
Hari itu Langit disibukkan dengan urusan wisuds kampusnya dan kedatangan sahabat lama SMAnya.
Juna dan Fahri sedang dalam perjalanan menuju New York. Mereka mendapat telepon dari Langit bahwa mereka mendapat sebuah project bersama Langit yang akan mereka kerjakan bersama.
Langit menjemput mereka di bandaara JFK (John F. Kennedy). Mereka bertegur sapa, saling berbincang ringan, hingga mencapai pada obrolan gesrek mereka.
"Big Boss... baru sampe... asek..." Ujar Juna.
"Ah, berisik lo cumi. Hahaha..." Ucap Langit.
"Apa kabar lo?" Tanya Fahri kepada Langit sembari memeluk dan menepuk keras punggungnya sambil berjabat tangan ala anak muda.
"Alhamdulillah, baik bro. Lo sendiri gimana? Jakarta aman? Haha..." Tanya Langit sambil berjalan bersama sahabatnya menuju mobil.
"Aman, Insya Allah." Jawab Fahri dengan senyum lebar giginya.
"Lo sendiri gimana, Big Boss? Udah move on? Hahaha..." Tanya Juna dengan candanya.
"Kampret !! Di bully mulu gue dari tadi." Jawab Langit dengan bersungut.
"Hahaha... masih aje luh berkutik di nostalgia lu." Ujar Juna.
"Gini nih, Jun. Azab seorang playboy. Ahahaha..." Ucap Fahri kepada Langit.
"Wah... sue !! Luh pada !!" Ujar Langit yang sudah sungutan amarahnya.
"Azabnya di tinggalin dengan segudand rindu. Ahahaha..." Ucap Juna dengan tawa bahagianya.
"Udah?!! Puas?!! Reseh luh pada." Ujar Langit yang memonyongkan bibirnya.
"Lo mikirin apa lagi sih, Lang?? Cewek di sini banyak. Lo tinggal tunjuk, tinggal pilih. Lo mau yang mana. Kenapa masih kesangkut sama yang dulu?" Tanya Juna kepada Langit yang tengah sibuk dengan ponselnya.
"Karena yang dulu problemnya belum tuntas. Makanya move on nya gak tuntas. Hahaha..." Ujar Fahri.
"Saking gak tuntasnya, tuh rambutnya gondrong kayak preman kampung rambutan. Hahaha..." Ucap Juna dengan candanya.
"Ini ngetrend coy... lagi booming." Ujar Langit dengan rambut panjang cepolnya.
"Iya aja dah gue mah biar cepet." Ucap Juna.
"Lang, lo masih sayang banget sama Jingga ya?" Tanya Fahri yang kemudian merubah celaannya menjadi topik yang mengungkap luka lama.
"Bohong kalau gue bilang enggak." Jawab Langit dengan tatapan nanarnya memandang langit jingga kala itu yang terbentang di Central Park.
"Gue dapet kabar dari Bila. Katanya Jingga kuliah di Korea Selatan. Di Universitas Seoul. Lo udah tau?" Tanya Juna kepada Langit yang mendudukkan dirinya di rerumputan dan merebahkan tubuhnya disana.
Mereka bertiga tak langsung ke hotel. Juna dan Fahri ingin langsung berjalan-jalan. Salah satunya Central Park.
"Iya. Udah." Jawab Langit singkat.
"Aneh, kalo lo gak tau, Lang. Laler lo di mana-mana (Spy maksudnya)." Sahut Fahri.
"Iye. Termasuk elo." Sahut kembali Juna dan tertawalah mereka bertiga.
"Tapi cerits lo yang jadian sama Jingga waktu SMA tuh sampe sekarang masih jadi perdebatan anak-anak satu angkatan Lang. Koplak gak tuh. Hahaha..." Ujar Fahri.
"Tauk. Gak penting banget pokok bahasannya. Lo doang yang dibahas sama Jingga. Ada yang bilang lo jadian. Ada yang bilang lo gak jadian. Ada yang bilang HTS'an. Ada juga yang bilangnya pedes kayak cabe rawit. Selingkuhannya Langit Jingga tuh. Parah dah..." Jelas Juna P x L. 😑
"Hahaha... serius?? Sampe segitunya?" Tanya Langit yang tak percaya sama sekali dirinya akan menjadi topik se-booming itu.
"Parah !! Gue aja sampe bosen dengernya. Gak yang laki, gak yang perempuannya Langit sama Jingga mulu yang dibahas. Ampun, ampun." Jawab Fahri dengan gelengannya.
"By the way, sejauh apa lo tau kabarnya Jingga, Lang?" Tanya Juna.
"Sejauh hubungan lo sama Nabila. Hahaha..."Jawab Langit dengan tertawa puas.
"Bodoamat, Lang. Gue sama Bila gak ngapa-ngapain juga." Ujar Juna dengan mencibikkan bibirnya.
"Emang lo mau ngapain Nabila, Jun? Waahh... gak bener nih... Hahahah...." Sahut Langit dengan candaannya.
"Sue !! Udah bisa ngebales doi cuy." Ujar Juna yang mengaduh kepada Fahri.
"Lo mamam dah tuh Jun. Hahaha... Big Boss dilawan." Ucap Fahri.
"Terus para dedek gemes lo gimana, Fah kabarnya?" Tanya Langit yang tersenyum meledek.
__ADS_1
"Sial !! Gue kena celaannya juga lagi." Ucap Fahri dengan wajah menunduknya..
"Hahaha... Langit gak bisa dibully sekarang cuy..." Ujar Juna dengan tawa lepasnya diiringi oleh Langit dan Fahri.
"Iyalah, gue punya pertahanan diri. Hahaha..." Jawab Langit yang tertawa lepas.
Saat itu Fahri melihat sosok perempuan yang mirip sekali dengan Jingga. Bedanya, yang ini berjilbab.
"Eh, eh, cuy, itu Jingga bukan sih?" Tanya Fahri yang menunjuk perempuan memakai long dress merah marun dengan balutan jilbab sedadanya dan tas punggung hitamnya.
Sontak membuat Juna dan Langit ikut melihat dan memperhatikannya.
"Bukan ah. Ngaco luh, Fah." Ucap Juna.
"Emang Jingga berjilbab sekarang?" Tanya Fahri kepada keduanya temannya.
"Gue gak tau. Bila gak pernah cerita soal itu ke gue." Sahut Juna.
Langit masih memperhatikan perempuan tersebut sejak tadi. Tak lepas pandangannya terhadap perempuan tersebut. Sampai ia yakin bahwa itu Jingga adalah, dari gelang mungil berwarna hijau Langit sendiri yang mengukir nama L & J. Inisial nama mereka.
"Itu Jingga." Ujar Langit dengan wajah terkejutnya.
"Lo juga samanya Lang... jangan ngaco apa." Jawab Juna.
Juna baru percaya ketika Manda memanggil Jingga yang sedang asyik melukis langit sore itu.
"Jingga !" Panggil Manda.
"Ngga, ini keren deh. Tapi bagus buat background apa mendingan buat cover?" Tanya Manda yang saat itu sedang memotret kondisi langit.
"Kayaknya cover deh, Kak. Warna kece banget. Sayang kalau dibuat background." Ujar Jingga.
Langit, Juna dan Fahri terkejut bukan main. Gimana gak terkejut. Sudah hampir 4 tahun mereka tak bertemu. Sekarang dipertemukan di sudut Benua Amerika. Negeri Paman Sam yang menjadi saksi antara Langit dan Jingga.
"Samperin cuy..." Ucap Fahri kepada Langit.
"Tapi kok kayaknya Jingga lagi sedih ya..." Ucap Juna yang melihat Jingga terduduk di rerumputan sehabis melihat potret langit jingga.
"Kok nangis?" Tanya Fahri yang masih memperhatikannya.
"Yak ilah, lo Jun. Gegayaan bae tau rindu." Jawab Fahri dengan khas bahasa betawinya.
"Terkadang menahan rindu itu perlu. Supaya tau betapa pentingnya orang tersebut.
"Orang sebrengsek gue?" Jawab Langit yang sejak tadi hanya mendengarkan percakapan sahabatnya.
"Brengsek itu kalau lo gak nyamperin doi." Ujar Fahri.
"Itu lebih brengsek cakeeep..." Sahut Juna.
"Lha, kok lebih brengsek? Gak ngerti gue." Ujarn Fahri.
"Ya, iyalah. Brengsek. Orang disamperin doang gak di kasih status buat apaan." Ucap Juna sambil memonyongkan bibirnya.
"Tapi kan udah di kasih hati sama Langit dari dulu. Hehehe..." Ujar Fahri dengan tawa riangnya.
"Eh, Lang. Woy, lo mau kemana?" Tanya Juna yang memanggilnya.
"Wah... ribet nih urusan." Ujar Juna.
"Lo sih, Fah. Jangan ngomong gitu harusnya. Maju kan tuh dia. Udah tau lagi labil." Ucap Juna dengan bersungut.
"Ya emang kenapa deh? Kan sekedar nyapa aja." Ujar Fahri dengan wajah polosnya.
"Iya, buat lo sekedar nyapa. Lha, buat doi mah nyapanya pake hati. Gak bagus luh..." Sahut Juna yang masih senewen dengan sikap Fahri.
Mereka masih berdebat dengan menyapa Jingga atau pura-pura gak lihat. Sedangkan Langit duduk mendekat kepada Jingga. Ia mendengar semua percakapa Jingga dengan Manda.
"Udah ya, Ngga... lo kok setiap lihat langit dengan jingganya pasti sesenggukan gini. Gue sedih kalau lo kayak gini terus. Lupain, Jingga... ingat tujuan utama lo." Ujar Manda yang memeluk pundak Jingga dan menyemangatinya.
"Langit... hiks hiks..." Jingga sudah tak mampu berkata. Saking rindunya dia kepada Langit.
Langit yang mendengarnya sakit sekali hatinya. Hingga terasa tersayat. Mendengar dan melihat Jingga menangis sesenggukan seperti itu.
"Jun, Fah, bilang ke gue kalau gue harus samperin dia." Ujar Langit yang sudah tak tahan lagi ingin bertemu Jingga.
__ADS_1
"Tahan, Lang. Doi masih butuh waktu." Ucap Juna.
"Jun, lo gak lihat. Dia..." Langit tak sanggup berkata. Ia terduduk lemas karena tak tahan dengan perasaannya yang begitu menggebu merindukan Jingga.
"Lang, apa yang dibilang Juna benar. Kalian berdua perlu waktu. Kalau lo muncul sekarang, lo justru malah membuat goyah hatinya." Jelas Fahri kepada Langit.
"Gue gak tahan Fah, Jun. Lo lihat dong... tangisnya, gak sanggup gue dengernya." Ucap Langit yang mengusap wajahnya dengan kasar.
"Gue tanya sama lo, Lang." Ujar Juna.
"Kalau lo samperin Jingga, lo mau ngapain? Lo punya apa buat dia? Lo mau kasih apa ke dia?" Tanya Juna yang memegang pundak Langit meyakinkannya kembali.
"Gue tau Lang, ini berat. Tapi lo harus totalitas. Kalau mau jadi cowok brengsek. Brengsek sekalian. Jangan tanya kabar, jangan dekati, jangan PHP (pemberi harapan palsu). Itu hati Lang... bukan taman bermain." Terang Juna.
"Lang, lo berdua masih muda. Kita masih muda. Nikmatin deh rasa-rasa rindu bukan kepalang ini. One day, lo bakalan punya cerita buat hidup lo, keluarga lo, anak-anak lo tentang rindu. Biarkan Jingga seperti ini. Gue percaya Lang, Jingga itu perempuan yang tangguh. Dia pasti bisa kok buat bertahan. Percaya deh." Jelas Fahri.
"Tumben Fahri bener." Ujar Juna dengan senyum lebarnya.
"Sue !! Emang gue sebego itu apa?!!" Ucap Fahri yang mencibikkan bibirnya.
Saat itu perkataan sahabatnya ada benarnya. Langit dan Jingga butuh waktu untuk mengeksplore lebih dalam tentang perasaannya. Langit juga tidak ingin merusak planning Jingga yang akan meneruskan S2 nya. Ia akan tetap menunggu Jingga. Hingga ia menuntaskan cita-citanya.
Flashback On
Di Danau Dekat SMA Merah Putih
"Lang, cita-cita lo apa?" Tanya Jingga yang membuyarkan lamunan Langit.
Langit tak menyangka Jingga akan menanyakan hal tersebut untuknya. Yang bahkan Langit tak tau cita-citanya apa.
"Gak tau." Jawabnya singkat
"Yee... ghoib." Ujar Jingga.
"Kok ghoib?? Emang gue setan."
"Mending setan daripada lo." Jawab Jingga dengan tawa sumringahnya.
"Sial !! Kalah pamor gue sama setan." Sahut Langit dengan senyum sumringahnya.
"Si kampret. Sama setan aja cemburu. Hahaha..." Ucap Jingga dengan tawa riangnya.
"Emang cita-cita lo apa?" Tanya balik Langit ke Jingga.
"Mau kuliah S1, S2, S3 dan lulus di usia yang masih muda. Mau jadi penegak pendidikan di Indonesia terutama buat anak-anak. Wuiidih... keren ya. Keceh... di Aminkan dong... Amin...." Ujar Jingga yang semangat sekali ketika bercerita tentang cita-citanya.
Langit yang mendengarnya menjadi terpicu untuk menemukan keinginan terbesarnya apa. Ia tak mau kalah dengan Jingga. Laki-laki harus punya sebuah pencapaian untuknya. Malu sama harga diri. Batin Langit.
"Woy, diem aja. Lagi mikir ya? Mau nerusin cita-cita waktu kecil. Jadi Polisi atau ABRI? Hehehe..." Ujar Jingga yang mengagetkan Langit dari lamunannya.
"Enggak. Gue pengen punya perusahaan yang berpengaruh buat kemajuan dunia." Ucap Langit dengan percaya diri.
"Beeuuh... orang bisnis mah beda. Bagus. Buat lapangan pekerjaan berarti. Tapi pesen gue satu, Lang." Ucap Jingga.
"Jangan cari dari covernya. Tapi lihat skill dan hatinya. Kalau bekerja dengan hati, pasti kerjaan lebih seru dan asyik. Lihat skill juga, karena itu salah satu kunci orang hebat." Ujar Jingga.
"Thanks for your advice." Jawab Langit dengan senyumnya
"Anytime." Ucap Jingga dengan cengiran kudanya.
Flash Back Off
*****
Langit ingat seketika dengan percakapannya. bersama Jingga kala sore setelah pulang sekolah waktu mereka masih memakai putih abu-abu.
"Jingga berkeinginan kuat untuk mencapai cita-citanya. Saat ini Jingga sedang berjuang. Aku harus tahan hingga kami memang sudah saling memantaskan. Sabar ya, Ngga. Kita berjuang bersama." Ucap Langit dalam hatinya.
Saat itu Jingga dan Manda kembali ke hotel. Karena lelah telah berkeliling Central Park. Langit, Juna dan Fahri pun kembali ke apartment Langit yang jaraknya tak jauh dari Central Park.
******
hidup itu perlu tujuan
supaya tau bahwa kau pernah menikmati dunia
__ADS_1
******