Langit Jingga

Langit Jingga
Kangen


__ADS_3

...~Happy Reading~...


"Apa kalian akan tetap tinggal disini?" tanya Raihan membuka percakapan ketika di meja makan.


"Tidak! besok kami akan pulang!" jawab Langit seraya memasukkan makanan ke mulut nya.


"Oke, baiklah silahkan pulang. Karena lusa aku juga harus kembali. Kuliah ku sudah menanti!" balas Raihan seraya menghela nafas nya berat.


"Kuliah yang menanti atau cewek!" sindir Jingga berdecak.


"Kuliah," jawab Raihan dengan cepat, "Aku anak baik baik, tidak akan pernah pacaran dengan cewek!"


"Lalu, apakah kau akan berpacaran dengan cowok?" tanya Jingga sekali lagi membuat wajah Raihan semakin terlihat kesal.


"Yang benar saja dong kamu, Tante Jingga!" geram Raihan dengan malas.


"Raihan, jangan macem macem ya! aku bukan tante tante!" seru Jingga seolah tak Terima dengan panggilan dari Raihan.

__ADS_1


"Sudah sudah, kenapa kalian selalu ribut sih?" lerai Langit seraya menghela nafas berat.


"Kak Raihan dan Bunda, memang sering seperti itu, Ayah. Makanya, Bintang sama Asa sering memakai earphone biar tidak terganggu sama suara mereka!" saut Bintang dengan santai nya seketika membuat ketiga orang dewasa di sana menganga.


Langit dan Raihan tidak menyangka bahwa ternyata selama ini Bintang dan Asa diam karena telinga nya di sumpel oleh earphone. Pantas saja, setiap mereka ribut, apalagi di meja anaknya, Bintang dan Asa lebih banyak diam. Kecuali bila sedang bersantai, maka Bintang baru akan menimpali dan ikut bercanda.


"Sayang, kalian masih terlalu kecil, tidak boleh memasang earphone ya. Nanti biar ayah yang ngajarin kakak dan bunda kalian agar tidak selalu membuat keributan," kata Langit menatap wajah sangat putri.


"Tapi earphone nya tidak pakai musik kok, Ayah. Bintang juga masih mendengar suara ayah sama bunda." jawab Bintang yang langsung di angguki paham oleh Langit.


Setelah jam makan malam selesai. Langit segera mengajak istri dan anak anak nya untuk menuju kamar. Mereka bisa bercanda dan tertawa bersama. Asa terus bercerita dan bergelayut manja pada sang ayah, hingga membuat Langit lagi lagi merasa semakin bersalah.


'Nati kalau Asa udah besal, Asa mau punya sawat yang busal banget."


(Nanti kalau Asa sudah besar, Asa mau punya pesawat yang besar banget)


"Wah, bagus dong. Nanti ayah sama bunda di ajak ya," kata Langit terkekeh menimpali ucapan anak nya.

__ADS_1


Setelah selesai bercerita, kini tanpa sadar kedua anak nya sudah tertidur. Sementara itu, Jingga yang baru saja keluar dari kamar mandi langsung menghela nafas nya kasar ketika melihat kedua anak nya tertidur.


"Mas, kenapa di bolehin tidur sih!" gerutu Jingga memanyunkan bibir.


"Kenapa memang nya?" tanya Langit mengerutkan dahi nya tidak mengerti.


"Mereka belum menggosok gigi!" keluh nya dengan sangat menyesal.


Jingga sudah menerapkan disiplin pada dua anak nya. Sebelum tidur, keduanya wajib mencuci wajah dan menggosok gigi serta berganti pakaian tidur. Namun, apa yang kini ia lihat nya. Kedua anak nya sudah tertidur pulas bahkan tanpa mengganti pakaian tidur.


"Hanya satu kali, mereka pasti kecapean. Gapapa ya," ujar Langit lalu segera beranjak dari tempat tidur dan menghampiri Jingga.


"Hufftt!" Jingga menghela nafas nya lagi, lalu berbalik menuju meja rias nya.


Belum sempat ia mendudukkan diri, tiba tiba ia merasakan tangan kekar melingkar di pinggang nya.


"Mas kangen sama kamu," bisik Langit seketika membuat Jingga langsung menelan saliva nya dengan sulit.

__ADS_1


__ADS_2