
Mendengar ada yang memanggil namanya, sontak Langit langsung menjauhkan tangan dan mata nya dari Jingga. Begitu pun dengan Jingga juga langsung berusaha bersikap seperti sebelum nya.
“Ngapain kamu disini?” tanya Langit begitu kesal, karena merasa di ganggu.
“Bukankah kamu yang menyuruh ku kemari?” tanya nya berdecak, “Sebagian sudah ku kirim ke rumah mu. Dan sebagian masih proses packing!” imbuh nya dengan menghela nafas lelah.
“Om Soleh jualan? Kok sudah di kirim dan packing, jualan dimana? Atau om kurir nya?” tanya Jingga menatap Gerry dengan polos.
“Hey bocah, jaga mulut! Ini semua gara gara suami kamu itu yang pemalas!” saut Gery tak terima kala di katakan sebagai kurir atau pedagang online.
“Aku menyuruh Maxim, bukan kamu!” jawab Langit sambil kembali melanjutkan memakan makanan nya.
“Dan Maxim ngelimpahin ke aku!”
“Kalau begitu kamu protes ke Maxim, bukan padaku!” jawab Langit lagi, lalu tanpa sadar tangan nya terulur untuk menyuapi Jingga yang sejak tadi tertawa melihat perdebatan nya dengan Gery.
__ADS_1
“Sabar Om, sabar,” kata Jingga menahan tawa nya sambil mengunyah makanan dari Langit.
Meskipun hati Gery begitu gondok dan kesal terhadap Langit, namun ia juga bersyukur karena setelah sekian lama ia bisa kembali melihat sosok Langit seperti dulu lagi. Ia juga banyak bertukar kabar dengan Maxim, bahwa kini Langit sudah semakin banyak perubahan sejak bersama Jingga.
“Oh ya Lang, kapan kamu mau mengesahkan pernikahan kalian?” tanya Gery mengalihkan pembicaraan.
“Sedang ku urus,” jawab Langit dengan santai.
“Tunggu, di sah- in maksud nya kaya gimana?” tanya Jingga yang merasa kurang mengerti dengan arah obrolan dua laki laki dewasa di depan nya.
“Untuk di daftarkan ke KUA. Kemarin kita menikah hanya pernikahan sirih, di atas kertas. Kalau misal nanti aku kenapa kenapa, kamu tidak akan bisa menuntut ku. Terlebih kalau aku meninggal nanti, kamu tidak akan mendapatkan hak mu sebagai istri ku,” jawab Langit seketika membuat Jingga terdiam.
Wajah yang semula nya terlihat ceria dan sumringah, kini tiba tiba menjadi sangat pucat. Tangan nya berubah menjadi sangat dingin, dan nafas nya seolah tercengat di tenggorokan.
Meninggal, hanya satu kata yang tidak ingin Jingga dengar. Ia tidak mau mendengar kata kata itu lagi. Sudah cukup ayah dan bunda nya yang pergi meninggalkan nya untuk selama lama nya, ia tidak mau lagi bila harus di tinggal oleh Langit.
__ADS_1
“Jingga, kamu kenapa?” tanya Gery mengerutkan dahi, seketika membuat Langit langsung mengalihkan perhatian nya menatap Jingga.
Dan benar saja, ia sudah melihat bagaimana tubuh Jingga yang sudah sedikit bergetar dengan di sertai cairan bening memenuhi kelopak mata nya.
“Hey, kamu kenapa?” tanya Langit lembut langsung memegang kedua bahu Jingga.
“Ja—jangan tinggalin Jingga,” gumam nya lirih dengan sedikit bergetar, Jingga mengepalkan kedua tangan seraya menggigit bibir bawah nya, masih menatap Langit dengan perasaan campur aduk.
“Siapa yang mau ninggalin kamu?” tanya Langit lalu ia menghela nafas nya berat, “Ini hanya perumpamaan. Memangnya kamu gak mau kita menikah secara resmi?”
“Tapi Jingga gak suka kata kata Mas tadi!” seru Jingga dan kini air matanya lolos membasahi pipi nya, “Kenapa perumpamaan nya harus seolah nanti mas meninggal. Jingga gak mau, Jingga gak suka. Udah cukup ayah sama bunda aja yang meninggal, Jingga gak mau kehilangan lagi hiks hiks.”
Langit segera menarik tubuh Jingga dan memeluk nya, mengusap bahu nya dengan lembut dan tanpa sadar sesekali ia mengecup kepala Jingga dengan sangat perhatian. Dan semua perlakuan Langit kepada Jingga, tak lolos dari pandangan Gery. Ia semakin lega dan bersyukur karena ia bisa melihat ketulusan di mata Langit.
‘Semoga kamu benar benar bisa move on dari Biru,’ gumam Gerry dalam hati.
__ADS_1