
...~Happy Reading~...
^^^From Jingga^^^
^^^*Teruntuk laki-laki ku tersayang, Langit.^^^
Tuhan menciptakan bunga dan tanaman dengan berbagai jenis dan warna. Agar manusia mudah mengingat dan membedakan nya.
Seperti hal nya, Langit di ciptakan dengan berbagai macam warna, agar kita bisa mengetahui apa yang di rasakan oleh alam.
Bila dulu warna Biru yang selalu menghiasi mu,
Kini Tuhan memberikan mu warna Jingga untuk menemani mu, memberikan warna pada semesta.
Aku selalu berusaha agar warna Jingga akan tetap abadi di sana.
Tapi nyatanya, Langit lebih membutuhkan warna Biru di bandingkan Jingga yang hanya ada di kala senja.
Langit membutuhkan Biru untuk terus menerangi siang nya dunia ini. Dan Langit akan membutuhkan hitam untuk membuat bintang bintang semakin terlihat bersinar.
Jingga? dia hanya datang sesaat di kala senja.
__ADS_1
Begitupun dengan ku, aku tidak bisa selalu berada di sisi kamu, Mas.
Maafkan Jingga, bila pada akhirnya Jingga menyerah akan Takdir ini.
Maafkan Jingga yang tidak bisa menjadi Biru yang akan selalu menemani mu.
Maafkan Jingga yang selama ini sudah menyusahkan mu, membuat hari-hari mu terasa semakin sulit.
Aku pergi, bukan karena tidak mencintai mu.
Tapi aku pergi karena aku sangat mencintai mu.
Seperti yang kamu katakan kemarin, Takdir Tuhan memang tidak akan ada yang tahu. Mengapa Tuhan mempertemukan mu dengan Biru terlebih dulu daripada dengan ku.
Dan sekarang, izinkan Jingga pergi. Biarkan Jingga sendiri agar Jingga bisa me mantaskan diri seperti mas Langit.
Jingga tahu, bahwa umur Jingga masih jauh di bawah mas Langit. Biarkan Jingga mencoba mandiri dan mendewasakan diri sebelum kembali bersama mas Langit.
Jingga sengaja meninggalkan buku nikah kita, agar bila mas Langit ingin menceraikan Jingga. Jingga akan ikhlas dan menerima nya. Jingga harap, mas Langit bisa menemukan warna yang akan abadi menemani mas Langit.
Dan bila memang kita di garis kan untuk bersama, aku yakin suatu saat kita akan bertemu kembali.
__ADS_1
Jangan mencari ku, Mas, Percayakan semua pada garis Tuhan yang seperti kamu katakan.
...🍁🍁🍁...
Langit menarik napas nya sedalam mungkin, setelah membaca pesan yang di kirimkan oleh Jingga. Air mata nya semakin deras membasahi wajah nya. Ia mengusap wajah nya dengan sangat frustasi. Langit masih tidak habis pikir bila kini Jingga benar benar pergi meninggalkan nya.
'Kamu dimana, Sayang? dengan siapa kamu pergi? kamu kemana?' jerit Langit begitu frustasi.
Ia segera mengambil ponsel nya kembali dan kini berusaha menghubungi Maxim, setelah lelah menghubungi nomor Jingga yang sudah tidak aktif lagi.
Tuutttt.... Tuuttt... Tuutt....
"Ha—" Baru saja Maxim hendak menjawab, namun dengan cepat Langit sudah menyaut dan menangis
"Dia pergi Max, dia pergi hiks hiks hiks!"
"Dia siapa? Kamu kenapa nangis?" tanya Maxim di ujung sana yang masih belum mengerti mengapa sahabat nya kembali menelfon nya dan di sertai isak tangis.
"Dia pergi, dia pergi lagi... " Langit terus me racau hingga membuat Maxim semakin di kanda kebingungan.
"Oke, kamu dimana sekarang? aku dan Gery ke sana?"
__ADS_1
Langit tidak menjawab pertanyaan Maxim, ia malah mematikan sambungan telfon nya lalu melemparkan ponsel itu ke lantai.
Sementara itu, Maxim yang mendengar suara Langit begitu frustasi dengan di sertai isak tangis. Seketika menjadi panik dan khawatir. Maxim segera menghubungi Gerry dan segera mengajak nya ke rumah Langit. Karena sejujurnya Maxim juga tidak tahu dimana keberadaan langit saat ini. Namun ia berharap bahwa Langit memang benar ada di rumah.