Langit Jingga

Langit Jingga
Kecelakaan


__ADS_3

Ketika sampai di rumah sakit, Jingga dan Langit segera turun dan berlari masuk ke dalam untuk mencari dimana keberadaan pasien korban kecelakaan. Sambil menanyakan kepada resepsionis, Jingga juga sekaligus meminta tolong untuk mengisi data baterainya, kepada salah seorang suster. Setelah itu, Jingga mengikuti Langit menuju ruang UGD untuk menunggu dokter selesai menangani pasien.


“Om, memang nya mereka siapa sih? Keluarga Om kah? Atau temen om, atau—“


“Bukan siapa siapa,” jawab Langit menghela nafas nya dengan cukup kasar. Hampir tiga puluh menit Langit dan Jingga berada di depan ruang UGD, tiba tiba seorang suster memanggil Jingga bahwa ponsel nya berulang kali berdering.


“Om—“ Jingga hendak berpamitan dengan Langit, namun ia urungkan ketika Langit sedang menjauh dan menghubungi seseorang.


Tak ingin ambil pusing, akhirnya Jingga memilih pergi begitu saja dan mengambil ponsel nya. Memang benar, ada begitu banyak panggilan telfon tak terjawab, serta beberapa chat pesan dari nomor yang tidak di kenal dan juga Raihan.


‘Kamu lama banget sih Jingga, aku udah nunggu lama nih!’ tulis Raihan dalam pesan chat tersebut.


‘Aku lagi di rumah sakit, nanti deh atau besok aku ambil tas nya. Atau sekalian besok pai bawa ke sekolah ya.’ Balas Jingga mengetik pesan.

__ADS_1


‘Astaga Jingga,akhirnya kamu mau di rawat? Kenapa gak dari tadi aja!’ sungut Raihan menghela nafas nya kasar.


‘Heh, aku kesini bukan karena aku sakit. Aku udah enakan, hanya saja aku nemenin om Langit, kayaknya ada temen atau kerabat nya yang kecelakaan.’


‘Ya udah kalau gitu, kecewa deh orang tua ku gak jadi ketemu calon mantu.’


“Terserah kamu Han, bodo amat!!!’ tulis Jingga begitu kesal, hingga membuat Raihan terkekeh di ujung sana.


Unknown number.


Jingga sempat mengerutkan dahi nya, nomor siapa yang menghubungi nya. Karena penasaran, akhirnya Jingga segera mengangkat telfon nya, dan helaan nafas lega lah yang Jingga dengar ketika panggilan telfon itu tersambung.


“Halo,” jawab Jingga sedikit kaku, entah mengapa ia merasa jantung nya semakin berdecak kencang ketika mengangkat panggilan dari noor yang tak di kenal nya.

__ADS_1


‘Ha—halo,” jawab nya dari saja juga ikut terbata, ’Dengan Alesha?’


“Ah iya, saya sendiri. Ada apa ya? Maaf ini siapa?” tanya Jingga mengerutkan dahi kembali ketika orang itu memanggil nama nya Alesha, bukan Jingga.


“Sa—saya hanya ingin mengabarkan bahwa saat ini orang tua kamu sedang di rumah sakit, mereka mengalami kecelakaan laka lantas siang tadi dan—“


“Tunggu!” kata Jingga dengan cepat memotong ucapan orang tersebut, “Ini siapa? Ke—kenapa orang tua saya kecelakaan? Mereka di rumah sakit mana. Hati hati ya Mas, kalau sampai anda menipu saya, maka saya tidak akan segan melaporkan anda ke polisi!” ancam Jingga dengan hati dan perasaan yang bergemuruh hebat.


“Datanglah di rumah sakit Pranata Hospital, saat ini mereka masih di tangani oleh dokter, saya harap anda segera kemari,” setelah mengatakan itu, sambungan telfon pun langsung terputus.


Sementara itu, Jingga masih berdiri kaku dengan pandangan kosong nya. Tidak mungkin orang tuanya kecelakaan kan? Ini pasti hanya prank, ini bercanda. Itu hanya orang iseng yang ingin mengerjai nya saja, iya benar begitu bukan? Batin Jingga menolak untuk menerima kenyataan di depan mata nya.


'Bunda baik baik aja kok, bunda pasti sekarang lagi di rumah baca buku. Orang itu pasti cuma iseng.' gumam Jingga dalam hatinya mencoba untuk tidak percaya.

__ADS_1


__ADS_2