
Entah angin darimana yang datang, pagi pagi tadi Danu, selaku ayah Langit yang sudah mengusirnya beberapa bulan lalu, tiba tiba menghubungi Langit dan meminta bertemu. Akhirnya Langit memutuskan untuk bertemu di sekolah, karena ayah nya tidak tau dimana kantor Langit, yah ayah Langit hanya tahu bahwa itu adalah kantor milik teman Langit, dan Langit hanya bekerja menjadi bawahan teman nya.
Cukup lama keduanya berbincang di ruang pribadi yang selalu di sediakan bila sewaktu waktu pemilik gedung sekolah datang, seperti saat ini. Papa Danu menyuruh Langit untuk kembali dan berjanji tidak akan menjodoh jodohkan Langit dengan siapapun lagi, papa Danu sudah menyerah dan tidak akan memaksakan keinginan putra nya. Karena papa Danu sadar, hanya Langit lah yang bisa ia harapkan.
Namun, Langit menolak untuk kembali ke luar negri lagi. Ia akan tetap fokus di Jakarta, dan mungkin sesekali ia akan melihat keadaan perusahaan di sana untuk sesekali. Namun untuk menetap kembali di sana, Langit tidak mau karena ia yakin papa nya tidak benar benar serius dengan ucapan nya. Bukan Langit meragukan papa nya, hanya saja orang tua dari rekan bisnis papa nya memiliki sejuta cara untuk membuat dirinya bisa menikahi putri nya. Maka dari itu Langit memutuskan untuk kembali ke negara asal nya daripada harus terjebak pernikahan dengan orang yang tidak ia cintai.
“Baiklah, seperti yang papa katakan tadi. Papa tidak akan memaksa kamu lagi, semua keputusan ada di kamu, asal kamu tetap memegang perusahaan yang di sana,” kata papa Danu menghela nafas nya kasar.
“Baiklah, kalau begitu Langit akan pergi dulu.” Ujar Langit mulai beranjak dari tempat duduk nya.
__ADS_1
“Mau kemana?” tanya papa Danu mengerutkan dahi nya, “Jangan bilang kamu masih mengurus taman itu?’
“Jangan campurin urusan Langit lagi Pa,” ancam Langit memberi peringatan kepada papa nya.
“Papa hanya ingin ikut ke sana.” Langit tidak menolak, ia juga tidak mengiyakan, namun tak ada salahnya juga membiarkan papa nya ikut berkunjung ke sana bukan.
Langit berjalan di depan papa nya yang sedang jalan sambil mengobrol bu Yasmin yang tadi tidak sengaja bertemu di lorong dekat ruang guru. Langit tidak menghiraukan isi cerita dari dua orang tersebut, matanya hanya fokus pada jalanan sekitar, hingga tiba tiba ia melihat seseorang yang sangat ia kenal berjalan sempoyongan menuruni tangga, tepat ketika dirinya berada beberapa langkah dari tangga, tiba tiba ia melihat gadis itu hendak terjatuh dan spontan tangan dan kaki nya reflek maju untuk menangkap tubuh mungil nan pendek tersebut.
Hooekkkk!
__ADS_1
“Damttt!!!!” umpat Langit memekik ketika malah mendapatkan satu hadiah menjijikkan dari gadis itu, siapa lagi gadis yang berani membuat masalah untuk Langit kecuali Jingga.
“O—om ... “ gumam nya lirih, masih dalam posisi memeluk Langit yang bersandar pada dinding.
Langit tidak menjawab ia masih memejamkan matanya dengan cukup erat. Menahan nafas mungkin tepat nya, merasakan ada sesuatu yang membasahi jas dan kemeja nya hingga menyentuh kulit nya.
“O—om, Jingga mau muntah lagi—“
Dan setelah mengatakan itu, semburan susulan kembali datang, dan kini sampai mengenai celana panjang Langit juga pakaian seragam Jingga.
__ADS_1
“Ma—maaf ... “ gumam Jingga lirih sebelum akhirnya ia terkulai lemas dan tak sadarkan diri.
“Aaarrrrkkkhhhh!” pekik Langit begitu marah dan sangat jijik dengan hadiah yang di berikan oleh Jingga, tak hanya Langit, bahkan papa Danu dan bu Yasmin serta beberapa murid yang melihat itu merasa ikut mual dan jijik. Meskipun hanya berupa cairan namun tetap saja itu sebuah hal yang sangat menjijikkan.