
Setelah melewati hari panjang, kini Langit dan Jingga sudah kembali ke rumah. Dengan sangat antusias Jingga membuka barang belanjaan nya satu persatu.
Lagi lagi, ia kembali teringat, setiap kali dirinya dan bunda pulang shoping, pasti keduanya akan sangat antusias membuka tas belanjaan itu satu per satu. Dan yang paling membuat Jingga bahagia adalah, ketika ia melihat wajah sang ayah yang begitu senang mendapatkan barang baru dari Jingga dan bunda.
"Kamu belanja sebanyak ini buat aku?" tanya Langit mengerutkan dahi nya, ia baru saja selesai mandi. Dan ketika ia keluar, ia sudah melihat kamar nya penuh dengan pakaian pria.
"Huuh, Jingga kasihan sama mas Langit. Jingga jadi keinget sama alm. Ayah dulu. Ayah gak pernah sempet buat beli baju, jadi bunda dan Jingga lah yang selalu belanja setiap bulan untuk ayah. Dan sekarang, Jingga mau mengurus segala kebutuhan mas Langit!" seru Jingga bersorak senang, ia langsung bangkit dari tempat tidur dan menghampiri Langit yang masih berdiri mematung di depan pintu kamar mandi.
"Sini deh Mas." Jingga menarik tangan Langit dan mengajak nya duduk di atas tempat tidur.
Jingga begitu antusias mengepaskan pakaian satu demi satu ke tubuh suaminya. Sementara Langit, ia hanya diam mematung menatap Jingga dengan sangat lekat.
Baru kali ini, ia merasa di perhatikan sampai sejauh itu. Dan Langit merasa sangat terharu dengan semua sikap Jingga padanya. Meskipun terkadang, istrinya itu begitu manja, bar bar, ceroboh dan kekanak-kanakan. Namun ternyata ia juga bisa dewasa dan memberikan perhatian lebih seperti ini pada Langit.
Sangat jauh dari ekspetasi Langit selama ini tentang Jingga.
__ADS_1
"Suka gak?" tanya Jingga tersenyum lebar menatap Langit.
Seolah tersadar, Langit langsung menganggukkan kepala nya dan ikut tersenyum. Membuat hati Jingga begitu lega dan puas.
"Nanti aku akan mengganti uang kamu." tutur Langit menyentuh tangan Jingga.
"No no no!" Jingga menggelengkan kepala nya, "Jingga gak mau di ganti uang!" imbuh nya, karena uang yang Jingga miliki masih lumayan cukup, baginya.
"Lalu?" tanya Langit kembali mengerutkan dahi.
"Oh ya, itu kotak kotak apaan? kok ada yang pink juga?" tanya Jingga lagi dengan sedikit memiringkan kepala nya agar bisa melihat kembali beberapa kotak di belakang Langit.
"Kotak?" Langit yang tidak tahu menahu pun ikut mengerutkan dahi dan bingung.
"Ituuu!" Jingga kembali menunjuk kotak itu hingga membuat Langit langsung membalikkan tubuh nya dan menatap ke arah dimana jari Jingga menunjuk.
__ADS_1
"Jangan jangan tadi mas Langit nyusul ke Mall karena mau kasih Jingga kado itu ya?" tanya Jingga memekik bahagia, "Jingga buka ya!" imbuh nya, ia pun segera turun dari tempat tidur dan berlari kecil untuk mengambil kotak tersebut.
Satu
Dua
Tiga
Dengan sangat tidak sabaran, Jingga membuka kotak berwarna pink dengan pita dan hiasan di atas nya.
'Selamat berbuka puasa!'
Jingga mengerutkan dahi nya ketika menemukan sebuah kartu ucapan yang berada di dalam kotak tersebut.
"Memang nya Jingga lagi puasa? kok di kasih ucapan selamat?" tanya Jingga berbalik sebentar menatap Langit, namun hanya sekilas lalu ia kembali fokus untuk membuka barang nya.
__ADS_1
Sementara itu Langit yang sudah merasakan adanya ke ganjalan aneh dalam hati nya. Hanya bisa pasrah dan berusaha tegar untuk menghadapi segala hal yang akan terjadi. Langit sudah menduga dan yakin bahwa Gery dan Maxim akan memberikan nya kejutan. Namun ia tidak tahu bahwa kejutan nya akan jauh lebih gila dari ekspetasi nya.