
...~Happy Reading~...
Setelah sampai di rumah, Jingga pun langsung meminta Langit agar menggendong nya. Sementara Maxim, ia tidak mau terlalu banyak mengganggu, sehingga memilih pergi dan kembali ke kantor.
"Mas, makanan Jingga tadi mana?" tanya Jingga setelah Langit sudah mendudukkan dirinya di Sofa.
Seketika itu juga, Langit langsung menepuk kening nya karena makanan yang di bungkus oleh Maxim tertinggal di mobil. Dan mobil itu telah di bawa ke kantor.
"Aku buatkan makanan yang lain, atau mau delivery aja," ujar Langit mulai mengeluarkan ponsel nya hendak memesan makanan.
"Iks, pasti makanan nya sengaja tuh mau di makan om Maxim. Huh!" cetus Jingga berdecak dan memanyunkan bibir nya dengan kesal.
"Jingga tunggu!" seru Langit ketika melihat Jingga beranjak dan berjalan menuju kamar tanpa menunggu nya.
Langit hanya bisa menghela nafas nya dengan berat, mengusap wajah kasar dan segera bergegas menyusul Jingga. Sebisa mungkin ia berusaha untuk bersabar, mengingat usia Jingga yang memang masih anak anak. Namun, terkadang Langit malah merasa bahwa dirinya sedang bersama adik nya, bukan istri nya. l
__ADS_1
Tok tok tok...
"Jingga buka pintu nya!" panggil Langit lagi karena saat ini pintu kamar nya sudah di kunci oleh istri kecil nya.
Cukup lama Langit mengetuk pintu kamar, namun tidak mendapatkan respon sama sekali. Hingga membuat Langit begitu frustasi dan hendak pergi.
Percuma baginya berada di rumah namun dirinya di kunci di luar seperti ini. Batin nya.
Baru saja Langit berbalik dan hendak pergi, tiba tiba ia mendengar suara pintu kamar yang di buka. Langit segera masuk, namun, baru beberapa langkah tiba tiba matanya sukses membulat dengan sempurna tatkala melihat pemandangan di depan nya.
Glek!
"J—Jingga... kenapa," Langit kembali menarik nafas nya panjang, "Kenapa kamu berpakaian seperti itu?" imbuh nya sedikit gugup.
"Memang mas Langit gak suka, kalau Jingga kaya gini?" tanya Jingga berulang kali mengerjapkan mata nya.
__ADS_1
"Bu—bukan gak suka. Hanya saja, ini—"
"Bukankah tadi Jingga sudah bilang. Kalau Jingga sudah siap," ucap Jingga dengan penuh keyakinan.
Karena tidak sabar melihat suaminya hanya mematung di depan pintu kamar nya. Jingga pun segera menarik tangan Langit dan membawa nya ke dalam kamar.
"Meskipun mas Langit belum mencintai Jingga, tapi Jingga sudah cinta sama mas Langit. Jingga pengen jadi milik mas Langit sepenuh nya," tutur Jingga begitu yakin seraya menatap manik mata Langit.
Langit langsung terdiam ketika mendengar ucapan Jingga. Benarkah dirinya belum mencintai gadis itu, benarkah bahwa apa yang di rasakan selama ini bukan cinta? batin nya.
Tidak, Langit sudah mulai merasakan benih benih itu, bahkan hanya melihat Jingga menyapa Nathan saja, sudah membuat amarah nya hampir meledak di tempat umum. Langit sudah mencintai Jingga, hanya saja mungkin rasa cinta Langit masih harus terbagi dengan nama seseorang yang sudah abadi di sana.
"Apa kamu bahagia bersamaku?" tanya Langit mengusap wajah mulus Jingga.
"Jingga selalu berusaha untuk bahagia," jawab nya tersenyum dan membalas usapan tangan suaminya.
__ADS_1
"Kita akan bahagia bersama, sampai maut memisahkan."
"Promise!" Jingga mengulurkan sebuah jari kelingkingnya tepat di wajah Langit, hingga membuat Langit sedikit terkekeh, namun ia juga segera menautkan jari kelingking nya di jari kelingking Jingga.