*****
"Chika !!" Panggil Bimo yang segera memegang lengan Chika lalu memutar tubuh Chika yang membuatnya saling berhadapan. Bimo melihat air mata deras yang mengalir dari Chika.
"Kenapa begitu sedih? Cemaskah? Kepadaku?" Tanya Bimo dalam hatinya.
"Chik..." Panggil Bimo lembut sembari memegang dagu Chika dan mengangkatnya ke atas berhadapan dengannya. And...
Chuuu
"Bimo !!" Yang langsung mendorong tubuh Bimo menjauh darinya. Kecupan dadakan Bimo membuat kejutan di bibir dan tubuhnya.
"Sebrengsek itu, gue. Lo masih mau sama gue, Chik?" Tanya Bimo dengan mata elangnya.
Chika tak menanggapinya. Air matanya semakin deras mengalir. Ia melepaskan genggaman tangan Bimo kepadanya dan pergi meninggalkan Bimo.
__ADS_1
******