
Tiga hari sudah Jingga tidak masuk ke sekolah. Selama itu pula, Jingga hanya berdiam diri di dalam kamar. Ia begitu enggan untuk keluar, karena bayang bayang akan ayah dan bunda nya masih terus terngiang di kepala nya. Setiap ia keluar kamar, pasti ia akan merasa bahwa Bunda tengah menyambut nya di tangga dan menyuruh nya untuk sarapan. Begitu pun dengan ayah nya pasti akan mengajak nya bercanda dan bercerita banyak hal di meja makan.
Jingga masih merasa begitu berat untuk menjalani hari hari nya tanpa kedua orang tuanya. Dada nya masih begitu sesak dan air matanya hingga kini masih terus menetes, seolah tak membiarkan wajah nya kering.
Sore ini, Langit baru pulang dari kantor, ia menghela nafas nya berat karena hingga kini Jingga masih belum mau keluar kamar.
Cklek!
Hal pertama yang Langit lihat ketika membuka pintu, ia selalu melihat Jingga meringkuk di sofa menghadap pada jendela dan menatap ke arah langit.
“Kamu sudah makan?” tanya Langit ikut duduk di samping Jingga.
Jingga mendongakkan kepala nya menatap ke arah Langit, “Om sudah makan?” katanya bertanya balik.
“Mau makan di luar?” tawar Langit, namun Jingga menggelengkan kepala nya.
__ADS_1
“Om, tahu gak jalan menuju surga?” tanya Jingga kembali menatap langit luas yang kebetulan sore ini begitu cerah.
“Sholat, berbuat baiklah dan—“
“Bukan!” jawab Jingga dengan cepat, “Jingga mau ikut ayah sama bunda. Jingga juga mau ketemu sama Biru. Jingga mau memarahi Biru, karena dia sudah jahat sama Jingga. Bukankah seorang kakak harusnya menyayangi adik nya? Bukankah seharusnya Biru melindungi Jingga? Tapi kenapa dia begitu jahat? Biru malah mengambil semua milik Jingga.” Celoteh nya panjang lebar.
“Jingga, kamu mau tinggal di apartemen atau rumah? Atau kamu mau berlibur?” tanya Langit sengaja mengalihkan pembicaraan, karena bila Jingga sudah meracau seperti itu, maka akan panjang lagi dan membuat gadis itu kembali menangis.
Langit hanya ingin Jingga memulai hidup barunya dan menerima keadaan agar tidak terus menyalahkan Biru. Dari sini juga Langit sadar, ia juga belajar membuka hatinya untuk Jingga, dan melepaskan Biru untuk selama lamanya. Tidak ada lagi Langit yang galak, arogan dan sombong. Kini lelaki itu menjadi sangat lembut dan berusaha untuk selalu menghibur Jingga, walau pada nyatanya usaha nya belum ada yang berhasil.
“Apa kau pikir aku se miskin itu sampai tidak punya rumah?” cetus Langit langsung berdecak kesal.
“Om Soleh pernah bilang ke Jingga, kalau om Langit itu anak buangan, jadi om gak punya rumah,” kata Jingga dengan polos nya, seketika membuat mata Langit membola dengan mulut menganga lebar.
‘Damttt!’ umpat nya dalam hati mengutuk salah satu teman nya yang sangat laknat sejak dulu.
__ADS_1
“Jingga gak mau tinggal di apartemen. Karena Jingga kesepian di sana,” imbuh Jingga membuat Langit langsung menghela nafas nya dengan kasar.
“Baiklah, kita pindah ke rumah ku.” Kata Langit pada akhirnya.
“Rumah om, apa rumah papa mertua?” tanya Jingga lagi yang membuat Langit lagi lagi menghela nafas nya kasar.
“Terserah apa kata kamu!” ucap Langit frustasi, ia merasa begitu frustasi namun juga lega karena Jingga sudah bisa membuat darah tinggi nya naik lagi.
“Om gak ada cita cita buat gendong Jingga gitu?” tanya Jingga lagi ketika Langit hendak bangkit dari tempat duduk nya.
“Astagfirullah!” Langit mengusap wajah nya dengan kasar, ia berusaha untuk sabar dan tetap bersikap lembut kepada Jingga, namun ternyata begitu sulit, “Ayo,” kata nya lagi dan dengan cepat Jingga langsung loncat dan menemplok ke punggung Langit.
“Terimakasih,” bisik Jingga begitu lirih di telinga Langit, seketika membuat tubuh Langit menegang hebat.
Bukan karena posisi kepala Jingga berada di ceruk leher nya, namun ia merasa seperti mendengar suara yang berbeda dari Jingga. Bukan, itu bukan seperti suara Jingga, tapi ....
__ADS_1