
...~Happy Reading~...
"Sayang! hentikan!" pekik Langit begitu melengking ketika membuka pintu. Ia segera berlari menghampiri Jingga dan merebut pisau buah yang berada di tangan nya.
Ting!
Suara benda tajam yang berbenturan dengan lantai, membuat siapapun yang di sana lega karena akhirnya pisau itu terlepas dari tangan Jingga.
"Lepasin! lepasin aku mas!" teriak Jingga terus memberontak di pelukan Langit. Ia tak perduli dengan darah yang masih menetes pada pergelangan tangan nya serta dari jarum infus nya.
Dokter Zara ingin menghampiri dan membersihkan luka Jingga, namun Langit dengan cepat menggelengkan kepala nya, Ia takut bila nanti Jingga akan semakin tertekan bila melihat Zara.
"Sayang, sssttt tenang dulu ya. Tenang," bisik Langit sambil mengusap kepala Jingga.
"Lepasin aku hiks hiks lepasin! Jingga mau ikut ayah! Jingga mau ikut ayah!" teriak nya terus terus menangis terisak.
__ADS_1
"Cuma ayah yang sayang sama Jingga. Cuma ayah hiks hiks, Jingga mau ayah. Jingga mau ayah, Jingga mau ikut ayah hiks hiks hiks."
"Sstt Jingga tenang dulu, oke... " Langit menghela napas nya sedikit berat, ketika melihat Jingga sudah tidak memberontak lagi. Ia juga semakin mengeratkan pelukan nya serta menciumi pucuk kepala Jingga dengan penuh kelembutan dan kasih sayang.
"Ayah, Jingga capek. Jingga mau ikut ayah, Jingga gak suka disini, Jingga gak mau disini," racau nya begitu lirih.
Setelah beberapa saat, Langit melihat Jingga sudah kembali terlelap di pelukan nya. Dengan perlahan namun pasti, ia menidurkan kepala Jingga sangat hati hati. Baru setelah itu ia menyuruh dokter agar segera mengobati tangan Jingga.
Kedua tangan nya terluka dan berdarah. Satu tangan karena pisau buah, yang satu lagi karena jarum infus.
Langit menghela ngapa berat nya, setelah selesai dokter itupun langsung di suruh pergi oleh Langit. Karena ia tidak mau bila nanti Jingga terbangun dan melihat wajah Dokter Zara akan kembali berteriak lagi.
Cklek!
Langit mengalihkan pandangan nya, Gery dan Maxim masuk dengan membawa makanan untuk Langit.
__ADS_1
"Makanlah dulu, jangan sampai kamu kehabisan tenaga karena menjaga Jingga. Gak lucu kalau kamu ikut di rawat setelah Jingga!" kata Gery memberikan sebuah bingkisan makanan kepada Langit. Namun lagi lagi Langit menggelengkan kepala nya. Menolak secara halus.
Bagaimana bisa dirinya makan di saat seperti ini, batin nya.
"Jingga mencoba untuk bunuh diri, aku takut." gumam Langit terus menggenggam tangan Jingga, kepala nya kini ia sandarkan pada bagian tempat tidur Jingga.
"Bagaimana bisa?" pekik Gery dan Maxim bersamaan, keduanya tidak menyangka bahwa Jingga bisa memiliki jalan pikiran ke sana.
Gery berfikir bahwa Jingga adalah gadis yang sangat kuat dan positif. Tapi ternyata Jingga bisa memiliki arah pemikiran sampai sana, sungguh Gery tidak menyangka nya.
"Aku sudah menyuruh Ed untuk mengurus Sisil, dan aku juga bersihkan kamar itu," gumam nya lagi.
"Kami hargai keputusan kamu Lang, tapi akan lebih baik kalau kamu lakuin ini tuh dulu, sejak kamu memutuskan untuk bersama Jingga." saut Gery dengan wajah datar nya.
"Aku terlalu bahagia bersama Jingga, sampai aku lupa bahwa aku masih memiliki kenangan itu dengan Biru. Aku benar benar lupa!" pekik Langit begitu pelan seraya mengusap wajah nya frustasi.
__ADS_1
Gery dan Maxim pun hanya diam tanpa menjawab lagi ucapan Langit. Keduanya tahu bahwa Langit sudah mencintai Jingga. Hanya saja penyesalan Langit terlambat. Tanpa dia sadari ia sudah memupuk penyakit dari dalam diri Jingga sejak dulu. Dan kini, Langit sedang menuai apa yang selama ini ia pupuk.