
Langit membawa Jingga kembali masuk ek dalam ruangan nya. Sejak tadi diirnya cukup peka melihat ekspresi wajah Jingga yang seperti menahan sesuatu, terlebih ketika ia melihat kening Jingga terluka dan leher yang memerah. Ia menghela nafas nya kasar ketika sudah duduk di sofa.
“Om mau ngapain ngajak Jingga kesini? Katanya mau skors Jingga, kok malah di ajak kesini. Om gak mau un boxing Jingga kan?” tanya Jingga sedikit memanyunkan bibir nya.
Ctakkk
“Aduh! Sakit om!” pekik Jingga dengan sedikit berkaca kaca, karena baru saja Langit menyentil kening nya, bukan tepat di tempat yang luka namun tetap saja sakit, batin Jingga.
“Kenapa kamu begitu hobi membuat kerusuhan?”
“Om kan lihat sendiri, bukan Jingga yang mulai. Mereka duluan!” seru nya tak terima.
“Kamu yang membuat mereka berfikir begitu, harusnya kamu bisa sedikit lebih lembut jadi perempuan. Jingga, aku tidak mau menyalahkan siapapun, karena kalian sama sama salah.” Kata Langit menghela nafas nya berat.
“Jingga juga gak minta di belain sama Om!” pekik nya kesal dengan mata berkaca kaca.
__ADS_1
“Jingga, ini demi kebaikan kamu. Tidak semua orang bisa mengerti kamu, tidak semua bisa menerima sifat kamu, kamu yang harus bisa menyesuaikan diri kamu. Kamu harus bisa berperilaku baik di depan orang agar orang tidak menilai mu buruk.”
“Jingga gak butuh penilaian dari orang! Dan Jingga gak perduli dengan mereka!” sungut Jingga mengepalkan tangan dengan kuat, penilaian? Apakah Jingga masih butuh penilaian itu. Bahkan dari orang tuanya sendiri pun tak bisa ia dapatkan, bunda nya masih terus menilai Biru yang terbaik, meski dirinya sudha berusaha sebaik mungkin.
Bunda memang sudah ingat dan mau berubah, namun Jingga tahu bahwa kesembuhan belum seratus persen. Jingga maish sering mendengar bunda menangis dan memanggil nama Biru bila sedang berada di taman. Semua bunga di taman hanya berisi bunga mawar putih, itu kesukaan Biru, Jingga tau itu. Bahkan, bunda nya tidak tau apa makanan kesukaan nya, bunga atau benda apapun kesukaan dirinya. Bunda hanya memikirkan kesukaan Biru, Biru dan Biru.
Dan kini, Langit meminta dirinya berperilaku baik agar mendapat penilaian baik dari orang lain? Ckck, Jingga tidak se munafik itu, ia tidak mau memaksa orang untuk menyukai penampilan dan sifat nya. Kecuali Langit, entah mengapa bila bersama Langit, ia merasa begitu nyaman dan memiliki rasa yang begitu kuat untuk bisa merebut hatinya.
Jingga sendiri juga tidak tahu mengapa.
“Jingga di skors kan? Sampai kapan?” tanya Jingga mengalihkan pembicaraan, namun Langit tahu bahwa Jingga cukup sakit hati mendengar ucapan nya tadi. Terlihat kini gadis itu mengepalkan tangan nya dengan mata yang berkaca kaca, membaut Langit lagi lagi hanya bisa menghela nafas nya, pusing.
Untung saja, Langit begitu sigap menangkap tubuh Jingga hingga kini posisi Jingga terjatuh tepat di pangkuan Langit. Mata keduanya bertemu dan saling menatap dalam, ada sebuah rasa yang Langit sendiri tidak bisa mengungkapkan nya.
Rasa yang sudah lama hilang, dan ini seolah rasa itu kembali lagi.
__ADS_1
Cukup lama mati keduanya saling berpandangan, hingga tiba tiba pandangan Langit turun sampai pada bibir mungil Jingga. Bibir yang selalu mengoceh dan membuat kepala nya terasa pusing karena suaranya. Perlahan namun pasti, Langit mengusap bibir itu, membuat Jingga seketika menahan nafas nya.
"Siapa yang mengizinkan mu pergi?"
"Om yang—"
"Sssttt!" Langit menyentuh bibir Jingga dengan telunjuk nya seolah memberikan isyarat agar gadis itu diam.
Glek!
'Om Langit mau ngapain? Gak mungkin mau buka segel Jingga, sekarang kan?' gumam Jingga dalam hati dengan jantung yang berdebar kencang.
Wajah keduanya semakin mendekat dan spontan Jingga memejamkan matanya seolah Langit akan mencium nya, ia sudah mempersiapkan nya, bila memang Langit lah yang akan mengambil fisrt kiss nya. Ya ciuman pertama, karena selama berpacaran dengan Bagas, Jingga beum pernah ciuman bibir, hanya saja kadang Bagas mencium pipi atau kening nya.
Dekat, semakin dekat dan tiba tiba ...
__ADS_1
Cklek ...
“Oops, sorry!”