Langit Jingga

Langit Jingga
Ikhlaskan


__ADS_3

Untuk pertama kali dalam hidup Jingga, ia bisa tertidur lelap di pelukan seorang laki laki selain ayah nya. Semalaman, Langit tidak sengaja tidur di kamar Jingga, lantaran gadis itu terus bercerita sepanjang jalan kereta, hingga tanpa sadar Langit meninggalkan nya tidur. Jingga pun tidak sadar bahwa Langit tidur, hingga dirinya pun juga tertidur dalam posisi saling berpelukan.


Euggghh!


Langit menarik nafas nya begitu dalam, ia mengerjapkan matanya untuk menyesuaikan cahaya lampu kamar. Ia tidak terbiasa tidur dengan lampu menyala terang. Maka dari itu, ia merasa sedikit pusing ketika bangun tidur langsung melihat cahaya yang begitu terang.


Hiks hiks hiks hiks


Seketika Langit langsung membuka mata nya lebar, ketika mendengar suara isak tangis dari Jingga. Ya, gadis itu kini semakin mengeratkan pelukan nya, dengan di sertai oleh isak tangis, namun mata nya masih terpejam.


“Ayah hiks hiks hiks, jangan pergi. Jingga sendiri, hiks hiks. Jingga takut, Ayah jangan pergi, Jingga takut hiks hiks hiks!”


“Hey, Jingga. Bangun Jingga. Jingga ... “ Langit terus mengguncang bahu Jingga sambil sesekali menepuk wajah Jingga yang sudah basah oleh air mata.

__ADS_1


“Jingga gak mau Ayah, hiks hiks. Jangan pergi .. “ Jingga terus meracau dalam tidur nya, nafas nya pun semakin sesegukan dan mencengkram pakaian Langit begitu erat.


“Ssshhhh ... Bangunlah .... Jingga ... “ bisik Langit tepat di telinga Jingga, hingga seketika gadis itu membuka mata dan tersadar bahwa dirinya hanya bermimpi.


“O—Om!” panggil Jingga lirih ketika baru sadar bahwa dirinya masih memeluk Langit, ia menghapus air matanya dan hendak beranjak ke kamar mandi.


“Mau kemana?” tanya Langit langsung menahan tangan Jingga, ia seolah tahu bahwa Jingga akan melanjutkan tangis nya lagi ketika nanti di kamar mandi. Makanya, ia sengaja menahan nya agar Jingga tidak terus memendam sesak nya seorang diri.


“Masih jam lima, kamu yakin mau se buru- buru itu ke sekolah?” tanya Langit mengerutkan dahinya, matanya melirik sekilas ke arah jam dinding yang ada di sebelah kanan nya.


“Om ... “


“Hemm,” jawab Langit, lalu ia kembali menarik Jingga dan duduk di samping nya.

__ADS_1


“Jingga bingung.”


“Katakan, dimana kebingungan kamu,” ucap Langit masih menatap ke arah Jingga dengan intens, “Jingga, aku tau ini berat dan sulit buat kamu. Tapi aku mohon, lepaskan dan ikhlaskan mereka. Biarkan ayah dan bunda tenang di sana.”


Entah mengapa, Langit begitu mudah mengatakan hal seperti itu. Menyuruh Jingga agar ikhlas dan melepaskan orang yang di cintai Jingga. Padahal, sendirinya hingga kini masih begitu sulit melepaskan dan mengikhlaskan Biru.


“Jingga sudah berusaha untuk ikhlas Om. Lagipula, ayah dan bunda di sana sudah bahagia dengan anak mereka,” balas Jingga, namun kini raut wajah nya begitu datar. Dan di balik wajah datar nya itu, Langit tahu bahwa Jingga tengah menahan sesak luar biasa di hatinya, persis seperti yang Langit rasakan dulu.


“Jingga gak akan menangisi ayah dan bunda lagi kok, tenang aja.” Katanya lagi sambil menghapus air matanya yang tiba tiba mengalir membasahi pipi nya, “Ayah sama bunda sudah bahagia dengan anak kesayangan nya. Jingga gapapa disini sendiri. Beneran, Jingga sudah biasa sendiri dari dulu. Jingga—hiks hiks hiks.”


Jingga sudah tak mampu meneruskan perkataan nya, ia sudah mencoba untuk ikhlas dan merelakan orang tua nya, namun tetap saja hatinya masih begitu sakit dan sesak membayangkan kedua orang tuanya bahagia bersama Biru di surga. Sementara dirinya hanya tinggal seorang diri.


Langit yang merasa semakin tak tega pun, segera menarik Jingga ke pelukan nya. Ia sudah pernah merasakan di posisi Jingga, kehilangan sosok orang yang kita cintai. Memang beda porsi, namun kurang lebih, Langit mengerti bagaimana rasanya.

__ADS_1


__ADS_2