Langit Jingga

Langit Jingga
CHAPTER 12


__ADS_3

Setelah acara resepsi selesai, Jingga berbincang sebentar dengan keluarga Langit karena Mami Rini memperkenalkan Jingga kepada keluarga Langit.


"Cantik sekali menantumu, Rin. Langit pintar mencari istri." Ujar Bude Ami. Saudara jauh Mami Rini.


"Makasih Bude." Jawab Jingga dengan senyum manisnya.


"Keluarganya dari background seperti apa?" Tanya Tante Nani dengan tatapan tajam menghujam.


"Siapa memang nama Papi kamu? Mami kamu? Pengusaha juga?" Tanya Mba Eri dengan nada meremehkan. Mba Eri itu anak dari Tante Nani.


"Bapak Agung Budiono Santoso. Ibu saya Ratih Dwina Maharani." Jawab Jingga dengan mantap tanpa ada tatapan malu justru dengan tatapan bangga.


"Apa pekerjaan Bapak dan Ibumu itu? Kampungan banget sih, manggilnya Bapak." Ujar Mba Eri dengan wajah sinisnya.


"Bapak bekerja di BUMN. Ibu, guru tari tradisional." Jawab Jingga kembali dengan seulas senyum.


"Ohh... cuma pekerja yang dibayar Negara. Ibunya guru? Tante Rini cari mantu gimana deh?" Ujar Mba Eri memutar bola matanya karena kesal.


"Bisa kenal Langit di mana?" Tanya Mba Rena anak dari Bude Ami. Mba Rena ini baik sekali. Terlihat dari caranya yang menyingkirkan Eri minggir dari percakapannya bersama Jingga.


"Langit dan Jingga teman SMA, Mba Rena." Ucap Jingga.


"Ohh... teman SMA. Waah... seru dong... ngundang satu angkatan ya? Heboh tuh pasti. Hahaha..." Ujar Mba Rena dengan tawa riangnya.


"Iya, Mba. Heboh banget. Mas Langit sampe nyiapin satu hari full buat mereka. Hahaha..." Ucap Jingga dengan tawanya.


"Mba Rena ikutan dong... seru banget kayaknya. Hahaha..." Ujarnya yang masih cekikikan. Mba Rena ini humoris sekali.


"Boleh, boleh... lihat brondong ya Mba... Hahaha..." Canda Jingga.


"Eh... iya, brondong punya ya? Aseekk... lumayan... cuci mata. Hahaha..." Ujarnya.


"Jingga," Panggil Mami Rini.


"Iya, Mi." Jawab Jingga sopan.


"Kembali ke hotel yuk... Papi lagi sibuk ngobrol sama koleganya kayaknya. Mami capek nih. Pegel-pegel." Ujar Mami Rini.


"Ayo, Mi. Jingga anter." Ucap Jingga yang menggandeng tangan Mami Rini.


Mereka meninggalkan kelompok Brawijaya tersebut dan kembali ke hotel. Mami Rini kecapean sepertinya. Sesampainya di kamar hotel, Mami langsung menyandarkan tubuhnya di sofa besar.


"Ngga, sini Nak." Panggil Mami Rini kepada Jingga yang sedang mengambilkan air minum untuk Mami Rini.


"Iya, Mi?"


"Nak, makasih ya sayang... kamu sudah mau menerima anak Mami yang nyebelin itu. Terima kasih karena sudah mengubahnya menjadi laki-laki yang lebih penyanyang." Ucap Mami Rini dengan mata yang berkaca-kaca.


"Mami... Jingga yang harus berterima kasih." Ujar Jingga yang duduk dan memeluk Mami Rini.


"Kok terima kasih sama Mami kenapa?"


"Terima kasih sudah melahirkan Langit. Karena kalau Jingga tanpa Langit ia tak akan berarti, Mi..." Ucap Jingga dengan mata yang berkaca-kaca juga.


"Terima kasih banyak, Nak... untuk kesabaranmu menghadapi Langit. Long last ya sayang... doa Mami Rini yang terbaik selalu menyertai untuk kalian." Tangis Mami Rini.


"Doakan keluarga kecil Jingga dan Mas Langit ya, Mi. Selalu berada dalam lindungan Allah. Jingga dan Mas Langit yang selalu sayang sama Mami Rini, Papi Haris, Bapak dan Ibu. Tak pernah henti mengucapkan terima kasih." Ucap Jingga yang sudah berderai air mata dan mencium punggung tangan Mami Rini.


"Mami gak bisa disini aja sama Jingga?" Tanyanya yang sembari memeluk Mami Rini.


"Gak bisa dong, Nak... Mami kan juga harus up to date sama jualannya Mami di Jerman. Kasian ibu-ibu sosmed di sana gak ada Mami kesepian." Pecah sudah tawa mereka. Luar biasa Mami Rini ini. Mampu memecah kesunyian dengan tawanya.


Papi Haris yang sejak tadi di luar kamar hotel mendengar percakapan mereka. Terharu sekali ia melihat istri dan menantunya yang begitu akur.


"Pi, lihat Jingga? Langit cari dari tadi gak ketemu." Ujar Langit yang berjalan menghampiri Papi yang berdiri di luar kamar hotel.


Papi Haris hanya menunjuk ke dalam kamar hotel dan Langit melongok sebentar. Disitu ternyata istrinya bersama Maminya. Papi Haris dan Langit kembali ke ballroom untuk menemui para kolega bisnisnya.


*****


Bandara Soetta


"Langit, jaga Jingga baik-baik. Jangan hanya jaga fisiknya. Tapi hatinya juga." Ucap Papi dengan wejangannya kepada Langit.


"Jinggaaa... huuaa... hiks hiks..." Mami Rini yang sudah termehek-mehek karena harus berpisah dengan menantu kesayangannya.


"Mamii... Jingga pasti kangen banget sama Mami. Sering-sering video call ya Mi. Cerita-cerita sama Jingga tentang ibu-ibu sosmed di Jerman." Ujar Jingga yang mengundang tawa Papi Haris, Langit, Pak Budi, Bu Ratih dan Biru.


"Hati-hati ya, Rin. Berkabar ya kalau sudah sampai. Jangan lupa." Ucap Bu Ratih.


"Jangan lupa apa, Tih?" Tanya Mami Rini.


"Jangan lupa follow ig aku. Hahaha..." Tawa mereka pecah seketika.


Ampuunn... ibu-ibu ini... sudah sibuk dengan sosial medianya ternyata.


Yang laki-laki hanya bergeleng-geleng tak mampu lagi berkata dengan tingkah wanita kesayangannya.


"Bud, kamu juga hati-hati. Di Jepang banyak teman-temanku. Kalau kamu butuh apa-apa. Kabari aku. Akan aku kabarkan kepada kolegaku di sana." Ujar Papi Haris.


"Iya, Har. Terima kasih untuk tawarannya. Aku tidak lama di sana. Hanya mengantar Biru, lalu kembali lagi ke Jakarta. Mengurus surat pindah tugasku ke Yogya. Kembali ke kampung halaman kita, Har." Ucap Pak Budiono.


"Aku ingin sekali menikmati masa tuaku di kampung halamanku, Bud. Sesegera mungkin aku menyusulmu kembali ke sana." Ujar Papi.


"Ratih, terima kasih ya..." Ucap Mami Rini.


"Untuk apa Rin?" Tanya Ibu Ratih.


"Karena sudah mengizinkan Jingga menjadi menantuku. Hiks..." Mewek lagi nih si Mami... 😂


"Rin... ini sudah rencana Allah. Jingga menyanyangi Langit. Begitupun Langit. Langit laki-laki yang mampu membimbing Jingga, Rin. Aku juga berterima kasih untuk menerima keseluruhan keluargaku. Terima kasih banyak, sahabat kecilku." Ucap Ibu Ratih yang semakin menjadi mewek mereka. Membuat Jingga juga ikut terlarut dalam tangis.


"Papi Haris, gak punya karung ya?" Tanya Biru.


"Hah? Karung? Buat apaan, Biru?" Tanya kembali si Papi.


"Nih, buat ngarungin 3 permata Tuhan. Taro di bagasi pesawat." Ujar Biru yang membuat Papi, Bapak, dan Kakak Iparnya Langit tertawa geli mendengarnya.

__ADS_1


"Ru, seru tau. Kalau gak ada mereka, dunia hampa. Hahaha..." Ucap Langit yang merangkulkan tangannya di pundak Biru, sang adik ipar.


"Hufft... iya, iya. Biru gak paham deh." Ujarnya yang sambil menganggukan kepala tanda pasrah setuju.


Papi Haris dan Mami Rini masuk ke gate pesawat menuju Jerman. Mereka menetap tinggal di sana beberapa waktu. Sambil mengontrol perusahaan yang ada di Jerman.


Jingga dan Langit juga sekalian mengantar Bapak, Ibu dan Biru untuk keberangkatan mereka ke Jepang.


"Mba, nanti kalau Biru gak tau bahasa Jepangnya, kasih tau ya." Ujar Biru yang duduk sambil mengalungkan headphonenya.


"Lha, gimana bisa? Kan jauh, cumi." Ucap Jingga.


"Yak elah... gak canggih lo Mba. Kan ada handphone. Bisa V-Call atau V-Note." Ujarnya.


"V-Call?? V-Note?? Itu apaan deh??" Tanya Jingga yang membuat Biru membelalak tak percaya bahwa Mbanya tak tau dengan singkatan tersebut.


"Video Call dan Voice Note, sayang..." Ucap Langit memberitahu.


"Ohh... hahaha... gak ngerti kan aku, Mas." Ujarnya yang masih tertawa geli.


"Bahasa gaul yang baru ya, Ru?" Tanya Jingga yang sibuk membuka tutup botol a**a. Yang Akhirnya dibantu Langit untuk membuka tutup botolnya.


"Udah lama, keless..." Sahut Biru.


In**termezzo


Biru sekarang sudah tumbuh menjadi sosok laki-laki tampan. Tinggi, tegap. Tingginya hampir sama dengan Langit si kakak ipar.


Otaknya gak kalah encer kayak Jingga. Biru mendapat beasiswa untuk kuliah di Jepang. Biru lebih tertarik dengan pelajaran ilmu hitung-menghitung. Jadilah ia di tarik untuk ke Jepang.


Intermezzo close


Pengeras suara di Bandara Soetta mengumumkan penumpang dengan tujuan ke Jepang segera bersiap masuk.


"Langit, Bapak titip Jingga ya. Jaga baik-baik Jingga, ya." Ucap Pak Budi.


"Iya, Pak. Pasti." Jawab Langit mantap.


"Ndok, Ibu berangkat ya. Jaga baik-baik suamimu. Jangan terlambat makan nanti magmu kumat." Ucap Ibu sambil memeluk Jingga.


"Iya, Bu. Ibu juga hati-hati sama Bapak ya. Jangan berantem mulu di jalan. Bapak harus jaga Ibu. Ibu harus banyak sabar sama Bapak." Ujar Jingga yang sudah mulai berkaca-kaca matanya.


"Kami berangkat ya. Assalamualaikum." Ujar mereka bersamaan.


"Waalaikumsalam." Jawab Jingga dan Langit.


Jingga menangis karena melepas keberangkatan Bapak dan Ibu serta adik bungsunya.


"Udah, ya sayang... Mereka nanti kembali lagi kan... Hm?" Ucap Langit yang menenangkan Jingga dengan memeluknya dan mengecup pelipis Jingga.


Jingga bukannya melepas pelukannya kepada Langit. Tapi justru malah memeluk erat tubuh Langit.


Mereka pulang ke rumah baru mereka. Di bilangan Jakarta Selatan. Langit sengaja menyiapkan rumah tersebut untuk menjadi sebuah kejutan buat istri tercintanya.


******


"Udah dek." Jawabnya singkat karena sibuk untuk memarkir mobilnya.


"Aku perlu ingetin di group lagi gak?" Tanya Jingga.


"Boleh. Biar makin meriah. Rame kan tuh pasti." Ujar Langit yang sembari turun dari mobil dan membukakan pintu mobil satunya untuk Jingga.


"Ini rumahnya, Dek. Hehehe... suka gak?" Terang Langit yang memperlihatkan rumah dengan gaya Asia-America tersebut.


"Masya Allah... Mas... ini bagus banget." Ujar Jingga kepada Langit dengan mata berbinarnya.


"Kamu suka?" Tanya Langit dengan senyum sumringahnya.


"Bangeettt... I love you." Ucap Jingga yang mengecup pipi Langit dan menggandeng Langit memasuki rumah tersebut.


Langit menjelaskan setiap sudut rumah tersebut. Rumah dengan halaman dan ruangan yang luas membuat Jingga terkadang suka bingung mau lewat pintu sebelah mana.


Sampai mereka pada kamar tidur utama. Letaknya ada di lantai dua. Jingga membuka kamarnya dan indaahh... sekali.


Langit itu cuek, tapi romantis. Buktinya seperti sekarang ini. Ia menyulap kamar tidur mereka penuh dengan bunga mawar biru.


Bunga kesukaan Jingga. Namanya Jingga tapi sukanya bunga mawar biru. 😄 gak apalah ya... semua warna kan bagus.


Jingga yang sangat terkejut dan merasa bahagia sekali, langsung memeluk Langit dan mencium bibirnya.


"Makasih, sayang..." Ujar Jingga yang mendekatkan kening dan hidung mereka masing-masing.


"Aku mencintaimu Aruna Jingga Maharani." Ucap Langit dengan mencium kening Jingga penuh sayang.


"Aku pun begitu mencintaimu Cakrawala Langit Brawijaya." Kali ini Jingga benar-benar dibuat haru oleh Langit.


Ia meneteskan bulir-bulir air matanya yang segera di halau oleh Langit dan didekapnya Jingga kala itu.


*****


Jingga dan Langit bersih-bersih, lalu beristirahat. Lelah sekali mereka hari itu. Jingga memeluk Langit dan Langit memeluk Jingga dengan lengan kokohnya.


Pagi menjelang setelah sholat shubuh, Langit ingin merebahkan tubuhnya sejenak. Namun, Langit malah tertidur pulas di tempat tidur. Akhirnya Jingga turun ke dapur untuk membuat sarapan.


"Pagi Bi Nur..." Sapa Jingga kepada sang Bibi yang mengurus rumah Langit.


"Pagi Non Jingga... sudah bangun Non?" Tanya Bi Nur.


"Sudah, Bi." Jawab Jingga dengan senyum


"Den Langit belum bangun ya, Non?"


"Belum Bi. Capek banget kayaknya Mas Langit. Seharian nyetir sendiri kemarin." Terang Jingga.


"Den Langit kan emang gak mau minta bantuan kalau belum susah banget, Non. Hehehe..." Ucap si Bibi yang paham betul dengan karakter Langit karena memang sudah lama bekerja di sana.


"Sama kayak aku, Bi. Haha..." Jawab Jingga dengan candanya.

__ADS_1


"Rumah jadi rame Non, semenjak Non Jingga di sini. Bibi seneng deh." Ujar si Bibi.


"Alhamdulillah kalau Jingga buat rumah ini jadi rame, ya Bi." Ucapnya dengan seulas senyum.


"Oh, iya. Ngomong-ngomong Mas Langit suka sarapan apa, Bi?" Tanya Jingga.


"Den Langit mah simple, Non. Paling cuma buah sama susu aja. Biasanya kalau pagi jam segini berenang." Jelas Bi Nur.


"Ohh... gitu. Jingga bangunin sekarang apa ya? Tapi kok aku gak tega ya Bi. Pulas sekali soalnya tadi tidurnya." Ucap Jingga yang sambil memotong buah pisang dan menghiasnya di atas sereal yang dibuatnya.


"Yaudah, gak apa Non. Besok-besok masih bisa. Kecapean kali, Den Langitnya Non." Ujar si Bibi.


"Iya, Bi. Gak tega mau bangunin." Jawab Jingga sembari menaruh sarapan untuk Langit di meja makan.


"Bibi mau masak apa?" Tanya Jingga yang kembali ke dapur.


"Masak udang asam manis, Non." Bi Nur.


"Makanan kesukaannya Mas Langit udang asam manis, Bi?" Tanya Jingga yang sambil mencuci sayuran.


"Den Langit mah apa aja suka sih Non. Gak pernah pilih-pilih makanan." Jawab si Bibi.


"Ohh... Alhamdulillah... Jingga punya suami pecinta segala makanan. Yang halal, ya Bi. Hahaha..." Ujarnya sembari memotong sayur wortel mau buat sup jagung wortel katanya.


"Hahaha... Non Jingga ini senang sekali bercanda. Beda banget sama Den Langit, Non." Ujar Bibi.


"Emang Mas Langit bukan pecinta humor, Bi?"


"Enggak, Non. Bibi kadang mau nanya Den Langit suka takut. Jutek banget soalnya. Hehehe..." Jawab Bibi dengan cengiran kudanya.


"Hahaha... kalau Mas Langit jutek, bilang sama Jingga Bi. Biar Jingga buat dia ketawa. Hahaha..." Ucap Jingga.


"Non Jingga ini, ada-ada saja." Bi Nur.


"Den Langit sama Non Jingga itu serasi. Pasangan yang saling melengkapi. Yang satu jutek jarang senyum, yang satu ramah dan murah senyum. Yang satu serius, yang satu suka humor. Yang satu cuek, yang satu perhatian sekali. Yang__" Belum sempat Bi Nur menyelesaikan kalimatnya, Jingga sudah menyambungnya.


"Yang satu suka buburnya di aduk, yang satu gak suka buburnya di aduk. Yang satu suka kopi, yang satu sukanya air putih. Hahaha..." Ucap Jingga yang membuat dapur pagi itu ramai dengan tawanya. Mbok Surti yang sejak tadi menjadi pendengar ikut tertawa mendengar celoteh pagi Jingga dan Bi Nur.


"Dek, sayang..." Panggil Langit dari lantai atas.


"Mas Langit kayaknya udah bangun deh."


"Iya, Mas... aku di dapur." Ujar Jingga yang menyahut dari dapur.


Langit yang mendengar jawaban istrinya. Langsung turun tangga dan menghampiri Jingga. Lalu memeluknya dari belakang.


"Mas... malu ah, ada Mbok Surti sama Bi Nur." Ujar Jingga yang membuat Langit melepaskan pelukannya.


"Kamu lagi ngobrolin apa deh? Rame banget." Tanya Langit.


"Ghibahin kamu. Hahaha..." Ucap Jingga yang mengundang tawa Mbok Surti, Bi Nur bahkan Langit.


"Itu dosa gak sih?" Tanya Langit.


"Apanya? Ghibahin kamu?"


"Hm'emh." Jawabnya sambil menyuap sereal buatan Jingga yang membuat Langit menghabiskannya tanpa tersisa. Langit tak menyangka kalau Jingga mampu masak dengan lezat.


"Enggak kali... kan ngomonginnya yang baik-baik. Hahaha..." Ujar Jingga dengan tawa riangnya.


"Sama aja, sayanggg..." Ucap Langit yang mecubit gemas pipi Jingga.


"Mas, aku sudah siapkan baju untuk kita nanti ke Bali ya. Tapi belum aku masukin ke koper. Kita berangkat sore kan ya?" Tanya Jingga kepada Langit yang sedang menyicipi sup jangung buatan Jingga.


"Okay. Dek, sup jagungnya enak banget. Kamu masaknya pake apa?" Tanya Langit yang menyuap satu sendok terakhir sup jagungnya.


"Pake cinta. Hahahaha..." Ucap Jingga yang membuat Langit hampir tersedak karena ucapannya. Langit meminum air mineralnya sambil tertawa riang melihat istrinya.


Langit yang gemas sekali dengan Jingga langsung menggedongnya ke kamar.


"Maaas... hahaha... iya, ampun... turuniiinn... hahaha..." Pekik Jingga di gendongan pundak Langit. Berasa ngangkat burble kayaknya. 😅


Langit menurunkan Jingga di kamar dan segera menutup pintu kamar lalu menguncinya.


"Oh, My God !!" Ucap Jingga yang membuat Langit menatap Jingga.


"Kenapa, dek?" Tanya Langit bingung.


"Aku di kunciiinn... kabuuurr..." Ucap Jingga yang berlari menjauh dari Langit dan bermain kejar tangkap dengan Langit jadinya. In the end...


"Gotcha" Ucap Langit yang memeluk pinggang Jingga, mengangkatnya dan memutarnya.


"Maass... hahaha... udah, udah. Hahaha..." Ucap Jingga yang menepuk-nepuk lengan kokoh Langit.


Langit menurunkan Jingga, namun Jingga ingin lepas dari Langit. Gak berhasil. Lengan kokoh Langit membuat Jingga tak sanggup melawannya. Yang akhirnya Jingga jatuh terbaring di kasur bulat mereka. Disusul Langit yang berada di atas Jingga.


"Makasih, lho... hhh... udah buat aku... hhh... olahraga pagi... hahaa.." Ujar Langit dengan suara tersengal-sengalnya karena lelah bermain kejar tangkap.


"Sama-sama..." Jawab Jingga dengan senyum sumringahnya dan bangun dari baringannya.


"Dek, masih haid ya?" Tanya Langit yang duduk bersandar di sofa besar kamarnya.


"Masih. Kenapa Mas?" Tanya Jingga kembali yang sembari berjalan menghampiri Langit di sofa.


"Gak apa..." Ujar Langit yang menarik tangan Jingga untuk duduk di pangkuannya.


"Hahaha... dasar. Gitu aja gak mau jujur." Ucap Jingga yang tau bahwa Langit ingin darinya.


"Emang apa?" Tanya Langit yang mendongakkan kepalanya ke atas.


"Malam yang indah."Jawab Jingga dengan malu-malu.


"Setiap malam juga indah, dek. Kalau sama kamu." Ucapnya sambil mencium lembut bibir Jingga.


Pagi dengan hangatnya sinar mentari mampu membuat Jingga dan Langit tenggelam dalam cumbuan lembut dan panas.


*****

__ADS_1


__ADS_2