
Beberapa saat sebelum Jingga menemui ayah nya, Langit dan Faris lebih dulu berbincang. Langit mendengar semua cerita Faris tentang Jingga sejak kecil. Hati langit merasa begitu tercubit dan terasa sesak mendengar kesedihan Jingga selama ini. Dimana dirinya selalu di anggap sebagai Biru oleh bunda nya sendiri. Tak jarang pula, Jingga saat masih kecil selalu di berikan obat obat keras oleh bunda Elsa, karena bunda masih mengira bahwa Jingga adalah Biru.
Awalnya, Jingga selalu menurut, namun semakin Jingga besar dan beranjak remaja, ia mulai mengerti dan sadar bahwa dirinya sehat dan mulai memberontak setiap di berikan obat oleh bunda nya. Jingga mulai berani bercerita kepada ayah nya mengenai kesehatan bunda, hinga Faris akhirnya mengganti obat obatan itu dengan vitamin, namun tetap saja, ternyata Elsa membeli obat obat lagi di belakang Faris. Hingga akhirnya Faris harus merelakan Elsa untuk kembali di bawa ke rumah sakit. Selama beberapa tahun, akhirnya Elsa mulai sadar dan dokter mengatakan sudah bisa berobat jalan.
Itulah mengapa Jingga bisa membenci Biru, dan selalu melampiaskan amarah nya di makam. Karena Jingga tak hanya sekali dua kali ke makam hanya untuk marah marah. Faris tahu semua itu, namun ia tidak bisa melarang Jingga. Ia juga cukup mengerti bahwa Jingga sangat haus kasih sayang dari bunda nya.
Karena Faris sudah cukup lama mengenal Langit, dan tahu bahwa Langit hingga kini belum bisa melupakan sosok Biru, Faris pun meminta kepada Langit untuk menjaga Jingga. Menganggap Jingga sebagai Biru, walaupun begitu menyakitkan untuk Jingga, namun Faris tidak memiliki pilihan lain. Ia dan Elsa tidak memiliki siapapun, hanya Langit yang bisa ia percayakan bila dirinya tiada.
__ADS_1
‘Belajarlah untuk membuka hati dan mencintai Jingga. Dia sangat cantik bukan sifat nya memang jauh berbeda dari Biru yang lembut. Namun saya pastikan, bahwa hati nya sangat baik dan lembut. Dia hanya haus akan kasih sayang, bunda nya selalu memikirkan yang sudah tiada, dan saya harus bekerja. Lupakan Biru, saya mohon biarkan Biru tenang di sana. Dan hiduplah dengan tenang menata masa depan bersama Jingga. Hanya kamu yang bisa saya percaya untuk melindungi dan menjaga Jingga.’
Ucapan yang di katakan Faris beberapa saat yang lalu, terus terngiang di kepalanya. Dan Langit pun tidak bisa menolak atau memilih pilihan lain. Akhirnya Langit mengiyakan dan akan mencoba untuk mencintai Jingga.
Dan pagi ini, kedua teman Langit begitu terkejut ketika mendapat kabar bahwa Langit sedang berada di rumah sakit. Maxim dan Gerry dengan cepat segera meluncur, bahkan mereka rela meninggalkan anak dan istri nya hanya karena khawatir dengan keadaan Langit.
“Katanya di rumah sakit, astaga Lang. Kita berdua udah panik kaya orang kebakaran jenggot, tapi kamu malah gapapa begini!” seru Gery menggelengkan kepala nya menatap Langit yang malah pagi ini tampak begitu rapi dengan pakaian kantor seperti biasa.
__ADS_1
Bug!
“Heh, maksud mu apa? Kamu mau lihat Langit di perban kaya mumi begitu? Patah tulang sana sini atau sekarang, begitu?” pekik Maxim langsung memukul bahu gerry dengan kesal, “Beruntung Langit gapapa. Kenapa malah marah, astaga!”
“Iya juga ya,” Gerry menggaruk tengkuk nya dan tersenyum lebar, “Jadi kenapa kamu minta kami kesini? Pagi pagi lagi, ckckck!” imbuh Gerry berdecak.
“Aku mau menikah!” ujar Langit dengan raut wajah datar tanpa ekspresi.
__ADS_1
“Oh menikah, ngomong dong dari tadi,” kata Gerry kembali menggelengkan kepala nya lega, “Eh tunggu, apa kamu bilang tadi? Menikah? Whatt!” pekik nya langsung terkejut dengan mulut menganga.