Langit Jingga

Langit Jingga
CHAPTER 7


__ADS_3

Langit kalut bukan main hari itu. Ia mencoba melacak Jingga kuliah di mana. Langit bertekad untuk menemukan Jingga.


Di kamarnya, Langit sedang membaca surat dari Jingga yang tadi sempat ia ambil dari Ayudia.


"*Halloo... Mr. Arogant. Hehehe... kalau udah baca surat ini kayaknya gue udah pergi ya... hahaha... maap gak cerita sama lo. Gak sempet. Sibuk gue. Asek, belagu banget ya gue? Hahaha...


Langit, gue pergi ya... gue bukan mau menjauh dari lo. Tapi sedang menyiapkan diri untuk masa depan gue. Yang mungkin jika kita jodoh akan dipertemukan dengan cara yang indah.


Jangan cari gue. Jangan tunggu gue. Kita jalanin hidup kita masing-masing ya.


Jikalau Langit menemukan perempuan yang kamu cintai selain aku, silahkan untuk mengikat janji suci dengannya. Kenapa? Karena akupun akan seperti itu. Kita move on sama-sama ya, Lang...


Kalau ditanya sayang, aku sayang sama kamu. Tapi aku tau, ini belum saatnya untuk bertemu. Aku percaya dengan keajaiban Tuhan*. 🙂


*Jangan sedih Langitku


Karena aku akan sendu


Cerialah Langitku


Karena aku mencintaimu


Makasih Langit. Maaf, sudah buat hatimu goyah. Sehat terus ya*... 😉


*Aku mau bilang ini sekaliii aja.


I Love You, Langit*." Surat dari Jingga untuk Langit.


Setelah membaca surat itu, pecah sudah tangis Langit. Kamar yang rapi kini disulap menjadi kapal pecah. Betapa bencinya dia pada dirinya sendiri.


Yang telah menyia-nyiakan perempuan yang mencintainya dan lebih memilih perempuan yang entah kapan Langit bisa menyanyanginya.


Langit putus hubungan dengan Ayudia dan ditinggal pergi oleh Jingga. Ini akibat dari keserakahannya yang berdalih tak ingin menyakiti Ayudia dan tak ingin melepaskan Jingga.


Untuk Ayudia mungkin jika Langit memintanya untuk kembali, ia akan berjalan menghampiri.


Tapi, Jingga?? Langit meminta Jingga kembali? Jingga justru bukan jalan menghampiri tapi jalan menjauh. Langit harus berjuang untuk Jingga jika ia benar-benar mencintainya.


******


"Lang, hati-hati di jalan ya bro. Berkabar kalau udah sampe New York." Ucap Fahri yang mengantar keberangkatan Langit ke New York.


"Fokus, Lang! Tata hati dan masa depan lo." Ujar Daffa.


"Thanks brotherr... doakan yang terbaik aja." Ucap Langit yang memberikan salam perpisahan mereka.


"Lo juga Jun. Hati-hati. Jepang banyak godaannya lebih parah dari NY." Ujar Langit kepada Juna.


"Hahaha... kampret ! Lo juga samanya, cumi." Ucap Juna dengan candanya kepada Langit.


Hari itu Langit bersiap berangkat untuk kuliah di New York sesuai permintaan Papi dan Maminya. Ia berangkat bersama dengan sekertaris pribadi orang tuanya. Karena orangtuanya sudah berangkat terlebih dahulu ke NY.


*****


INCHEON AIRPORT


"Jinggaaa..." Sapa Kak Manda salah satu Kakak Kelasnya yang berkuliah di Seoul University. Hanya beda fakultas dengan Jingga.


"Kak Mandaaa..." Jawab Jingga dengan melambaikan tangannya kepada Manda.


"Yaampun... kangen banget sama kamu, Ngga..." Ujar Manda yang memeluk Jingga.


"Jingga juga kangen banget sama Kak Manda." Ucapnya yang menyambut pelukan Manda.


"Gimana kabarmu, Ngga?" Tanya Manda sembari membantu Jingga membawa koper-kopernya.


"Alhamdulillah, baik Kak. Kak Manda sendiri gimana kabarnya?" Tanya Jingga.


"Alhamdulillah baik. Gue yakin banget dari awal. Kalau lo tuh pasti bakalan lolos ke Universitas ini." Ujar Manda.


"Kerja keras tak membohongi hasil, kan Kak?" Ucap Jingga dengan senyumnya.


"Jinggaa... aku beneran kangen ngobrol bareng sama kamu. Sekarang, let'sgo to our home." Ucap Manda dengan semangat dan dijawab dengan anggukan oleh Jingga.


*****


"Ngga, maaf ya. Tempat tinggalnya seadanya. Hehehe..." Ujar Manda.


"Masya Allah, Kak... kayak gini seadanya? Buat Jingga ini lebih dari cukup." Ucapnya dengan melingkarkan tangannya di pundak Manda.


"Jingga dikasih izin tinggal bareng sama Kakak aja udah seneng banget dengan fasilitas yang luar biasa. Jingga senanngg... sekali Kak. Makasih banyak ya, Kak..." Sambung Jingga kembali.


"Sama-sama adek kesayanganku... aku seneng banget. Beneran deh. Jangan sungkan untuk meminta apapun ya. Katakan saja. Kak Manda akan senang jika kamu bicara jujur, Ngga." Ujar Manda.


"Siap 'Ndan!! Hehe..." Ucap Jingga dengan candanya.

__ADS_1


Intermezzo sedikit tentang Manda. Manda ini adalah salah satu siswi tercerdas di Sekolah Merah Putih, lebih tua dari Jingga. Sudah sekitar 3 tahun Manda tinggal di Seoul.


Manda itu perempuan yang cukup agamis. Ia menutup auratnya dengan berhijab yang menutup semua bagian tubuh.


Manda mengambil jurusan Pendidikan atau lebih tepatnya "Department of Education" untuk S1 nya. Sedangkan Jingga mengambil jurusan "Foreign Language Education Groups (English Language Education).


Manda itu dulu waktu sekolah senang sekali membuat puisi atau karya tulis bersama Jingga. Itu kenapa Manda senang bertemu Jingga. Karena mereka mempunyai hobi yang sama.


Jingga juga senang sekali berbincang dengan Manda. Karena Manda bisa diajak bertukar ide, banyak bercerita tentang karya tulis cerpen, puisi atau novelnya.


Selama 3 tahun Manda tinggal di Negeri Gingseng. Ia tinggal di sebuah mini apartment yang mungkin kalau di Indonesia sebutannya kost-kostsan.


Tadinya Manda tinggal bersama dengan temannya yang berasal dari Singapore. Tapi karena temannya atau lebih tepatnya kakak kelasnya sudah lulus, jadilah ia tinggal sendiri selama beberapa bulan. Hingga Jingga datang menemaninya.


Manda termasuk anak dalam golongan kaum berada jika ia mau tinggal di apartment mewah di Seoul, ia bisa. Hanya saja, Manda bukan tipe orang yang bangga akan status kemewahannya.


"Kak, biasanya kalau libur gini, Kakaka ngapain?" Tanya Jingga yang sambil mengaduk green tea nya.


"Aku bikin materi baru buat bantu-bantu dosen. Hehehe..." Ujarnya sambil menaruh semangkuk nasi dengan taburan rumput laut kering dan telur ceplok setengah matang kesukaan Jingga.


"Gamshamnida..." Ucapnya setelah Manda memberikan semangkuk nasi dan telur ceplok untuknya.


"Ne, cheonman." Ujar Manda dengan seulas senyumnya.


"Ngga, aku tadi kaget banget lho lihat kamu sekarang berjilbab gini. Seneenngg..." Ucapnya sambil menjulurkan kedua tangannya dan da da ke Jingga. Karena mereka duduk bersebrangan.


"Hahaha... Alahamdulillah Kak Mand. Aku niatin untuk berhijab. Insya Allah istiqarah ya. Doakan. Amin. Hehehe..." Ujar Jingga dengan senyum sumringahnya.


"Pasti. Kita sama-sama saling support ya." Ucap Manda.


"Iya dong... aneh ya Kak lihat aku berjilbab? Hehehe..." Tanya Jingga dengan cengiran kudanya.


"Enggak kok. Makin cantik malah. Eh, ntar kita jalan-jalan yuk. Mumpung kamu masih punya waktu buat keliling Seoul. Aku jadi tour guide deh. Gimana?" Tanya Manda.


"Okay !!" Jawab Jingga dengan senyum pasta giginya.


*****


"Den, Mbok udah masakin tumis tahu - tauge. Den Langit mau makan sekarang?" Tanya Mbok Mar yany diboyong oleh keluarga Brawijaya ke New York.


Mbok Mar ini sudah lama menjadi ART di rumah keluarga Brawijaya. Langit justru lebih dekat dengan Mbok Mar daripada orangtuanya sendiri.


Yang tau karakter Langit luar - dalam ya... Mbok Mar ini. Bahkan kisahnya tentang Langit & Jingga Mbok Mar juga tau.


Langit yang mengenal Jingga dan Langit yang ditinggalkan Jingga, sangat berbeda 180°. Langit yang bersama Jingga begitu ceria. Begitu perhatian dan ramah.


Mbok Mar bersama dengan adiknya Mbok Sum. Keduanya hanya hidup berdua. Karena orangtua mereka dan keluarga mereka sudah tidak ada. Kakak-adik yang menjanda dan khusyuk bekerja di keluarga Brawijaya.


"Iya, Mbok. Tolong bawa ke atas aja ya." Ujar Langit yang tengah sibuk dengan benda persegi elektroniknya itu.


"Baik, Den Langit." Jawab Mbok Mar.


*****


Saat itu Langit sedang disibukkan dengan persiapannya untuk terjun langsung ke kantor Papinya. Maminya sedang sibuk menjajakan brand fashion perusahaannya di Negeri Cinta, Prancis.


Langit bertekad untuk menyemangati dirinya dengan menyibukkan kegiatannya di kampus dan kantor Papinya. Seperti yang sekarang ia lakukan.


Tak heran jika Papi Langit begitu bangga dan senang dengan kemampuan Langit dalam Perusahaan. Hanya saja saat berkomunikasi dengan koleganya, Langit masih menyerahkan kepada Pak Tomi sang Sekertaris.


Lain Langit, lain Jingga. Jingga saat ini tengah disibukkan dengan kegiatan kampusnya. Ia sibuk mencari side job untuk menambah ekonomi hidup.


Meski tempat tinggal gratis bersama dengan Manda, namun, Jingga tetap tak ingin membebani Manda. Ia selalu membeli keperluan sehari-hari untuk mereka.


*****


3 Tahun kemudian: 2012


Saat ini Jingga juga melamar menjadi salah satu asisten dosen di kampusnya. Tidak mudah untuk menjadi asisten dosen di sana. Karena IPK Jingga harus di atas 3.5 dan konsisten selama beberapa semester IPK tersebut tidak boleh turun. Kalau naik, sudah pasti boleh.


IPK Jingga mampu menembus angka 3.8 nyaris cumloud jika Jingga tidak disibukkan dengan novel online nya. Jingga senang sekali menulis. Ia termasuk salah satu novelis online yang cukup banyak fansnya.


Sama halnya dengan Manda. Ia juga seorang penulis. Bedanya, Manda menulis di media cetak seperti majalah korea yang versi bahasa inggris. Kehidupan Jingga di Korea cukup padat. Sengaja dipadatkan.


Kenapa???


Mengalihkan rasa rindu...


******


"Jinggaaa..." Panggil Manda dari dapur.


"Iyaaa, Kak..." Jawabnya dari dalam kamarnya.


"Ayooo cepetaaann..." Pekik Manda yang sudah telat karena harus berangkat pagi.

__ADS_1


"I'm done. Ayo, ayo." Jawab Jingga yang keluar kamarnya.


Ketika sampai di luar pintu apartemen, Jingga teringat ada yang tertinggal.


"Astagfirullah..." Ucapnya yang menepuk dahinya.


"Kenapa deh?" Tanya Manda bingung.


"Handphone sama notebook aku ketinggalan." Ujarnya yang langsung berlari masuk kembali ke apartemen.


"Ya, Allah... Jingga, Jingga, masih muda udah pikun." Ucap Manda yang hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala.


"I'm back." Ujarnya dengan senyum sumringah kepada Manda. Manda hanya tertawa melihatnya.


Pagi itu mereka sudah sampai Bandara Incheon. Karena mereka mendapat tawaran menjadi freelance di sebuah majalah Korea Selatan.


Mereka mendapat tugas meliput tempat-tempat wisata di New York. Awalnya Jingga ragu untuk mengambil pekerjaan tersebut.


Tapi akhirnya Jingga ambil pekerjaan tersebut demi menambah uang saku. Lagipula akomodasi dan penginapan sudah ditanggung oleh pihak perusahaan.


"Ngga, winter kan libur panjang. Kamu pulang ke Indonesia gak?" Tanya Manda.


"Belum tau, Kak. Soalnya Mr. George mau ada seminar di Busan. Aku bingung..." Jawab Jingga yang sambil memonyongkan bibirnya.


"Penting yang mana?" Tanya Manda.


"Dua-duanya penting." Jawab Jingga.


"Ya, yang diprioritaskan yang mana?" Tanya Manda kembali.


"Keluarga lah... tapi aku lagi ngumpulin dana buat balik ke Indonesia." Jawab Jingga.


"Ohh... gitu. Terus endingnya gimana?" Tanya Manda.


"Aku tetep ke Busan kayaknya, Kak. Ikut Mr. George seminar. Soalnya beberapa power pointnya udah Jingga bikin." Jelas Jingga.


"Ohh... ok lah. Enaknya kamu aja gimana, Ngga." Sahut Manda.


Mereka memasuki pesawat tujuan New York tersebut. Perjalanan yang cukup panjang. Kurang lebih 13 jam mereka di dalam pesawat. Akhirnya mereka sampai di Bandara Internasional JFK (John F. Kennedy), New York.


*****


"Masya Allah... Ini New York?" Tanya Manda yang begitu kagum dengan pemandangan malamnya.


"Ya, Allah... indahnya... kota yang tak pernah tidur ini" Ucap Jingga yang menganggumi lampu malam yang berkelip indah.


"Insomnia apa, Ngga? Gak pernah tidur." Ujar Manda dengan candanya..


"Hahaha... bodoamat, Kak." Ucap Jingga dengan tawanya.


Manda dan Jingga segera menuju hotel mereka yang jaraknya tak jauh dari Central Park. Mereka berdua menata pakaian dari koper-kopernya.


"Kak Mand, Jingga mau mandi duluan ya. Lengket badannya. Gak enak." Ujar Jingga kepada Manda yang tengah disibukkan dengan penataan pakaiannya.


"Idih, stres kau. Emang gak dingin apa? Gue aja masih menggigil gini. Lo lagi mau mandi." Ucap Manda yang hanya mendapat cengiran dari Jingga.


Setelah Jingga dan Manda selesai bersih-bersih, mereka memutuskan untuk berkeliling ke Central Park sekedarnya. Untuk menjadi bahan tulisan mereka berdua.


Mereka senang sekali bekerja pada sebuah perusahaan yang membantu ekonomi mereka dalam bertahan hidup di KorSel. Udah diirit-iritin padahal tapi namanya juga kebutuhan. Ada aja perlunya.


Manda baru saja menyelesaikan kuliah S1 nya di SNU (Seoul National University) dengan kualitas IPK yang sangat memuaskan.


Tapi karena masih ada kontrak kerja dengan perusahaan majalah tersebut jadi ia meneruskan tinggal di kost-kostsan bersama dengan Jingga.


Sekaligus menemani Jingga menyelesaikan urusan wisuda S1 yang sembari ia juga sedang mendaftar untuk S2 nya atas rekomendasi dari Mr. George.


Tak mudah memang untuk pencapaiannya. Kalau bukan karena karakter perempuan tangguh, mereka mungkin belum sanggup untuk mencapai kelulusan kurang dari 3 tahun.


Jingga sudah mengurus wisudanya. Jadi waktu luangnya cukup banyak hingga ia menerima pekerjaan paruh waktunya.


"Kak Mand, kalau merindukan orang yang kita sayang, apa salah?" Tanya Jingga dengan tatapan nanarnya yang duduk di Central Park tersebut.


"Ngga, mending di halalin aja. Kayak aku sama Mas Rizki. Kamu tau kan kisahnya aku sama Mas Rizki?" Ujar Manda kepada Jingga.


"Itu kan karena Om Rizki lagi ada tugas di luar Negeri yang jelas sudah mencintai Kak Manda seorang. Walaupun lautan membentang dan beda benua tapi status kalian kan suami-istri." Terang Jingga.


"Ngga, itu semua tergantung dari diri kita masing-masing. Aku cukup menegaskan kepada suamiku Mas Rizki. Bahwa aku ingin segera dihalalkan. Jika hanya sekedar dekat dan tanpa kejelasan hubungan, aku tidak mau. Kamu perlu Ngga, punya sikap tegas seperti itu." Jelas Manda.


"Emang kamu sayang banget ya, Ngga? Sama Langit?" Tanya Manda.


Tak ada jawaban dari Jingga. Hanya tundukan wajah dan isak-tangis yang terdengar samar oleh Manda. Manda mendekatinya dan memeluk Jingga.


Ia tau bahwa hampir setiap di sepertiga malamnya, Jingga menangis dengan berdoa memohon kuatkan hati untuk rindunya.


*****

__ADS_1


"Terkadang, menahan rindu itu perlu. Supaya tau, betapa pentingnya orang tersebut."


"Orang sebangsat gue?"


__ADS_2