
Langit mengepalkan tangan nya dengan sangat erat ketika tahu bahwa dirinya ternyata di bohongi oleh Jingga. Lagi dan lagi dirinya merasa di permainkan oleh anak SMA.
"Kamu!" Langit menunjuk ke arah Raihan yang berdiri tepat di samping Jingga, "Segera masuk kelas!" imbuh nya datar.
"Tapi Pak, saya—"
"Se ka rang!" ucap Langit dengan tegas dan dingin.
"Raihan, jangan pergi!" kata Jingga menahan tangan Raihan karena merasa takut ketika melihat raut wajah langit yang sepertinya sangat murka padanya.
"Sorry Jingga, kamu yang udah bangunin singa tidur. Jadi kamu juga yang harus nidurin lagi," bisik Raihan lalu ia kembali melirik ke arah Langit.
"Sa—saya pergi!" imbuh nya lalu segera berlari kencang meninggalkan ruang UKS.
"Raihan sialan!" pekik Jingga menatap marah pada teman nya yang begitu penakut.
"Berani kamu mengerjai ku hem?"
__ADS_1
"Hehehe maaf Om, Jingga gak sengaja. Beneran deh, Jingga beneran sakit. Cuma kan tadi itu Jingga gak enak sama Om dan juga malu di lihatin banyak temen temen Jingga. Makanya Jingga nekat—"
"Cara kamu salah!" seru Langit membentak Jingga.
"Maaf, kan Jingga udah minta maaf." cicit Jingga lirih.
Pluk!
"Pakai itu!" ujar nya datar seraya melemparkan sebuah kaos kepada Jingga.
Langit hanya mendengus dan tidak menjawab pertanyaan Jingga. Pertanyaan yang sangat bodoh menurut nya, bagaimana bisa ia bertanya padahal sudah jelas Langit memberikan nya kepada Jingga. Apa harus perlu di tanyakan lagi? batin Langit kesal.
"Cieee, om perhatian banget sih sama Jingga. Ah jangan jangan om udah mulai ada rasa yang tak biasa, gitu ya Om?" goda Jingga sambil menyanyikan sedikit lirik lagu yang di populerkan oleh Mikha Tambayong.
"Cepat ganti pakaian mu!" suruh Langit kembali berdecak, "Baju basah seperti itu masih di pakai? kamu mau pamer bola kembar atau mau menggoda laki laki tadi!" cetus nya kesal.
"Dih, menggoda. Ngapain menggoda Raihan, dia mah berondong. Jingga kan suka nya sama yang udah mateng, biar lebih—"
__ADS_1
"Berisik!" dengan cepat, Langit langsung membungkam mulut Jingga dengan jari telunjuk nya, matanya masih menatap tajam pada sosok Jingga yang semakin hari semakin menyebalkan bagi nya.
Tapi, entah mengapa satu hari saja ia tidak mendengar ocehan Jingga, ia merasa sedikit aneh. Hari hari nya terasa begitu sepi dan garing. Maka dari itu, ia sengaja kembali ke sekolah, untuk melihat Jingga dan taman bunga tentu nya.
"Om, mending bungkam nya pakai bibir deh Om, daripada pakai tangan," kata Jingga dengan polos, "Om gak mau gitu ambil firskiss nya Jingga?"
"Astaghfirullah!" gumam Langit begitu pelan, lalu ia segera menarik kembali jari nya dari bibir Jingga.
"Om, tau gak sih kalau Jingga tuh kesepian? om tau gak kalau Jingga pengen—"
"Aku gak perduli! cepet ganti baju kamu, sebelum sakit mu semakin parah!" ucap Langit dengan cepat memotong ucapan Jingga.
Tak ingin berlama lama, akhirnya Langit memilih untuk keluar dari ruangan Jingga dan segera bergegas menuju taman bunga.
Sementara Jingga, yang melihat Langit pergi begitu saja, hanya mampu mendengus dan tersenyum getir.
Ya, memang nya siapa Jingga, mengapa dirinya berharap bahwa Langit akan perduli? ia mentertawakan kebodohan nya sendiri. Padahal, ia hanya ingin mengatakan bahwa dirinya begitu kesepian, dan kehadiran Langit lah yang mampu membuatnya kuat dan melupakan kesedihan nya.
__ADS_1