
...~Happy Reading~...
Hari demi hari berganti dengan begitu cepat. Tanpa terasa kini Ada dan Bintang sudah bersekolah. Tidak hanya itu, kini Zara dan Nathan pun juga sudah kembali tinggal di Indonesia. Sementara Raihan, ia memilih untuk menetap di negara sang kakek untuk meneruskan perusahaan yang di sana.
Kini, Bintang, Asa dan juga Willy sudah mulai aktif di sekolah yang sama. Hanya saja berbeda kelas, bila Bintang kelas tiga SD, maka Ada kelas dua dan Willy kelas satu. Hidup Langit dan Nathan pun rukun bahagia. Langit sudah benar-benar melupakan Biru. Begitupun dengan Jingga yang sudah menerima Takdir hidup nya.
Tak jarang, mereka juga berziarah bersama ke makam orang tua dan saudari nya. Langit dan Jingga benar benar sudah berdamai dengan kehidupan nya. Hingga membuat hidup nya semakin tentram dan bahagia.
"Asa, makan sarapan kamu. Garfield nya makan dulu!" tegur Jingga ketika melihat putra nya bukan ikut bergabung ke meja makan, melainkan malah asik mengganggu sang kucing peliharaan.
"Iya Bun," jawab Asa tanpa berniat untuk bangkit, ia masih asik mengusap bulu bulu halus sang kucing peliharaan nya.
Baru saja Jingga hendak mendudukkan diri di kursi makan, tiba tiba saja ia merasakan sesuatu yang aneh di dalam perut nya.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Langit ketika melihat raut wajah istri nya berbeda.
Jingga masih menggelengkan kepala, hanya saja ketika dirinya hendak kembali duduk, ia kembali merasakan gejolak luar biasa dari dalam dirinya.
__ADS_1
Hoeekkk!
Jingga segera berlari menuju toilet untuk memuntahkan segala isi perut nya.
"Ayah, Bunda kenapa?" tanya Bintang segera beranjak dan mengejar ayah bunda nya.
"Bunda kenapa?" kini Asa lah yang bergantian bertanya, namun sang bunda malah terlihat sangat lemas karena baru saja mengeluarkan segala isi perut nya.
Tidak ada yang melanjutkan untuk sarapan, semua ikut panik melihat keadaan sang bunda. Hingga akhirnya Langit memanggil Dokter Zada untuk memeriksa keadaan Jingga.
"Jingga, kapan kamu terkahir datang bulan?" tanya dokter Zara kepada Jingga tanpa menjawab pertanyaan yang sebelumnya di lontarkan oleh Langit.
"Datang bulan?" gumam Jingga begitu lirih, ia kemudian menatap sang suami dengan tatapan semakin bingung.
Jingga cukup hafal dengan pertanyaan seperti yang di ucapkan kakak nya. Karena dulu ketika ia pingsan, sang kakak juga menanyakan hal yang sama pada nya.
"Apakah aku hamil lagi?" cicit Jingga sangat pelan, namun masih bisa di dengar oleh Langit dan Zara.
__ADS_1
"Istri ku hamil?" pekik Langit dengan wajah berbinar nya.
"Masih belum akurat. Saran ku, kalian membeli tespect atau langsung ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan yang lebih lanjut," ujar dokter Zara yang langsung di balas anggukan oleh Langit.
"Ayo Sayang," ajak Langit dengan segera.
"Ya gak hari ini juga Mas, nanti sore aja ya,* kata Jingga dengan wajah memelas nya. Karena kini tubuh nya masih sangat lemas di tambah kepala nya juga pusing.
"Ayah, Asa mau punya adik bayi?" tanya Asa tiba tiba ikut menghampiri kamar ayah bunda nya.
"Doakan saja ya Sayang," jawab Langit langsung menggendong sang putra, "Apa Asa mau memiliki adik?"
"Tentu saja mau, biar nanti Asa jadi abang."
"Asa, kamu sudah menjadi abang nya adik Willy," saut dokter Zara menatap gemas pada keponakan nya.
"Willy gak asik, dia gak mau panggil Asa abang. Masa panggil nya Asa, Asa begitu terus!" adu nya dengan wajah memberengut sebal, yang membuat par sorang dewasa terkekeh gemas melihat sikap Asa.
__ADS_1