
Langit tidak jadi membawa Jingga ke rumah sakit. Setelah ia pikir pikir, nanti mobil nya akan ikut terkontaminasi dengan aroma yang di keluarkan tubuh nya dan Jingga. Akhirnya, Langit membawa Jingga ke UKS dan membaringkan nya di sana.
Tak lupa, ia menyuruh Raihan agar memanggil salah satu murid perempuan agar membantu Jingga membuka pakaian, karena kebetulan hari ini, petugas yang berjaga di UKS sedang pergi dan di titipkan kepada murid laki laki.
"Om—" panggil Jingga ketika Langit hendak pergi dari ruangan Jingga.
"Kamu sudah sadar?" tanya Langit bernafas lega.
"Eumm itu, anu... Te—terimakasih. Dan juga, Jingga minta maaf," cicit nya pelan sambil menggigit bibir bawah nya.
"Tak apa, anggap saya sedang berbaik hati. Sekarang, karena kau sudah sadar, lebih baik kau bersihkan tubuh kamu!" ujar Langit lalu segera bergegas pergi menuju ruangan ayah nya.
Karena tidak ada kamar mandi, akhirnya Langit memakai kamar mandi guru yang kebetulan berada tak jauh dari ruangan sang ayah. Untung saja, ia selalu membawa pakaian ganti di dalam mobil nya, sehingga ia tidak terlalu sulit untuk mencari pakaian ganti.
Di depan mobil, ia merasa bimbang dan ragu untuk membawa kaos nya atau tidak. Ada beberapa kaos yang ada di mobil nya, dan tadi ia berniat memberikan nya kepada Jingga, namun ia juga malas bila harus menemui Jingga lagi. Sudah cukup untuk hari ini, batinnya.
__ADS_1
Baru beberapa jangkah ia melangkah, namun ia berbalik lagi dengan di sertai helaan nafas kasar.
"Shittt! sejak kapan kamu selalu ragu begini, Lang!" umpat nya dengan kesal.
Ia pun akhirnya membuka kembali pintu mobil nya, dan membawa salah satu kaos nya untuk ia berikan kepada Jingga.
Sementara itu, di ruang yang berbeda. Yakni, UKS, Jingga tengah mengobrol sedikit dengan Raihan, setelah ia membersihkan sedikit sisa muntahan nya. Ya, beruntung, baju yang di kenakan Jingga tidak terlalu banyak terkena kotoran. Jadi ia tetap memakai seragam nya, walau sedikit basah karena sedikit ia bersihkan dengan air dan sikat.
"Perut kamu masih sakit gak?" tanya Raihan masih sedikit khawatir.
"Kamu yakin gak mau ke rumah sakit aja?"
"Yakin lah, aku gak mau dan gak akan mau ke rumah sakit." kata Jingga dengan cepat.
"Tapi kamu sampai pingsan begitu loh, pasti sakit banget tadi. Kamu—"
__ADS_1
"Aku gapapa Rai lagian tadi juga sebenernya aku gak pingsan," ujar Jingga tersenyum lebar, seketika membuat Raihan langsung membulatkan matanya menatap Jingga.
"Gak pingsan? maksudnya gimana?" tanya Raihan memastikan pendengaran tidak salah.
"Hehehe, sebenernya aku cuma pura pura," gumam Jingga lirih sambil menggigit bibir bawah nya, "Aku malu karena udah muntahin om Langit tadi. Aku yakin dia pasti bakal marah besar, makanya aku ambil jalan pintas dengan pura pura pingsan," imbuhnya menyengir lebar.
"Astaga Jingga, sumpah parah banget kamu! Bisa bisa nya kamu pura pura, astaga." Raihan menggelengkan kepala nya, tak habis pikir dengan kelakuan Jingga.
"Gimana nanti kalau dia tau—"
"Om Langit gak akan tau kalau kamu gak ngasih tahu. Karena cuma kamu yang tau hal ini," jawab Jingga dengan sangat yakin.
"Apa yang aku gak akan tau!" ujar Langit yang tiba tiba muncul dari balik tirai ruangan Jingga.
'Mampuss!' umpat Jingga dalam hati.
__ADS_1