Langit Jingga

Langit Jingga
Gak mau hamil!


__ADS_3

...~Happy Reading~...


Setelah sadar, Asa merasakan tubuh nya semakin lemas tak bertenaga. Ia menghela nafas nya dengan berat, ketika ia melihat sekeliling yang mana ternyata dirinya sudah berada di ruangan rumah sakit.


Huufftt


'Disini lagi, disini lagi,' gumam nya berdecak.


Cklek!


"Asa, kamu sudah bangun, Nak?" tanya sangat bunda dengan langkah perlahan menghampiri putra nya sambil terus memegang perut nya yang sudah kian nampak membesar.


"Bunda, tadi Asa muntah muntah kaya Bunda dulu. Asa hamil ya? berarti nanti, perut Asa bisa kaya Bunda begini?" ujar Asa begitu polos sambil ikut mengusap perut sang bunda.


Jingga tidak bisa menahan kekehan nya ketika melihat raut wajah putra nya yang begitu menggemaskan, "Asa, anak laki laki tidak bisa hamil."


"Kenapa? kita sama sama manusia kan? tadi juga Asa bisa muntah muntah juga kok!" gerutu nya seolah tidak Terima.


Dan kini, Jingga merasa semakin gemas sekaligus pusing. Bagaimana caranya untuk menjelaskan kepada Asa mengenai kehamilan. Karena ukur nya masih sangat kecil, lagipula ia juga heran mengapa putra nya bisa se ajaib ini. Bisa bisa nya muntah mengira bahwa awal kehamilan.


"Asa tadi pagi gak sarapan ya?" tanya Jingga sengaja mengubah topik pembicaraan karena sudah bingung menjawab pertanyaan Asa.

__ADS_1


"Hemm, Asa kesiangan. Terus pas di sekolah, gak bisa ke kantin. Ya sudah," jawab nya seraya mengangkat kedua bahu nya santai.


"Nah, karena Asa gak sarapan. Jadinya perut Asa mual, dan akhirnya muntah. Asa, mulai sekarang gak boleh telat makan yah. Atau nanti Asa bisa di rawat disini lagi." ujar Jingga memberikan pengertian.


"Tadi yang periksa Asa siapa? Mama bukan?" tanya Asa setelah menganggukkan kepala.


"Iya, tadi mama yang periksa kamu. Sekarang kamu makan dulu ya,"


"Terus sekarang mama nya dimana?" tanya Asa lagi yang membuat Jingga sedikit bingung, mengapa. mencari Zara, pikir nya.


"Ada apa Sayang?"


" Pe—perhitungan apa?"


"Karena mama salah diagnosis Asa."


Jingga menarik nafas sedalam mungkin mata nya terpejam untuk sesaat dan ia tidak mengerti lagi bagaimana caranya menjelaskan kepada Asa bahwa anak kecil itu tidak mungkin hamil. Bukan hanya karena dia laki laki, namun juga anak seumuran dia tidak akan bisa hamil.


'Astaghfirullah, ya Allah. Dulu saya ngidam apa?' rutuk Jingga dalam hatinya.


Hari berganti dengan hari begitu cepat. Kini Asa sudah di perbolehkan pulang ke rumah. Dan sejak saat itu, Asa sudah tidak pernah mau lagi meninggalkan makan. Sebisa mungkin, ia akan selalu mengutamakan makan daripada harus merasa hamil lagi, pikir nya.

__ADS_1


Soal kehamilan, Asa bersyukur karena dirinya tidak bisa hamil. Dan ia juga sudah tidak mau mengeklaim dirinya hamil. Setelah melihat bagaimana perjuangan sang bunda ketika melahirkan adik kembar nya.


Iya, adik Asa kembar. Laki laki semua, dan Asa lah yang menjadi saksi ketika sang bunda mengalami kontraksi hebat. Itulah sebab nya Asa tidak mau hamil lagi.


"Asa, bagaimana hamil mu?" tanya Willy ketika melihat Asa duduk seorang diri di sebuah kursi taman.


"Willy, Asa itu laki laki. Asa gak hamil!" seru nya seraya memanyunkan n bibir.


"Kan Asa sendiri yang bilang. Kalau Asa hamil?" kata Willy sedikit terkekeh.


"Tau ah, Asa kesel. Asa kasihan sama Bunda. Tadi darah nya banyak banget. Asa takut!" ucap Asa bergidik ngeri membayangkan bagaimana bunda nya berjuang untuk mengeluarkan sang adik.


.... ...


.... ...


.... ...


.... ...


...Serius, ini cerita mau nya sampai kapan? mommy udah bingung mau kasih konflik apaan 🤣 Mau tamat juga kalian gak mau. 🙈🙈🙈...

__ADS_1


__ADS_2