
Setelah cukup lama di dalam ruang UKS, akhirnya Jingga keluar dan hendak pulang. Nia pikir, bahwa Langit sudah pulang lebih dulu, tapi ternya ia salah, ketika ia membuka pintu, ia masih menemukan Langit di depan pintu sambil bermain ponsel.
“Kirain om udah pulang, ternyata masih nungguin Jingga,” kata Jingga tersenyum lega.
“Aku menunggu kamu disini agar tidak ada yang masuk ketika kamu ganti baju. Dan sekarang lihat? Kenapa kamu masih pakai seragam basah itu?” tanya Langit mengerutkan dahi nya menatap tak suka kepada Jingga.
“Jingga gak suka!” tutur Jingga langsung menyerahkan kaos pemberian Langit tadi.
“Kenapa?”
__ADS_1
“Langit Biru, Jingga gak suka sama warna dan nama itu!” kata Jingga dengan raut wajah datar nya.
Ya, baju yang di berikan oleh Langit, sebuah kaos berwarna putih dengan gambar langit berwarna biru. Langit memang sengaja selalu membawa baju itu di dalam mobil nya, kemana pun ia pergi. Agar ia selalu merasa Biru bersama nya. Biasanya, se urgent apapun, Langit tidak akan membiarkan siapapun memakai kaos tersebut, namun entah mengapa dirinya rela memberikan nya kepada Jingga, walau pada akhirnya Jingga juga tidak mau menerima nya.
Dan bisa di katakan, kali ini bukan urgen, karena selain kaos yang ia bawa, masih ada beberapa kaos lain. Namun lagi lagi, entah mengapa dirinya malah membawa yang Langit Biru.
“Apa kamu masih ada waktu untuk memilih?” Langit menatap tajam pada sosok Jingga yang kini sudah tidak seceria awal, “Seragam kamu basah dan kotor, bisa bisa nya kamu masih mau memilih pakaian ganti!” imbuh nya berdecak kesal.
“Udah lah, Jingga mau pulang. Terimakasih karena om sudah memiliki niat baik pada Jingga, permisi,” kata Jingga lalu ia hendak segera pergi, namun baru beberapa langkah tiba tiba tangan nya di tahan oleh Langit.
__ADS_1
“Kenapa?” tanya Langit dengan wajah datar nya, entah mengapa ia merasa bahwa gadis di depan nya sedikit berbeda.
“”Kenapa apanya? Ya karena Jingga emang gak suka. Emang kenapa sih?” kata Jingga malah balik bertanya, “Harusnya om kalau bawain baju itu langit nya warna Jingga biar cerah gitu, kan kaya ada sunset nya. Ckckck, om selera nya.”
“Warna biru juga tak kalah indah dari Jingga.” Ujar Langit seketika membuat senyum yang tadi sempat terbit di wajah Jingga kini lenyap kembali.
“Iya, warna biru memang indah. Tapi dia akan abadi, dia tidak akan bisa menemanimu sepanjang hari. Saat senja mulai tiba, maka dia akan menghilang. Dan seperti sekarang, sudah ada Jingga bukan? Jadi buang baju itu,” ujar JIngga langsung merebut baju di tangan Langit dan melemparkan nya ke lantai begitu saja.
“Jingga!” sentak Langit terkejut, “Jangan membuatku marah dan kasar pada mu!” ucap Langit memberi peringatan, “Sejak awal aku sudah berbaik hati padamu. Jangan memancing amarah ku lebih dalam, atau kamu akan menyesal!”
__ADS_1
Jingga hanya terdiam, namun matanya masih terus menatap pada sorot mata Langit. Hingga keduanya saling menatap dalam. Jingga tidak tahu mengapa Langit harus se marah itu karena ucapan nya, padahal ia hanya ingin menggoda Langit agar melihat nya. Namun mengapa reaksi Langit harus sampai se marah itu, bukankah itu hanya sebuah baju? Why, mengapa? Batin Jingga bertanya tanya dengan bingung.