Langit Jingga

Langit Jingga
Me time


__ADS_3

“Jingga, kamu beneran udah gapapa?” tanya Raihan sekali lagi setelah kini keduanya duduk bersama di dalam kantin, “Kata papa ku, kalau kamu kesepian di rumah sendiri. Kamu bisa ikut tinggal di rumah ku.”


“Aku udah gapapa. Lagian, kamu pikir aku se lemah itu?” cibir Jingga berdecak dan menggelengkan kepala nya, “Oh iya, ada gosip apaan selama aku gak masuk sekolah?” tanya Jingga mengalihkan pembicaraan.


“Gosip apaan?” kata Raihan malah balik bertanya.


“Tadi kamu bilang!”


“Hehehe bercanda Jingga. Disini adem ayem aja kok, Cuma ya kaya biasa aja. Aku selalu di kejar sama cewek,” jawab nya malas, “Ayo dong jIngga pacaran aja sama aku. Atau bila perlu kita nikah, biar kamu—“


Dug!


“Sakit woy!” seru Raihan langsung memegang kepala nya karena Jingga memukul nya dengan botol kecap. Untung saja botol nya plastik, kalau saja botol nya beling sudah pasti kepala nya berlumuran kecap.


“Lagian bicara kamu begitu!” cetus Jingga tak perduli. “Oh ya, pulang nanti ke Mall yuk, aku pengen beli sesuatu,” ajak Jingga.

__ADS_1


“Yah, besok aja gimana?”


“Kenapa kalau hari ini?” tanya Jingga mengerutkan dahi nya.


“Hari ini itu aku mau anterin mama ku arisan. Ckck, kamu tahu sendiri kan emak emak kaya gimana kalau gak di turutin tuh! Beginilah resiko jadi anak cantik kesayangan.” Ucap nya santai sambil menyelipkan sebagian rambut nya ke belakang telinga.


“Sumpah, makin enek aku deket kamu,” seru Jingga di sertai tawa begitu kencang. Raihan selalu bisa membuatnya tertawa dan ada di setiap ia butuh. Padahal, dulu ia sering mengusir laki laki itu demi Bagas. Namun kini malah Bagas meninggalkan nya dan Raihan masih tetap setia berteman dengan nya.


Sepulang sekolah, Jingga langsung pergi ke pusat perbelanjaan dengan menggunakan Taxi online. Jingga belum sempat membawa mobil nya ke rumah Langit, sehingga tadi ia berangkat dengan di antar Langit dan pulang terpaksa naik taxi karena Langit sedang ada meeting penting.


Tujuan Jingga pergi ke Mall bukan untuk shoping dirinya. Melainkan ia berniat membeli beberapa pakaian untuk Langit. Jingga merasa mungkin Langit terlalu sibuk mengurus beberapa perusahaan selama ini sehingga membuatnya tidak bisa membeli pakaian sendiri.


Drrtt drrttt drtt ...


Jingga segera merogoh ponsel nya di dalam tas, nomor tanpa nama. Namun Jingga tahu bahwa itu adalah nomor suaminya, ya sampai kini Jingga belum juga menyimpan nomor Langit di ponsel nya.

__ADS_1


“Halo,” jawab Jingga sambil memilih beberapa kaos yang akan ia beli untuk Langit.


“Kamu dimana? Aku sudah di sekolahan, kamu gak ada!”


“Astaga, Jingga lupa ngasih tahu om, eh mas Langit. Jingga lagi di Mall. Jingga mau beli buku,” jawab Jingga sedikit berbohong.


“Mall mana? Aku jemput.”


“Gak usah!” seru Jingga dengan cepat, “Jingga belum selesai. Bukankah mas bilang kalau siang ini ada meeting?”


“Iya tapi—“


“Jingga gapapa, mas Langit kerja aja dulu, biar uang jajan Jingga nambah banyak,” kata Jingga terkekeh, “Eh iya, mas Langit belum kasih Jingga uang jajan loh,” imbuh nya sedikit memanyunkan bibir.


Jingga bisa mendengar helaan nafas kasar dari Langit di ujung telfon nya, “Kirim nomor rekening kamu. Dan juga katakan kamu di mall mana!”

__ADS_1


“Ih gak usah, Jingga mau me time. Jingga mau shoping dulu, mas Langit fokus kerja. Nanti sore kalau udah pulang, Jingga kasih nomor rekening langsung aja.”


Langit tidak bisa memaksa Jingga lagi, kini pikiran nya semakin kalut. Rasa bersalah nya semakin menjadi. Langit berfikir bahwa Jingga sengaja tidak ingin ia jemput karen masih marah tentang pakaian warna biru tadi pagi.


__ADS_2