Langit Jingga

Langit Jingga
Syaiton


__ADS_3

Sepanjang hari, Jingga terus menemani Langit di kantor nya. Sebenarnya, Langit sangat terganggu dan entah sudah berapa kali ia menyuruh Jingga agar pulang. Namun, seperti biasa, Jingga selalu memiliki cara agar bisa bertahan di sisi Langit, hingga membuat lelaki itu pasrah dan melanjutkan pekerjaan nya.


"Om, sebentar lagi kan Jingga lulus. Om kapan mau melamar Jingga?" Mendengar pertanyaan dari Jingga, sukses membuat tangan Langit berhenti, pena yang sejak tadi ia gunakan untuk mengerjakan pekerjaaan nya langsung ia letakkan di meja dengan cukup kasar.


"Aku bilang diam, kalau masih mau disini! sekali lagi kamu bersuara atau menanyakan hal tak masuk akal, lebih baik kamu pulang!" kata Langit dengan raut wajah datar.


"Oh oke!" balas Jingga lagi tak ambil pusing, ia pun memilih bermain ponsel dan rebahan di sofa.


Langit menghela nafas nya lagi dengan sangat kasar, sungguh ia merasa seperti uji nyali bila berada di dekat Jingga. Bagaimana tidak, ketika Jingga bersuara maka darah tinggi nya akan naik. Dan ketika Jingga diam, maka sesuatu di bawah sana yang akan naik. Karena posisi tidur Jingga saat ini benar benar di luar dugaan nya.


Jingga tidur dengan posisi telentang di sofa, dengan kaki nya yang ia sandarkan di sisi sofa yang agak tinggi. Sehingga membuat rok sekolah yang ia gunakan sedikit tersingkap karena posisi lutut lebih tinggi dari pinggang nya.


Meskipun Jingga memakai celana short, namun tetap saja konsentrasi Langit langsung ambyar. Otak nya bekerja keras agar tetap fokus pada pekerjaan nya, namun mata sama sekali tidak bisa ia ajak kerja sama. Matanya selalu mencuri curi pandang untuk menatap ke arah Jingga, hingga benar benar membuatnya sangat frustasi.

__ADS_1


Brakkk!


Jingga langsung terkejut dan duduk ketika mendengar Langit menggebrak meja kerja nya. Dengan wajah bingung nya, ia menatap Langit.


"Om kenapa sih? pasti ada kerjaan yang gak beres. Asisten om pasti yang kerja nya gak bener. Nah, tunggu Jingga lulus sekolah nanti Jingga yang akan gantikan," celoteh Jingga panjang lebar, yang semakin membuat Langit frustasi.


"Jingga, ini sudah sore. Aku akan ada lembur sampai malam, jadi lebih baik kau pulang. Oke!" usir Langit dengan nada tertahan.


"Jingga mau nemenin om, kok. Beneran deh, Jingga gapapa," Kata Jingga serius.


"Emang om Langit kenapa?" tanya nya polos.


" Lupakan, sekarang kamu pulang. Atau besok jangan pernah kesini lagi!"

__ADS_1


"Oke deal! berarti besok masih boleh kesini. Bye bye!" dengan wajah berbinar nya, Jingga segera beranjak memakai sepatu dan pergi. Sementara Langit yang merasa sudah salah bicara hanya bisa diam menatap kepergian Jingga dengan penuh penyesalan.


"Aku pulang naik apa ya?" gumam Jingga sambil berfikir ketika masih berada di lift.


'Astaga anak jaman sekarang ya, parah banget!'


'Masa sih pak Langit mau sama anak sekolah begitu?'


'Cantik sih, tapi kalau murah, buat apa.'


'Paling juga pak Langit mau sama dia karena servis nya doang.'


'Yups kamu bener, gak mungkin untuk serius.'

__ADS_1


Jingga mengepalkan tangan nya dengan kuat ketika mendengar bisik bisik syaiton dari arah belakang. Ya, saat ini di dalam lift bukan hanya dirinya. Namun juga ada beberapa karyawan lain yang sejak awal kedatangan nya sudah menampakan wajah tak suka nya pada Jingga. Dan benar saja kini mereka berani bersuara di belakang nya.


__ADS_2