
“Langit?” panggil seorang laki laki yang seumuran dengan Langit dan teman teman nya, sehingga membuat ketiga lelaki dewasa itu langsung membalikkan tubuh dan menatap seseorang tersebut.
“Woahh, aku gak nyangka, kalau pada akhirnya kamu kembali ke Indonesia,” ucap nya lagi, lalu ia menghampiri Langit dan teman teman nya.
“Iya, aku sudah cukup lama di Indonesia,” jawab Langit menganggukkan kepala nya dan membalas jabatan tangan laki laki tersebut.
“Sebentar,” ucap lelaki itu, lalu ia menghampiri makam orang tua Biru dan memanjatkan doa sebentar, sebelum akhirnya kembali menghampiri Langit dan yang lain nya yang sudah berjalan mendahului ke parkiran.
“Aku gak nyangka, bahwa om Faris akan pergi secepat ini.” ucap lelaki itu menghela nafas nya sedikit berat.
“Sepertinya kamu sangat dekat dengan beliau?” tanya Langit mengerutkan dahi, karena sejak tadi lelaki di depan nya terus memuji dan menceritakan keseharian Faris.
__ADS_1
“Aku dan om Faris udah jadi rekan lebih dari sepuluh tahun Lang. Aku telat menghadiri pemakaman ini karena aku juga baru datang dari luar kota,” jawab nya menghela nafas berat, “Aku kasihan dengan Jingga. Ah iya, dimana Jingga? Aku tidak melihat nya sejak tadi?”
“Hemm, Kamu sudah bertemu dengan nya bukan?” tanya nya lagi menatap Langit dan yang lain nya.
“Bukan hanya bertemu, tapi juga—aduhhh!” pekik Gery mengaduh kesakitan ketika kaki nya langsung di injak oleh Maxim.
“Dia cantik, baik dan juga periang. Hanya saja, di balik semua itu, banyak tersimpan duka dan kekecewaan. Om Faris sering bercerita padaku tentang kesehatan tante Elsa.”
“Kau menyukai Jingga?” tuduh Langit tiba tiba hingga membuat ketiga orang itu langsung menatap ke arah Langit.
“Aku harus pulang! Permisi!” ucap Langit tiba tiba pamit lebih dulu karena ia kembali teringat oleh Jingga yang ternyata sudah di antar pulang sejak tadi oleh Raihan.
__ADS_1
“Nat, saran ku jangan bahas Jingga di depan dia, dia lagi sensi dan lagi bingung. Jangan pernah bahas lagi,” saran Maxim datar.
“Bener Nat, dulu kamu sudah hampir merebut Biru. Dan jangan sampai kamu merebut Jingga dari nya.” Imbuh Gerry, kepada lelaki itu yang tak lain dan tak bukan adalah Nathan.
Teman sekaligus mantan musuh Langit cs semasa sekolah dulu.
“OH ayolah, kalian masih berfikir aku—“
“Sudahlah Nat, kami harus pamit juga. Oh iya, satu hal lagi,Langit dan Jingga ada hubungan, jadi jangan dekati Jingga. Ingat umur!’ kata Gery menatap Nathan sekilas lalu segera pergi bersama Maxim.
Sementara itu, Nathan yang di tinggalkan begitu saja, hanya bisa menghela nafas nya kasar dan menggelengkan kepala nya. Ia tak habis pikir bahwa dunia memang ini memang sangat sempit. Setelah Langit tidak mendapatkan Biru, kini ternyata ia akan mendapatkan Jingga. Dan pada akhirnya memang Langit dan keluarga Faris tidak akan terpisah.
__ADS_1
Nathan kembali mengingat ingat percakapan nya dengan Faris beberapa tahun yang lalu, yang mengatakan bahwa Faris ingin bertemu dengan Langit, syukur syukur bisa menjadi mertua lelaki itu. Meski hanya candaan, namun tetap saja, hingga kini Nathan terus terngiang. Sebelum pulang, ia melihat sekali lagi arah makam Biru dan orang tua nya yang berada tak jauh dari tempat nya berdiri saat ini.
‘Keinginan om Faris terwujud. Langit sudah datang,” gumam Nathan dalam hati seraya tersenyum getir.