
...~Happy Reading~...
Hari berganti hari, kini tanpa terasa sudah satu minggu Jingga berada di rumah sakit. Namun, keadaan Jingga masih tetap sama. Bukan lika fisik yang ia derita, melainkan psikis. Langit pun sudah mendatangkan psikiater terbaik selama Jingga berada di rumah sakit, namun Jingga sama sekali tidak mau menjawab apapun. Ia masih terdiam dan membisu.
Hari ini, akhirnya Langit memutuskan untuk membawa Jingga pulang ke rumah nya. Karena ia khawatir bila Jingga terlalu lama di rumah sakit, bukan sembuh melainkan semakin down.
"Sayang... makan ya?" Langit mencoba untuk menawarkan kepada Jingga, namun wanita itu masih saja terdiam dengan sejuta lamunan nya.
"Mau minum?" kata Langit lagi, namun ekspresi Jingga masih sama.
__ADS_1
Bila di rumah sakit, Jingga tidak mau makan atau minum, tapi masih mendapatkan asupan dari cairan infus. Sementara di rumah, bila ia tidak makan maka pasti akan membuat tubuh Jingga semakin sakit nanti nya.
"Jingga mau di peluk," gumam Jingga dengan sangat lirih, membuat Langit tersenyum karena pada akhirnya ia mendengar kembali suara istri nya.
Langit segera. meletakkan piring nya di atas meja. Ia merangkak naik ke tempat tidur dan bersiap memeluk sang istri.
Sudah hampir dua minggu Langit tidak memeluk istri nya. Dan kini, ketika Jingga yang meminta, maka tak segan segan dirinya memberikan pelukan yang sangat erat.
"Jangan nangis," gumam Langit ketika mendengar suara isak tangis dari istri nya.
__ADS_1
"Apa kamu percaya dengan Takdir? garis tangan? atau cinta sejati. Apakah kamu yakin, bila kita mengenal lebih dulu, kita bisa akan selalu bersama? apakah kamu yakin bahwa kita bisa menikah seperti sekarang?" tanya Langit membuat Jingga seketika terdiam dalam tangis nya.
"Jingga, takdir Tuhan, tidak ada yang tahu. Setiap manusia tidak bisa menggaris jalan cerita nya sendiri. Tapi Tuhan sudah menggariskan nya sejak kita terlahir di dunia ini. Jingga, meskipun kita dulu saling mengenal. Atau bahkan kamu yang berada di posisi Biru saat dulu, kita tidak akan pernah tahu apakah kamu bisa merubah sifat ku. Bukankah papa pernah bercerita padamu tentang masa lalu ku?"
Jingga menganggukkan kepala nya, sambil sesekali masih terisak walau tanpa air mata.
"Tidak bisakah kamu menerima takdir kita?" tanya Langit dengan mengusap air mata Jingga, "Tuhan sengaja mempertemukan aku dengan Biru lebih dulu, agar aku bisa menjadi yang lebih baik lagi sebelum bertemu kamu. Karena Biru hanya ingin yang terbaik untuk adik nya. Meskipun aku bukan yang terbaik, tapi aku yakin Tuhan mempertemukan kita bukan tanpa alasan. Dan tentu saja salah satunya karena Biru."
"Jangan membenci nya lagi. Dia hanya masa lalu ku, dan kamu masa depan ku. Tidak akan ada yang bisa memisahkan kita."
__ADS_1
Jingga pun semakin terisak hingga membuat Langit lagi lagi memeluk tubuh Jingga. Ia terus membiarkan Jingga menangis sampai hatinya terasa lega.
"I love you, Cup." Langit mengecup kening Jingga cukup lama, membuat Jingga merasa begitu nyaman dan benar benar di cintai. Ia merasa bodoh dan bersalah karena sudah termakan kompor meleduk dari siluman babi. Andai saja dirinya tidak mudah percaya, dan bisa menguatkan hatinya. Tentu semua tidak akan terjadi.